Conte dan Energi yang Terbuang Sia-Sia di Timnas Italia

Berita

by Taufik Nur Shidiq

Taufik Nur Shidiq

Writer (Oct 2014 - Mar 2016); Editor (Nov 2017 - Nov 2018)

Conte dan Energi yang Terbuang Sia-Sia di Timnas Italia

Sudah lebih dari dua bulan berlalu sejak Antonio Conte dipercaya menjadi pelatih kepala tim nasional Italia. Sejak menduduki jabatan barunya sebagai juru taktik Gli Azzurri, baru empat kali Conte memimpin pasukannya bertanding. Padahal, semasa menangani Juventus dahulu, empat pertandingan adalah jumlah laga yang ia tangani dalam satu bulan. Itupun di Serie A saja.

Conte merasakan adanya kepadatan jadwal yang berbeda di level klub dan tim nasional. Karenanya, ada gaya kerja yang juga harus ia ubah. Kepada FIFA, dalam sebuah wawancara eksklusif, Conte menceritakan pengalaman barunya.

“Saya harus bekerja dengan cara yang berbeda. Di level klub, para pemain dapat ditemui setiap hari. Hal tersebut menjamin kontinuitas. Namun bersama La Nazionale, sebaik-baiknya Anda dapat bekerja dengan para pemain selama delapan atau sembilan hari,” ujarnya.

Conte juga menambahkan bahwa walaupun jadwal kerja sebagai pelatih kepala tim nasional terlihat tidak padat, tekanan besar adalah makanan sehari-hari. “Anda dapat memaksimalkan kemampuan yang Anda dapatkan semasa melatih di level klub, tapi Anda masih tetap akan merasakan banyak tekanan dan karenanya Anda harus memiliki kemampuan untuk menghadapi situasi penuh tekanan,” kata Conte.

Apa yang baru disadari oleh Conte sudah lama diketahui oleh José Mourinho. Karenanya, sosok yang disebut-sebut pernah menolak posisi manajer tim nasional Inggris tersebut belum mau melatih tim nasional walaupun menduduki peran tersebut adalah salah satu rencana karirnya.

“Saat karir saya masih panjang saya tidak ingin menjadi manajer tim nasional. Saya tidak memiliki kualitas untuk menjadi manajer tim nasional karena manajer tim nasional harus beradaptasi terhadap fakta bahwa ia bermain satu bulan sekali dan ia melatih satu bulan dua kali dan saya tidak dapat melakukan itu. Saya tidak mampu beradaptasi terhadap rutinitas itu sehingga pekerjaan ini bukan untuk saya,” kata Mourinho dalam sebuah wawancara eksklusif dengan Yahoo.

Mourinho merasa bahwa dirinya masih terlalu bertenaga untuk menjabat posisi pelatih tim nasional. Semangatnya untuk melatih setiap hari, untuk menjalani dua pertandingan dalam seminggu masih terlalu tinggi. Mourinho masih haus gelar. Ia ingin mengerahkan energinya untuk meraih banyak gelar juara sebelum terjun ke dunia kepelatihan tim nasional yang “membosankan”.

“Pekerjaan ini cocok untuk saya ketika saya ingin menyudahi karir saya; pekerjaan ini cocok untuk saya ketika saya menyadari bahwa saya membutuhkan sedikit istirahat namun untuk saat ini saya ingin melatih, saya ingin bertanding. Saya ingin bermain di banyak kejuaraan dalam satu waktu; saya ingin bertanding setidaknya tiga hari sekali. Saya menginginkan Liga Champions, saya menginginkan liga, saya menginginkan semuanya. Menunggu dua tahun untuk Piala Dunia atau Piala Eropa bukanlah pekerjaan yang cocok untuk saya. Saya tidak dapat melakukannya sekarang,” tutup Mourinho.

Terlepas dari kesan membosankan namun tetap penuh tekanan, Conte tetap mencintai pekerjaan barunya. Pembakar semangat Conte tak lain dan tidak bukan adalah para pemainnya sendiri. “Melebihi apapun, semangat dan antusiasmenya,” kata Conte saat ditanya mengenai apa yang ia suka dari pekerjaannya sebagai pelatih kepala tim nasional.

“Pekerjaan ini lebih sulit ketimbang manajemen klub karena Anda memiliki rentang waktu yang lebih sedikit untuk menyampaikan pesan. Saya bersyukur untuk setiap pemain yang menjawab panggilan saya; mereka yang menyediakan waktu dan menunjukkan antusiasme saat merespon apa yang saya inginkan dan menerima pendekatan yang baik,” ujar Conte yang kehadirannya di tim nasional membuat Andrea Pirlo mau membatalkan rencana pensiun.

Proses adaptasi berjalan dengan lancar. Hubungan baik dengan pemain telah berhasil dijalin. Tugas besar selanjutnya untuk Conte adalah menjalin hubungan baik dengan masyarakat Italia. Tidak ada cara lain untuk meraih tujuan itu selain merebut puncak klasemen Grup H Kualifikasi Piala Eropa 2016 yang kini sedang dikuasai oleh Kroasia.

Komentar