Memasang Pogba di Sayap Kiri Buat Serangan MU Lebih Rancak

Analisis

by Ikhsan Abdul Hakim Pilihan

Ikhsan Abdul Hakim

Pandit Football Indonesia mengkhususkan pada analisis pertandingan sepakbola, statistik dan liga, juga sejarah perkembangan sepakbola dan evolusi taktiknya

Memasang Pogba di Sayap Kiri Buat Serangan MU Lebih Rancak

Paul Pogba belum habis. Gelandang asal Perancis ini membuktikan bahwa, ketika diberi kepercayaan, ia masih bisa jadi playmaker mumpuni. Terkini, ia tampil brilian kala Manchester United melibas AS Roma dengan skor telak 6-2, Jumat (30/4/2021).

Dua musim belakangan, Pogba kesulitan di Old Trafford. Cedera engkel pada 2019/20 membuatnya absen selama lebih dari setengah musim. Pada 2020/21, ia pun telah absen dalam 14 pertandingan akibat cedera.

Cedera panjang Pogba membuat Ole Gunnar Solskjaer mesti mempertimbangkan opsi lain bagi Setan Merah. Bruno Fernandes didatangkan. Eks gelandang Sporting CP itu mengisi pos no. 10 secara permanen. Dalam sistem 4-2-3-1 Ole, duet Fred-Scott McTominay pun menjadi pivot ganda mumpuni yang membuat eks Juventus itu tersingkir.

Solskjaer coba melibatkan Pogba di posisi baru. Musim ini, eks pelatih Cardiff City tersebut terkadang memasangnya di pos sayap kiri. Hal ini menjadi berkah tersendiri bagi Pogba. Ia mendapat peran lebih ofensif dan bisa mengekspresikan diri lebih baik.

Saat menghadapi AS Roma, Pogba berkombinasi secara apik dengan Luke Shaw, Bruno Fernandes, serta Edinson Cavani. Juara Dunia 2018 ini pun terkadang bertukar posisi dengan Bruno atau Marcus Rashford dalam upaya MU membuka ruang di pertahanan Giallorossi.

Pogba terlibat dalam empat gol United dalam laga itu. Pada gol pertama, pemain berusia 28 tahun ini menunjukkan keuletan dan visi permainan yang brilian. Di halfspace kiri, Pogba mengontrol bola melewati kepungan tiga pemain lawan. Pergerakannya menyita perhatian hingga lima pemain Roma yang ada di sekitar area itu.

Setelah melewati pemain ketiga yang mengawalnya, Pogba segera mengumpan ke Edinson Cavani. Striker Uruguay itu pun mengirim sontekan first-time yang berupaya dikejar Bruno Fernandes. Bruno yang lepas dari kawalan pun sukses menaklukkan Pau Lopez. Skor 1-0 untuk United.

Gol kedua MU pun berawal dari umpan Pogba. Ia menerima operan dari lini belakang Setan Merah di sayap kiri pertahanan sendiri. Ia menyadari peluang transisi cepat dengan Cavani dan Rashford di sepertiga akhir, sedangkan Bruno bersiap naik. Pogba mengirim umpan ke Cavani dan memintanya melihat Bruno yang naik. Kombinasi Cavani-Bruno kemudian menghasilkan gol kedua MU.

Pemain bernomor punggung enam tersebut juga berperan dalam gol ketiga MU. Kombinasinya dengan Luke Shaw di halfspace kiri mendahului umpan presisi Bruno ke Aaron Wan-Bissaka. Bola hasil sepakan Wan-Bissaka yang dihalau kiper kemudian diselesaikan Cavani.

Cavani dan Bruno, yang masing-masing mengemas dan dua gol dan dua asis mendapat sorotan utama kala MU melibas Roma 6-2. Namun, Pogba juga melibatkan diri dengan apik dalam proses serangan MU. Jebolan akademi United itu pun menyempurnakan penampilan impresif dengan gol sundulan pada menit 75.

Musim ini, Pogba beberapa kali diturunkan Ole di pos sayap kiri. Sebelum menghadapi Roma, ia dimainkan di posisi itu ketika MU menghadapi Tottenham dan Burnley. Ia mengemas dua asis dalam dua partai tersebut. Melansir Transfermarkt, Pogba telah bermain 11 kali di pos sayap kiri pada musim ini, enam di antaranya sebagai starter. Ia mengemas dua gol serta tiga asis dari 11 penampilan itu.

“Paul saya pikir sangat baik di posisi itu [sayap kiri]. Anda memiliki fondasi di belakangnya [Fred dan McTominay]. Marcus, Edi [Cavani], Bruno, Paul... melawan siapa pun mereka akan membuat peluang. Jadi persoalannya adalah cara mengeksekusi [peluang] itu. Itulah perbedaannya pada hari ini; kami menyelesaikan kebanyakan peluang kami,” kata Solskjaer usai timnya melibas Giallorossi.

Memasang Pogba dan Bruno berarti Solskjaer memiliki dua gelandang bertipe playmaker di sepertiga akhir. Visi keduanya membuat MU memiliki lebih banyak opsi untuk membongkar pertahanan lawan. Saat melibas Roma, dua pemain itu mencatatkan statistik menerima operan terbanyak (54) setelah duet bek Harry Maguire dan Victor Lindeloef. Keduanya dipercaya mengatur serangan MU dan menampilkan kombinasi yang cukup baik.

Dari sayap kiri, Pogba menambah daya gedor MU. Anak asuh Solskjaer jadi memiliki opsi lebih untuk membongkar pertahanan. Pogba memiliki kontrol bola dan teknik retensi yang cukup untuk menarik lawan agar mengerubunginya. Hal ini berguna agar kawalan terhadap penyerang lain melemah.

Saat lawan berfokus ke areanya, Pogba mampu memindah serangan ke area yang lebih kosong dengan cepat. Di Premier League 2020/21, gelandang kelahiran Lagny-sur-Marne, daerah pinggiran Paris ini cakap melakukan switch play. Switch play adalah umpan diagonal atau lateral yang menempuh jarak minimal 40 yard. Ia mencatatkan 3,81 umpan switch play per pertandingan, tertinggi di skuad MU.

Selain itu, keberadaan Pogba di sayap kiri juga membuat Luke Shaw lebih terlibat dari aspek ofensif. Pasalnya, Pogba bukan winger yang cenderung menyisir sisi sayap. Ia cenderung bermain ke tengah. Maka dari itu, Shaw diandalkan menjadi outlet serangan MU dari sayap kiri.

“Itu mendorong Luke dan dia harus lebih banyak maju. Karena jika Anda tidak punya pemain sayap di depan Anda, maka itu [menyerang dari sayap] adalah kewajiban full-back,kata Solskjaer.

Akan tetapi, mengakomodasi Pogba juga berarti Solskjaer harus mengorbankan satu penyerang sayap. Di atas kertas, hal ini cukup merugikan jika MU ingin menekankan pendekatan serangan balik dalam suatu pertandingan. Mason Greenwood dan Daniel James, dua pemain yang cenderung dikorbankan, memiliki karakter eksplosif dan dapat menjadi outlet serangan balik yang reliabel.

Di sisa musim 2020/21, variasi taktik yang akan dipakai Solskjaer pun menarik disimak. Kecemerlangan Pogba di sayap kiri jelas memberi Solskjaer opsi tambahan bagi sistem andalannya. MU sendiri masih harus menghadapi lawan berat seperti Liverpool, Leicester, juga leg kedua lawan Roma di sisa musim ini.

Di lain sisi, Solskjaer mesti mengevaluasi disiplin pertahanan Pogba jika ingin melibatkannya secara rutin. Pogba memang bersedia melakukan tekel dan membantu pressing. Namun, pemosisian tubuhnya saat melakukan tekel menjadi sorotan.

Di babak pertama lawan Roma, ia mengangkat tangan terlalu tinggi saat melakukan sliding tackle di kotak penalti. Tangannya pun menghalau bola dan membuat Giallorossi mendapat hadiah penalti. Di babak kedua, Pogba pun mendapat kartu kuning karena pelanggaran tak perlu kepada kiper lawan.

“Saya tidak tahu cara melakukan tekel. Itulah permasalahan saya,” canda Pogba seusai pertandingan.

“Saya mencoba melakukan tekel seperti orang Inggris. Saya perlu lebih banyak latihan. Maksudnya, saya perlu latihan untuk melakukan tekel tanpa mengangkat tangan sekarang. Saya sangat tidak beruntung dengan hukuman penalti pada musim ini,” lanjutnya, kali ini serius.

Di Premier League 2020/21, Pogba telah membuat timnya tiga kali kebobolan penalti. Dua karena pelanggaran dan satu karena handball. Secara ofensif, Pogba memiliki kualitas yang dibutuhkan Setan Merah. Namun, kecenderungan indisipliner tersebut juga perlu diperbaiki.

Komentar