Rasisme pun Hadir di Sepakbola Israel

Berita

by Frasetya Vady Aditya

Frasetya Vady Aditya

Penyunting. Jangan terkekang; sepakbola cuma cangkang. Kontak: vady.aditya@gmail.com

Rasisme pun Hadir di Sepakbola Israel

“Saya Salim Tuameh; semua orang mengenal siapa saya, dan saya jelas bukan seorang teroris. Sembilan puluh persen teman saya adalah Yahudi, dan saya bangga dengan tempat saya berasal. Ini bukanlah waktunya untuk memulai pertarungan semua ucapan rasis dan nyanyian yang melawan ku, yang telah menjadi bagian dari budaya di lapangan sepakbola.”

Tuameh, adalah kapten tim Bnei Lod yang berlaga di Liga Israel. Ia memutuskan untuk bicara setelah Asosiasi Sepakbola Israel, IFA, memutuskan untuk memanggil klub Maccabi Tel Aviv. Pemanggilan tersebut karena IFA ingin meminta penjelasan dari klub terkait perilaku buruk suporter yang kedapatan melakukan nyanyian rasisme dan perilaku buruk, kala menghadapi Hapoel Haifa, akhir pekan lalu.

Wasit yang memimpin pertandingan, Liran Liani, menulis dalam catatan pertandingannya bahwa suporter Maccabi mulai meneriakkan “Tuameh adalah teroris”.  Insiden ini hadir di tengah perhatian atas rasisme di Israel karena di dua pertandingan sebelumnya, suporter Bnei Yehuda dan Beitar Jerusalem meneriakkan kata-kata yang kurang lebih sama. Hal tersebut mengantarkan kedua tim tersebut ke dalam sanksi.

“Aku menonton pertandingan Maccabi Tel Aviv menghadapi Kirya Shmona di televisi. Lewat itu, Anda bisa mendengar satu hal: ‘Salim Tuameh adalah teroris’. Anda duduk menyaksikannya bersama teman-teman yang kebanyakan adalah Yahudi, dan keluarga. Anda tidak tahu harus berbuat apa, dan itu memalukan,” tutur Tuameh.


Salim Tuameh (Sumber gambar: Ynetnews.com)

Nyanyian rasis tersebut nyatanya terjadi tidak saat Bnei Lod bertanding. Namun, hampir di setiap pertandingan Maccabi, sering terdengar nyanyian tersebut. Tuamah mengungkapkan, situasi yang ada di Israel amatlah sensitif. “Ini yang membuat kita mesti berusaha lebih keras melawan rasisme,” lanjut Tuameh.

Tuameh merasa ini ada alasannya karena warna kulitnya yang gelap serta ia merupakan keturunan Arab. Selain itu, Tuameh adalah bekas pemain Hapoel Tel Aviv yang hijrah ke Bnei Lod pada musim lalu.

“Mereka menyanyikan lagu-lagu yang memusuhiku selama bertahun-tahun di tiap pertandingan yang dilakoni Maccabi. Akhirnya, wasit seperti Liran Liani menulis hal ini dalam laporannya. Ini (seharusnya) bisa dilakukan di tiap pertandingan. Lantas, mengapa mereka mesti menunggu hingga saat ini?”

Tujuh tahun lalu, Maccabi Tel Aviv pun dipanggil ke komite disiplin. Penyebabnya karena ada nyanyian rasis kala menghadapi Hapoel. Objeknya? Tuameh.

Pemilik Maccabi, Loni Herzikovich berargumen bahwa nyanyian tersebut amatlah mengerikan. Ia menyebutnya “tidak ada tempat dalam masyarakat Israel, tapi itu bukan nyanyian rasis.

Tuameh sendiri menolak klaim tersebut. “Jika bukan nyanyian rasis, lantas apa? Nyanyian tersebut telah menjadi bagian dari pengalaman sepakbola israel, sebuah bagian yang telah menjadi budaya. Aku tidak mengerti pada para pengamat, wasit, dan ofisial, yang hingga saat ini gagal untuk menuliskannya dalam laporan mereka.”

Tuameh sendiri berhadap pesepakbola Israel turut bersama-sama untuk mengakhiri fenomena tersebut. “Rasisme telah mengambil sepakbola kita. Ini waktu yang tepat bagi para pemain senior untuk melakukan sebuah aksi. Hasutan ini akan menggiring kita ke tempat yang gelap.”


Surat permohonan maaf dari fans Maccabi Tel Aviv (Sumber gambar: ynetnews.com)

Sementara itu, seorang fans Maccabi mengirimkan surat permohonan maaf atas perilaku rekan-rekannya di atas tribun. Ia mengaku malu atas hal tersebut dan meminta mereka untuk menghentikan nyanyian tersebut.

Bagi Tuameh, ia mungkin tak masalah dengan nyanyian tersebut, toh ia juga bukan teroris. Namun, yang paling memalukan adalah keluarganya mesti mendengar nyanyian buruk tersebut. Belum lagi rekan-rekannya yang sebagian besar adalah Yahudi. Ya, nyanyian rasis adalah hal yang mengerikan, sekaligus memalukan.

Disadur dari: Ynetnews.com

Sumber gambar: Mirror.co.uk

Komentar