Giacomo Raspadori: Penyerang Kecil dengan Talenta Besar

Analisis

by Ikhsan Abdul Hakim

Ikhsan Abdul Hakim

Pandit Football Indonesia mengkhususkan pada analisis pertandingan sepakbola, statistik dan liga, juga sejarah perkembangan sepakbola dan evolusi taktiknya

Giacomo Raspadori: Penyerang Kecil dengan Talenta Besar

AC Milan kalah dari Sassuolo kendati unggul lebih dulu pada 21 April silam. Momok kekalahan mereka adalah seorang striker 21 tahun bernama Giacomo Raspadori. Baru masuk pada menit ke-64, Raspadori memborong dua gol untuk mengunci kemenangan 1-2 untuk Sassuolo.

Brace-nya ke gawang Gianluigi Donnarumma adalah gol keempat Raspadori di Serie A 2020/21. Sejak mendapat debut pada Mei 2019 lalu, penyerang kelahiran Bentivoglio, Bologna, telah tampil 40 kali untuk tim senior I Neroverdi dan mencetak tujuh gol.

Raspadori semakin dilibatkan di tim senior pada musim ini. Pada 2020/21, ia telah bermain 25 kali (11 sebagai starter) di Serie A dengan total menit bermain 1.087 menit. Musim lalu, ia memainkan 11 pertandingan dengan total 264 menit. Pada 2018/19, ia turun selama satu menit, yakni di pertandingan terakhir Serie A lawan Atalanta.

Sang pemain menunjukkan progres konsisten dan Roberto De Zerbi semakin memercayainya. Pelatih Sassuolo tersebut memilih sabar dalam memoles talenta Raspadori, mendampingi perkembangannya sekaligus memberi kesempatan lebih luas secara gradual.

“Pemain muda harus dibela ketika bermain buruk, tetapi tidak boleh terlalu dipuja ketika bermain bagus. Dia [Raspadori] jelas seorang pemain dengan potensi sangat besar,” kata De Zerbi sebagaimana dikutip Football Italia.

Giacomo Raspadori telah berada di Sassuolo sejak berusia sembilan tahun. Pada masa kanak-kanak, ia bermain di klub setempat bernama Progresso. Di sebuah turnamen lokal, pada 2009, pemandu bakat I Neroverdi memantau pertandingan tim muda Progresso. Dari sinilah awal karier Raspadori di Sassuolo.

Tadinya, Sassuolo hanya ingin menggaet sang kakak, Enrico Raspadori. Namun, mereka memutuskan untuk memboyong keduanya setelah Giacomo juga tampil mengesankan. Duo Raspadori kemudian diboyong ke Emilia-Romagna. Waktu itu, Bologna turut menginginkan Giacomo, tetapi orang tua sang pemain memilih Sassuolo karena tak ingin dua bersaudara itu berpisah.

Karier kakak-beradik ini nantinya berkembang ke arah yang berbeda. Giacomo rutin diandalkan tim primavera Sassuolo dan menembus tim senior. Sedangkan Enrico, tiga tahun lebih tua, dilepas kemudian menjajaki karier senior di klub Serie D, Mezzolara Calcio.

Giacomo Raspadori adalah lulusan unggul akademi Sassuolo. Ia secara luas dibandingkan dengan penyerang legendaris Udinese, Antonio Di Natale. Alasannya adalah postur tubuh: keduanya sama-sama striker berbadan kecil. Tinggi badan Di Natale dan Raspadori memang hanya terpaut dua sentimeter. Di Natale 170 cm, sedangkan Raspadori 172 cm.

Postur demikian membuat profil permainan Raspadori cukup unik. Ia adalah penyerang tengah yang memiliki ambisi untuk berkiprah di posisi penyerang, meski bertubuh kecil. Pemain idolanya adalah Sergio Aguero. Ia ingin menjadi striker meskipun memiliki tubuh yang identik dengan playmaker atau winger.

Tinggi badan memang membuatnya tak bisa diandalkan untuk menyerang bola udara. Namun, tubuh pendek sama sekali tak menjadikannya berkecil hati. “Kelemahan” ini justru dijadikan senjata untuk berkembang.

Raspadori mampu memaksimalkan tubuh kecilnya untuk berduel dengan bek lawan. Ketika diadang, ia tak mengandalkan kekuatan untuk berduel, melainkan mengembangkan mobilitas dan keliatan yang sulit diantisipasi. Sang pemain cenderung bergerak lebih cepat dari bek, berupaya mengelabui lawan dengan mengubah arah gerak.

Sebagai striker, larinya tak terlalu cepat. Namun, aspek ini berupaya ditambal dengan kemampuan kontrol bola. Bek lawan memang bisa saja mendahului Raspadori dalam adu lari, tetapi belum tentu merebut bola darinya. Dibanding menjauhi bek dengan akselerasi eksplosif, ia cenderung menjaga bola dengan keliatan tubuh. Musim ini, sang pemain rata-rata membuat 2,04 dribel per pertandingan dengan tingkat kesuksesan 60,9%. Angka ini memang tak terlalu istimewa, tetapi jelas mengindikasikan potensi.

Ketika diturunkan, Raspadori juga tampak berupaya menjadi striker komplet, terlibat aktif dalam permainan dan tak sekadar menjadi predator kotak penalti. Jika meninjau heatmap sang pemain, ia sering beroperasi di half-space untuk menjembatani serangan I Neroverdi.

“De Zerbi selalu menekankan kepada saya bahwa kekompletan itu penting. Anda perlu tahu bagaimana cara melakukan berbagai hal di atas lapangan,” kata Raspadori kepada Gazzetta dello Sport.

De Zerbi menginginkannya terlibat aktif dalam sekuens serangan dan sejauh ini, performa Raspadori jauh dari kata mengecewakan. Ia rata-rata membuat 4,09 aksi berbuah tembakan per pertandingan di Serie A 2020/21. Di skuad Sassuolo, hanya Domenico Berardi dan Filip Djuricic yang memiliki keterlibatan tembakan lebih sering.

Raspadori juga nyaman bermain dengan kedua kaki. Hal ini membuat pergerakannya bisa lebih variatif dan sulit diprediksi. Kemampuan ini telah dikembangkannya sejak kecil.

Raspadori sejatinya kidal. Saat kanak-kanak, ia melihat kakaknya memiliki kaki dan tangan kanan lebih kuat. Ia mengaku iri dan ingin meniru cara menulis Enrico. Setelah latihan panjang, ia pun bisa menggunakan kedua tangan/kaki dengan sama baiknya.

“Sekarang saya menulis dengan tangan kanan dan menendang dengan kedua kaki. Itu adalah keunggulan, bahkan dalam situasi tak dikawal [pemain lawan], pemain bertahan tidak bisa menebak ke mana saya hendak pergi,” kata Giacomo.

Kasus di atas menunjukkan kesediaan Raspadori untuk belajar. Ia memiliki mentalitas tepat untuk berkembang. De Zerbi bahkan mengapresiasi karakter sang pemain dengan memberinya ban kapten dalam laga kontra AS Roma, 3 April silam.

“Sudah terpikir oleh saya untuk memberinya ban kapten. Dia tumbuh di sini dan saya punya fotonya di ponsel saya ketika dia masih di tim muda dan menjabat kapten,” kata De Zerbi seusai pertandingan.

Dalam diri Raspadori, Sassuolo memiliki bintang harapan yang tak lekas berpuas diri. Meskipun “hanya” mencetak tujuh gol dari 40 pertandingan — torehan yang tak impresif — ia memiliki talenta besar, berpotensi menjadi striker unggulan di kemudian hari.

Ketajaman Raspadori, sebagai striker, memang perlu diasah. Ia telah memiliki gaya finishing khas yang efektif: tembakan pelan nan akurat untuk mengelabui kiper. Namun, striker Timnas Italia U-21 ini belum cukup piawai mencari ruang tembak. Musim ini, ia rata-rata melepaskan 1,6 tembakan per pertandingan, cukup rendah bagi seorang penyerang.

Kecenderungan Sassuolo menggulirkan bola ke kotak penalti via umpan-umpan pendek telah mengasah kemampuan interplay-nya. Sistem permainan I Neroverdi menempa sensibilitas sang pemain. Untuk urusan mencetak gol, Francesco Caputo agaknya mesti menjadi mentor sang pemain. Jika berhasil mempelajari seni mencari ruang tembak (dan sering melakukannya), Raspadori akan menjadi penyerang elite yang mengesankan.

Komentar