The England DNA ala FA vs Argumen Bantahannya

Berita

by Frasetya Vady Aditya

Frasetya Vady Aditya

Penyunting. Jangan terkekang; sepakbola cuma cangkang. Kontak: vady.aditya@gmail.com

The England DNA ala FA vs Argumen Bantahannya

Asosiasi Sepakbola Inggris, FA, mengeluarkan sebuah laporan yang diarahkan untuk mencetak para pemain kelas dunia. Cetak biru tersebut merupakan metode untuk program jangka panjang “winning England teams”.

“The England DNA adalah titik awal untuk pembentukan dalam pendekatan kepada pengembangan pemain untuk mencapai kemenangan tim Inggris,” ujar FA dalam pernyataan di laman resminya, Kamis (4/12) lalu.

Kerangka dari cetak biru tersebut terdiri dari lima elemen: “Who we are”, “How we play”, “the Future England Player”, “How we coach”, dan “How we support”.

Pedoman secara rinci menjabarkan tentang luas jangkauan dari elemen di dalam dan di luar pengembangan pemain di setiap tingkat dalam sistem di Inggris. Pemain diharapkan lebih mengenal konsep England DNA, menghargai pemain terdahulu, tradisi, serta berperilaku dan memiliki tanggung jawab sosial. Pemain Inggrus juga mesti menghasilkan permainan yang lebih baik dan menegakkan pentingnya diri mereka bagi tim nasional.

“ada dua atau tiga hal kunci di sini. Satu buat kami untuk memiliki identitas yang jelas bagaimana kami ingin para pemain dan tim kami bermain,” ujar Direktur Pengembangan FA, Dan Ashworth seperti dikutip EuroSports. “St. George’s Park (fasilitas latihan Inggris) telah memberikan kita kesempatan untuk membawa semuanya ke dalam satu rumah. Jadi semua pelatih dapat bekerja dalam satu tempat pusat latihan.”

Kunci yang ketiga adalah kolaborasi dan bergabung dengan klub. FA berharap tiga kunci tersebut dapat memberkan harapan dan secara positif dapat meningkatkan jumlah pemain Inggris dengan kualitas yang lebih baik.

Timnas Inggris telah meraih gelar juara dunia pada 1966. Namun, sejak 1990 mereka tak pernah lagi melangkahkan kaki hingga babak semifinal. Kemunduran ini yang membuat FA terus berbenah menyusun silabus dalam program jangka panjang ini.

Tak berselang lama, tanggapan negatif pun muncul dari blog The Hairdryer. Mereka punya tujuh alasan mengapa program tersebut tak akan jalan.

Pertama, Inggris bukanlah negara yang punya pemain bertalenta. Ini yang membuat Inggris harusnya mengerti bahwa mereka tak akan menghasilkan pemain terbaik. Meskipun dilatih 12 jam sehari tetap saja, jika tak ada bakat ya akan percuma.

Kedua, soal Liga Primer Inggris. Selama Liga Inggris tidak memasukkan kepentingan tim nasional, maka timnas Inggris akan turut kesulitan. Misalnya, bagaimana cara mereka mencari penyerang handal selain Wayne Rooney, karena hampir semua pos penyerang dihuni pemain asing. The Hairdryer  menginginkan reformasi terhadap aturan liga jika ingin mendapatkan kesuksesan di masa mendatang.

Ketiga, permainan terbaik dibangun atas dasar insting. Ini yang menyinggung pada faktor pertama. Alexis Sanchez, Sergio Aguero, dan Diego Costa, bisa disebut sebagai pesepakbola jalanan, dulunya. Insting yang natural dipadukan dengan arahan pelatih membuat mereka menjadi luar biasa. Lain halnya saat melatih mereka yang tak punya bakat. Hasilnya malah mengubah pemain menjadi robot.

Faktor keempat yakni menempatkan sepakbola sebagai olahraga yang menyenangkan. Jadi biarkan sepakbola berjalan apa adanya ketimbang mengubahnya sebagai transaksi bisnis. Kelima, England DNA memanggil pemain dari tim U-15 hingga tim senior. Ini yang menurut The Hairdryer di luar logika. Pasalnya, pemain usia 15 tahun ke atas umumnya sudah bergabung dan berlatih bersama klub. Lantas, mengapa FA mau mengubah teknik dan pola latihannya?

The Hairdryer pun menunjukkan lemahnya logika FA. FA sempat menghklaim bahwa ini bukan tentang performa di atas lapangan, tapi “pembelajaran pemain dan lifeskills”. Mereka pun bertanya, “Kalau bukan soal performa di atas lapangan, lantas apa?”

Faktor yang terakhir dikritik secara keras oleh The Hairdryer. Mereka mengaku bosan dengan segala omong kosong soal lima elemen dalam kerangka dasar tersebut. Mereka beranggapan lima kerangka dasar seperti “Who we are, how we play, the future England player, how we coach dan how we support"  adalah omong kosong belaka. “Apa maksud dari semua itu?” tanya The Hairdryer dalam blognya di Euro Sports.

Jadi, dapatkah rencana FA tersebut membuahkan hasil? Atau malah terpuruk seperti yang diucapkan The Hairdryer?

Disadur dari: eurosport.com

Sumber gambar:  huffpost.com

Komentar