Perkembangan Pesat Leverkusen Bersama Xabi Alonso

Analisis

by Muhammad Farhan Yazid

Muhammad Farhan Yazid

Pandit Football Indonesia mengkhususkan pada analisis pertandingan sepakbola, statistik dan liga, juga sejarah perkembangan sepakbola dan evolusi taktiknya

Perkembangan Pesat Leverkusen Bersama Xabi Alonso

Xabi Alonso memberi dampak positif dan signifikan kepada Leverkusen dalam waktu yang relatif singkat. Kala itu, Leverkusen di bawah asuhan Gerardo Seoane duduk di peringkat ke-17 pada pekan kedelapan Bundesliga musim 2022/2023. Tidak ada alasan bagi klub untuk mempertahankan Gerardo. Xabi ditunjuk sebagai penggantinya, lalu 15 bulan kemudian, Leverkusen menjelma menjadi penghalang terbesar Harry Kane meraih gelar liga pertamanya.

Mantan pemain Liverpool tersebut debut dengan kemenangan telak 4-0 atas Schalke. Sayangnya, Xabi justru gagal meraih kemenangan di enam laga selanjutnya. Leverkusen juga harus tersingkir dari Liga Champions dan terdampar ke Liga Europa usai finis di posisi ketiga grup di bawah FC Porto dan Club Brugge.

Xabi Alonso bangkit dengan meraih lima kemenangan beruntun di Bundesliga dan melaju jauh di Liga Europa sampai ke semifinal sebelum dikalahkan AS Roma yang saat itu dilatih Jose Mourinho, mantan pelatihnya di Real Madrid. Di musim perdananya, Xabi berhasil membawa Leverkusen finis di peringkat keenam klasemen akhir Bundesliga 2022-2023, dengan perolehan 50 poin, hasil dari 14 kemenangan, delapan kali imbang, dan 12 kekalahan.

Catatan impresif yang berhasil dilanjutkan di musim ini. Hingga pekan ke-21 Bundesliga, Leverkusen belum menerima kekalahan di semua kompetisi dan berhasil menang atas FC Bayern yang jadi pesaing utama dalam perburuan gelar Bundesliga. Bagaimana cara Xabi membentuk tim yang memecahkan rekor tak terkalahkan di liga terlama dalam satu musim?

Memaksimalkan Potensi Pemain

Sejak kedatangannya pada tahun 2022, Xabi berhasil memoles dan memaksimalkan potensi pemain yang dimilikinya. Walaupun ia hanya dibekali warisan dari pelatih lama. Beberapa pemain andalannya juga ada di performa yang kurang baik saat ia datang. Florian Wirtz misalnya.

Pasca cedera ACL (Anterior Cruciate Ligament), ada kekhawatiran bahwa Wirtz akan sulit kembali ke performa terbaiknya. Pasalnya cedera ini memang sering membuat penyintasnya mengalami penurunan performa secara signifikan. Beberapa pemain juga sulit kembali ke performa terbaiknya setelah terkena cedera ini seperti Radamel Falcao di 2014 silam.

Namun Xabi berhasil mengatasi kekhawatiran tersebut dengan mengembalikan Wirtz ke performa semula. Tak hanya itu ia juga memaksimalkan potensinya. Wirtz yang berposisi asli gelandang serang beberapa kali diminta bermain sebagai penyerang (false 9) dalam formasi 3-4-2-1 andalannya.

Keberhasilan Wirtz dalam menafsirkan permintaan Xabi berhasil menutupi kehilangan penyerang utama Leverkusen, Patrik Schick, yang cedera hingga akhir musim. Statistik Wirtz juga cukup baik di musim 2022/2023 dengan terlibat langsung dalam 12 gol (4 gol dan 8 asis) Leverkusen di 26 laga yang ia lakoni.

Tak hanya Wirtz, Xabi juga memaksimalkan pemain macam Bakker, Adli, dan Frimpong yang bermain lebih nyaman dengan formasi andalan Xabi. Terutama Frimpong yang berhasil menemukan bentuk terbaiknya sebagai wing back kanan andalan Xabi musim ini. Bersama Xabi, Frimpong mengembangkan potensi serangan yang dimilikinya dan membuatnya namanya dikaitkan dengan tim raksasa Spanyol, Real Madrid yang sedang mencari suksesor Dani Carvajal.

Optimalisasi Transfer

Di musim kedua, Xabi mulai menjajaki pemain-pemain yang sekiranya cocok dengan skema permainannya. Ia juga tak segan menjual beberapa pemain untuk menambah modal untuk membeli pemain baru dalam rangka meningkatkan kualitas di beberapa posisi yang vital. Beberapa rekrutannya musim ini juga terbukti optimal dengan langsung berkontribusi terhadap performa Leverkusen musim ini.

Berkat penjualan beberapa pemain seperti Moussa Diaby, Bakker, dan Kerem Demirbay, membuat Xabi lebih leluasa untuk mencari pemain yang sesuai dengan kriteria permainannya yang sudah terbentuk di musim pertama terutama di posisi penyerang. Kehilangan Schick akibat cedera yang cukup panjang membuat Xabi mencari penyerang di bursa transfer musim panas.

Pilihannya jatuh kepada top skor Liga Europa musim lalu Victor Okoh Boniface dari Union St Gilloise dengan nilai transfer sebesar 20 juta Euro. Meski belum teruji, Boniface bisa menjawab keraguan dengan mencetak 16 gol dari 23 pertandingan musim ini. Berkat statistiknya yang impresif bersama Leverkusen, Boniface bahkan sempat diincar beberapa tim top di bursa transfer musim dingin seperti Juventus dan AC Milan.

Selain Boniface yang didatangkan untuk menambal kekurangan di lini depan, Alejandro Grimaldo juga didatangkan untuk menggantikan Bakker yang dijual ke Atalanta. Pembelian Grimaldo dari Benfica dianggap sebagai pencurian terbesar, pasalnya bek kiri asal Spanyol itu langsung jadi pemain kunci tim meski dibeli dengan status bebas transfer.

Kemudian Granit Xhaka dan Jonas Hofmann didatangkan dengan total 25 juta Euro untuk menjadi veteran yang dibutuhkan tim muda yang punya rata-rata usia 24,7 tahun ini. Xhaka yang sempat menjabat sebagai kapten di Arsenal berhasil memenuhi harapan Xabi untuk memimpin tim muda Leverkusen bersaing dengan Die Roten di liga yang telah dimonopoli hampir 20 tahun lamanya. Sedangkan Nathan Tella hadir sebagai rekrutan termahal tim (23 juta Euro) untuk menggantikan posisi yang ditinggalkan Diaby di sisi kanan.

Jika dibandingkan dengan dua musim sebelumnya saat masih ditangani Souane, Leverkusen tak punya perencanaan yang jelas di bursa transfer. Terlebih di musim terakhir Souane bahkan tak terpikir untuk mencari pengganti Leon Bailey yang pergi ke Aston Villa dan Wirtz yang cedera. Sehingga keputusannya berdampak pada penurunan performa tim dan pemecatan dirinya.

Hal tersebut sangat kontras dengan proses rekrutmen Xabi. Para pemain baru yang didatangkan Xabi ini tak membutuhkan waktu yang lama untuk beradaptasi dan langsung bisa membaur serta jadi pemain vital di setiap posisi. Mereka juga menjadi sosok kunci dalam rekor tak terkalahkan yang dibuat Die Werkself musim ini.

Pemahaman Taktik dan Kolektivitas Tinggi

Sejak kedatangannya, Xabi terlihat sudah mempunyai ide dan pakem yang jelas. Hal ini diperlihatkan pada pertandingan debutnya bersama Leverkusen dengan mengganti formasi andalan Seoane 4-2-3-1 ke 3-4-3. Hasilnya terlihat ketika Die Werkself menggulung Schalke dengan skor 4-0 di BayArena. Meski demikian, skema ini belum berhasil diterapkan secara konsisten sebab enam pertandingan berikutnya, Leverkusen menderita rentetan laga tanpa kemenangan. Catatan tersebut menunjukan bahwa ide yang dibawa Xabi memungkinkan untuk diaplikasikan di dalam skuadnya.

Ide dan strategi ini juga yang membuat para pemain baru dengan mudah beradaptasi. Terlebih untuk mengetahui pemahaman para pemainnya, Xabi beberapa kali terjun langsung ke lapangan untuk menyampaikan idenya dengan terlibat memberi contoh ke dalam latihan. Berkat penyampaian ide yang baik, Xabi berhasil memberikan pemahaman yang tepat kepada para pemainnya.

>

Hasilnya terlihat dari Leverkusen yang secara kolektif telah mencetak 55 gol dan hanya kebobolan 14 gol di Bundesliga hingga pekan ke 21 ini. Statistik tersebut menunjukkan bahwa Die Werkself cukup seimbang dalam hal menyerang ataupun bertahan.

Dalam aspek menyerang Leverkusen asuhan Xabi dominan untuk menguasai bola dan memaksimalkan kelebaran. Hal ini pula yang memicu penampilan impresif dua bek sayap utama Leverkusen yaitu Grimaldo dan Frimpong. Keduanya menghadapi lonjakan performa yang cukup signifikan musim ini dalam hal produktivitas gol.

Meski memiliki penyerang baru tajam dalam diri Boniface, Xabi tidak semata-mata membebankan tugas mencetak gol kepadanya. Leverkusen justru menjadi tim kolektif, siapapun bisa mencetak gol. Hal ini pula yang membuat Grimaldo dan Frimpong aktif terlibat dalam proses mencetak gol Die Werkself. Sejauh ini, keduanya sudah mencetak dua digit gol di semua kompetisi. Pemahaman taktik disertai pembagian tugas secara kolektif juga ditunjukkan dalam sebuah klip gol yang melibatkan hampir seluruh pemain.

https://www.instagram.com/reel/C3IfLKyulVr/?igsh=dXQ4aWF1em5hcDF6

Begitu pula dengan aspek bertahan. Xabi coba untuk memberikan pemahaman kepada para pemainnya bahwa bertahan adalah tugas bersama. Berkat hal itu juga yang membuat Leverkusen berhasil jadi tim yang paling sedikit kebobolan dengan 14 gol. Die Werkself juga jadi tim yang paling banyak mengoleksi clean sheet dengan 11 nirbobol dari 21 pertandingan disusul FC Bayern di posisi kedua dengan 9 cleansheet.

***

Perkembangan pesat yang dialami Leverkusen tak lain berkat tangan dingin seorang Xabi. Hanya dalam waktu satu tahun, ia berhasil membuat Neverkusen ada di puncak klasemen di pekan ke-21. Jika berhasil mempertahankan performa hingga akhir musim, bukan tidak mungkin Die Werkself akan memutus julukan Neverkusen yang tersemat kepada mereka sejak tahun 2002. Namun jika kehilangan fokus, bukan tidak mungkin mereka akan bernasib sama dengan Borussia Dortmund di musim 2022/23 lalu.

Komentar