Piala Eropa 2020 dan Kebangkitan Italia

Analisis

by Ikhsan Abdul Hakim

Ikhsan Abdul Hakim

Pandit Football Indonesia mengkhususkan pada analisis pertandingan sepakbola, statistik dan liga, juga sejarah perkembangan sepakbola dan evolusi taktiknya

Piala Eropa 2020 dan Kebangkitan Italia

Roberto Mancini kembali mengangkat martabat Timnas Italia. Ketika ia datang, Gli Azzurri baru saja menjalani salah satu episode paling memalukan dalam sejarah mereka. Di bawah asuhan Gian Piero Ventura, Italia gagal lolos ke Piala Dunia 2018, sesuatu yang terakhir kejadian pada 1958 silam.

Mancini pun mendapat tugas berat ketika mengambilalih kursi kepelatihan pada 14 Mei 2018. Musim perdana UEFA Nations League telah menanti. Gli Azzurri juga menyongsong kualifikasi Piala Eropa yang kali ini tak boleh mereka lewatkan.

Tiga tahun berselang, eks manajer Manchester City itu membuktikan bahwa Timnas Italia sama sekali belum habis. Ketika Mancini datang, Italia menempati peringkat 17 di ranking FIFA, kalah dari Chili dan Swedia. Mereka pun hanya terpaut 14 poin dari Wales. Kini, jelang Piala Eropa, Nicolo Barella dan kawan-kawan ada di peringkat tujuh, hanya kalah dari Spanyol, Portugal, Inggris, Brasil, Perancis, dan Belgia.

Mancini membawa Italia tampil impresif dua tahun terakhir, dengan performa menonjol di kualifikasi Piala Eropa. Tergabung di Grup J, Gli Azzurri memenangi semua pertandingan. Hanya Belgia yang memiliki rekor lebih baik di kualifikasi. Italia mencetak tiga gol lebih sedikit dan kemasukan satu gol lebih banyak dari anak asuh Roberto Martinez.

“Pada Mei 2018 [saat Mancini mengambilalih], saya yakin kami bisa kembali karena tidak ada yang percaya kepada kami,” kata Mancini. Ia benar-benar melakukannya dengan cara yang brilian.

Pada 2019, anak asuh Mancini meraih 11 kemenangan beruntun, memecahkan rekor pelatih legendaris Vitorio Pozzo. Sejak kalah dari Polandia pada September 2018, Italia juga belum terkalahkan dalam 26 pertandingan. Mancini butuh tiga laga tanpa kekalahan lagi untuk menyamai rekor Pozzo yang dicetak pada 1935-1939.

Jelang melakoni partai Piala Eropa di Olimpico, Italia dalam kondisi bagus. Tak berlebihan jika menempatkan mereka sebagai salah satu favorit juara. Turnamen empat tahunan ini akan menjadi ujian sebenarnya bagi anak asuh Mancini. Lawan mereka di fase kualifikasi relatif mudah. Kini, di Grup A Piala Eropa, Gli Azzurri tergabung dengan Turki, Swiss, dan Wales yang berpotensi merepotkan.

Baca juga: Sudah 61 Pemain Keluar-Masuk Timnas Italia di Era Roberto Mancini

Italia Lebih Proaktif di Bawah Mancini

Roberto Mancini mengandalkan formasi dasar 4-3-3 ketika menghadapi pertandingan. Ia menginstruksikan anak asuhnya untuk tampil proaktif dan menentukan tempo laga. Eks pelatih Inter Milan itu meninggalkan permainan stereotipikal Italia yang cenderung fokus kepada soliditas pertahanan dan berupaya menyerap tekanan lawan.

Anak asuh Mancini bermain lebih progresif. Francesco Acerbi dan kawan-kawan cenderung bermain dengan garis pertahanan tinggi dan berupaya merebut bola di area lawan. Dua fullback juga biasa naik ke posisi tinggi untuk menyokong serangan.

Di bawah Mancini, Italia menjelma tim yang berupaya mendominasi pertandingan. Ini tak hanya berlaku ketika Italia menghadapi tim yang lebih inferior. Di UEFA Nations League 2020/21, Gli Azzurri tetap berupaya tampil dominan saat menghadapi tim sekelas Belanda dan Polandia.

Italia mencatatkan rata-rata 60% penguasaan bola saat bertanding di Grup 1 Liga A UNL. Hasilnya, mereka menjuarai grup dengan torehan 12 poin, hasil tiga kali menang dan tiga imbang. Italia memasukkan tujuh gol dan hanya kebobolan dua dari enam pertandingan UNL.

Meskipun lebih agresif, Italia tak melupakan pertahanan solid yang menjadi ciri khas mereka. Rekor pertahanan di UNL adalah salah satu buktinya. Terkini, ketika menjalani tiga partai kualifikasi Piala Dunia, Manuel Locatelli dan kawan-kawan selalu nirbobol dan menang dengan skor 2-0.

Anak asuh Mancini berhasil menjaga keseimbangan dengan baik. Di UNL 2020/21, mereka menjadi salah satu tim yang paling sering mengancam gawang lawan, mencatatkan rata-rata 16,3 tembakan per pertandingan. Di lain sisi, pertahanan tetap rapat, rata-rata hanya kemasukan 7,83 tembakan per pertandingan. Selama Mancini menjabat, Italia mencetak 69 gol dan hanya kebobolan 14 dari 29 laga.

Baca juga: Gli Azzurri Lepaskan Diri dari Era Ventura

Generasi Baru dengan Gelandang dan Winger Mumpuni

Italia telah menetapkan 26 pemain yang dibawa ke Piala Eropa. Emerson Palmieri dan Stefano Sensi yang jarang tampil di level klub tetap dibawa. Mancini juga membuat kejutan dengan memanggil Giacomo Raspadori, penyerang muda yang belum mendapat debut tim senior.

Mancini memanggil lima pemain yang berusia 23 tahun ke bawah. Kebanyakan pemain sedang menapaki usia prima. Mancini memanggil para pemain langganan tim nasional sejak awal masa jabatannya seperti Leonardo Bonucci, Nicolo Barella, dan Federico Bernadeschi.

Di Piala Eropa 2020, Italia memiliki profil lini tengah yang menarik. Gli Azzurri memanggil para gelandang dengan kemampuan teknis dan jangkauan operan yang mumpuni. Gelandang tengah Italia, dari Locatelli hingga Barella, tercatat berperan penting dalam progresi bola di klub masing-masing. Kecuali Sensi yang jarang diturunkan Inter Milan, para gelandang ini juga tampil brilian bagi klub masing-masing pada 2020/21.

Untuk tiga gelandang di sistem 4-3-3-nya, Mancini agaknya akan mengandalkan trio Jorginho, Marco Verratti, dan Barella. Jorginho dapat diandalkan sebagai pivot. Sedangkan Verratti dan Barella kapabel menjadi gelandang penyokong lini serang yang memiliki visi umpan tajam. Namun, Verratti masih cedera dan belum pasti apakah bisa pulih tepat waktu. Jika terpaksa absen, satu ruang yang ditinggalkan Verratti dapat diisi pemain lain.

Sementara itu, Locatelli menjadi penantang serius bagi pos no.6 Italia. Lorenzo Pellegrini dan Bryan Cristante, dengan versatilitas mereka, dapat diandalkan untuk melapisi berbagai posisi. Stefano Sensi pun memiliki daya kreatif yang dapat diandalkan kendati tak mendapat tempat di Inter Milan.

Selain itu, skuad Mancini juga menarik jika meninjau profil pemain sayap mereka. Italia bukanlah negara yang sering memproduksi winger mumpuni. Namun, jelang Piala Eropa 2020, Gli Azzurri justru kelebihan talenta di pos winger. Hasilnya, Matteo Politano dan Vincenzo Grifo tak dipanggil karena surplus pemain di posisi itu.

Lorenzo Insigne masih jadi andalan Napoli dan terus dipercaya Mancini. Federico Chiesa tampil impresif bersama Juventus dan siap menyongsong Piala Eropa. Pemain kenamaan Sassuolo, Domenico Berardi pun akhirnya mendapat tempat di skuad Gli Azzurri.

Insigne merupakan penyumbang asis terbanyak (5) Italia sejak Mancini menjabat. Berardi pun tampil impresif belakangan ini, mencetak tiga gol dari empat pertandingan terkini bersama Timnas Italia.

Italia juga masih memiliki Federico Bernadeschi yang cakap dimainkan di beberapa posisi. Winger Juventus tersebut bisa dimainkan di kedua sayap, sebagai gelandang tengah, atau di pos striker.

Setelah absen di Piala Dunia 2018, kiprah Italia, sebuah tim yang seakan terlahir kembali, patut dinantikan. Lawan Gli Azzurri di Grup A cukup alot, terutama Turki dan Swiss. Dua tim ini dipastikan memberi perlawanan sengit di fase grup. Di Piala Eropa 2020, mampukah Italia mengulangi performa impresif di babak kualifikasi dan UEFA Nations League?

Komentar