Borussia Dortmund, Bir, dan Pesta Natal

Berita

by Taufik Nur Shidiq

Taufik Nur Shidiq

Writer (Oct 2014 - Mar 2016); Editor (Nov 2017 - Nov 2018)

Borussia Dortmund, Bir, dan Pesta Natal

Seburuk apapun kondisi yang sedang mereka alami saat ini, Ballspielverein Borussia Dortmund tetap memanfaatkan momentum bulan Desember untuk mengucap syukur kepada Yang Maha Kuasa. Pada Selasa (2/12) lalu, pihak klub menggelar pesta Natal bersama para pendukung setia mereka. Namun, berhubung Dortmund sedang mengalami kondisi terburuk sejak 2007, para suporter yang datang mendapatkan perlakuan istimewa dari pihak klub.

Setelah menjalani sesi pemberian tanda tangan selama dua setengah jam lamanya, para bintang Dortmund seperti trio kapten Mats Hummels, Marco Reus, dan Roman Weidenfeller pindah ke belakang bar. Di sana mereka tidak duduk dan berfoto seperti di sesi sebelumnya, saat mereka beramah tamah dengan para pendukung yang menginginkan tanda tangan dan foto bersama.

Trio kapten bersama para pemain lainnya seperti Ilkay Gundogan dan Nuri Sahin berada di belakang bar untuk menjadi pelayan bagi para suporter. Sebagai klub yang menempatkan para suporter di posisi yang sangat penting (tidak ada pemain yang boleh mengenakan nomor punggung 12 di Dortmund karena nomor itu hanya milik suporter), Dortmund memperlakukan para suporter yang datang ke pesta Natal dengan cara menyajikan bir untuk mereka semua.

Sebuah perlakuan yang memang sewajarnya dilakukan oleh pihak klub, mengingat melihat klub kesayangan berada di posisi terbawah jelas bukanlah sesuatu yang menyenangkan untuk para pendukung Dortmund. Terlebih lagi jika klub yang bersangkutan adalah klub raksasa yang mampu menggoyang dominasi FC Bayern München di Bundesliga hingga berhasil menantang klub yang sama di partai puncak kejuaraan Eropa.

Dengan cara mentraktir mereka minum bir, Dortmund berusaha mengembalikan rasa bahagia dalam diri setiap pendukungnya. Sembari melepas dahaga, bir menghapus rasa kecewa. “Bir adalah bukti bahwa Tuhan mencintai kita dan ingin agar kita merasa bahagia,” kata Founding Father Amerika, Benjamin Franklin.

Kalaupun tujuan untuk membuat para suporter merasa bahagia tidak dapat terpenuhi, setidaknya Dortmund telah berhasil mencapai fungsi sosial dari pesta Natal: mempertemukan para pemain dan para suporter dengan cara minum bersama.

Benar memang, tidak ada aktivitas yang lebih baik untuk saling mengenal selain makan bersama. Namun jamuan makan malam bukan jawaban karena masyarakat Jerman lebih akrab dengan bir. Sulit menemukan orang Jerman yang tidak menyukai bir karena bir adalah kultur dari masyarakat Jerman itu sendiri.

Budaya minum bir sudah sedemikian mengakar dalam budaya masyarakat Jerman sehingga larangan meminum bir di stadion sepakbola tidak mungkin diterapkan. Padahal, stadion-stadion di Jerman nyaris selalu terisi penuh sehingga resiko terjadinya kekacauan cukup tinggi, terlebih lagi jika alkohol ambil bagian.

Toh, pada kenyataannya, suporter di Jerman tetap boleh meminum bir di pertandingan sepakbola. Sedalam itu pula budaya minum bir mengakar di Jerman.

Komentar