Ilkay Guendogan Menjadi Mesin Gol Manchester City, Kok Bisa?

Analisis

by Ikhsan Abdul Hakim Pilihan

Ikhsan Abdul Hakim

Pandit Football Indonesia mengkhususkan pada analisis pertandingan sepakbola, statistik dan liga, juga sejarah perkembangan sepakbola dan evolusi taktiknya

Ilkay Guendogan Menjadi Mesin Gol Manchester City, Kok Bisa?

Ilkay Guendogan menikmati musim tersuburnya pada 2020/21. Sejauh ini, dia telah mencetak 16 gol dan tiga asis dari 34 pertandingan semua kompetisi. Di Premier League, ia mengemas 12 gol dan dua asis dari 23 pertandingan.

Angka itu hampir setengah dari total gol Guendogan sejak membela Manchester City pada 2016/17. Sebelumnya, musim tersubur Guendogan adalah 2018/19 dan 2017/18 dengan pundi-pundi enam gol. Musim ini, eks Borussia Dortmund itu menjadi top skor sementara klub, mengungguli penyerang macam Raheem Sterling, Sergio Aguero, dan Gabriel Jesus.

Performa klinis Guendogan memang sensasional. Sepanjang kariernya, pemain kelahiran Gelsenkirchen ini cenderung dimainkan sebagai gelandang bertahan. Namun, Pep Guardiola berhasil mengasah talenta ofensifnya. Guendogan memiliki bakat menyerang dan kepercayaan dari Guardiola membuatnya percaya diri menampilkannya.

Guendogan membayar kepercayaan Guardiola dengan tuntas. Ia selalu mencetak gol dalam tiga laga terkini Man City lawan Southampton, Borussia Moenchengladbach, serta Everton.

“Kami memainkan sepakbola yang luar biasa, sebuah sistem hebat yang sesuai dengan saya. Kami juga memiliki para pemain hebat yang menguntungkan saya. Saya sekadar mencoba bekerja keras sebagaimana yang dilakukan rekan-rekan,” kata Guendogan dikutip laman resmi Man City.

Peran baru membuatnya tampil prolifik. Sang pemain menyatakan bahwa tren mencetak golnya merupakan buah dari sistem yang diterapkan Guardiola. Sistem Pep pada 2020/21 memberinya keleluasaan lebih untuk bergerak ke depan dan menjadi opsi penyelesaian.



Hal tersebut tak bisa dilepaskan dari blok defensif yang memberi City stabilitas untuk menyerang. Sebelumnya, Guendogan menjadi bagian blok tersebut bersama Rodri atau Fernandinho. Kali ini, pemain lain mengisi peran itu sehingga Guendogan bebas beroperasi di sepertiga akhir dan kotak penalti.

Kunci dari blok solid ini adalah Rodri. Sejak musim lalu, gelandang Spanyol ini telah menunjukkan kemampuannya sebagai penerus Fernandinho. Rodri memberi kontribusi vital sebagai gelandang bertahan. Ia menorehkan recoveries (340) tertinggi di skuad Man City dan intersep (21) tertinggi kedua.

Selain itu, Joao Cancelo yang bermain sebagai inverted full-back juga berkontribusi penting dalam blok solid The Citizens. Tak seperti full-back tradisional, eks pemain Juventus ini cenderung bermain ke tengah; turut menjadi holding midfielder sekaligus membantu Rodri.

Versatilitas Cancelo memberi City kedalaman lini tengah dan menyokong berjalannya serangan. Pep sendiri berpengalaman mentransformasikan pemain menjadi inverted full-back. Di Bayern Muenchen, ia melakukannya pada Phillip Lahm.

Di lain sisi, Cancelo masih kapabel menjalankan perannya sebagai full-back menyerang. Pemain berkebangsaan Portugal ini memiliki daya kreatif dan telah mengemas tiga asis sejauh ini. Salah satu asis Cancelo diberikan kepada Guendogan dalam laga kontra West Bromwich Albion, 26 Januari lalu.

“Posisi Cancelo, sekalinya City menguasai bola di posisi bagus, ada di tengah, hampir menyerupai pivot. Ketika mereka [City] menguasai bola, ada tiga orang di lini belakang dan dia [Cancelo] menjadi salah satu dari dua orang di depan mereka [lini belakang]. Tetapi dari sana, Anda dapat melihat dia menusuk ke posisi no. 10 dan menjadi seperti playmaker. Ini gila,” kata eks pemain Manchester United sekaligus pandit BT Sport, Rio Ferdinand.

Lini belakang The Citizens pun tampil baik sebagai perlindungan. Bek tengah City, Ruben Dias tak ragu naik untuk menghalau ancaman sedini mungkin. Dias tercatat membuat 11 tekel di lini tengah dan 18 intersep di Premier League musim ini.

Perlindungan seperti di atas mengizinkan Guendogan lebih fokus menyerang. Catatan sentuhannya di kotak penalti lawan naik dibanding musim-musim sebelumnya. Pada 2020/21, rata-rata sentuhan Guendogan di kotak penalti lawan mencapai 3,83 per pertandingan. Sentuhannya di lini tengah dan sepertiga pertahanan pun menurun, menunjukkan tanggung jawab ofensifnya yang lebih besar dan perubahan perannya dalam konstruksi permainan.

Selain itu, kemauan Guardiola memasang false nine juga menjadi salah satu faktor moncernya Guendogan sebagai pencetak gol. Musim ini, seiring cederanya Sergio Aguero, Pep memasang gelandang seperti Bernardo Silva dan Phil Foden di pos striker tengah pada beberapa kesempatan.

Nomor sembilan palsu cenderung turun menarik lini belakang. Dalam skema ini, Guendogan diminta lebih sering bergerak ke depan sebagai eksekutor.

Musim ini, 10 dari 12 gol Guendogan di Premier League dicetak di dalam kotak penalti. Nilai harapan gol (xG)-nya pun naik drastis, dari 0,20 per pertandingan pada musim lalu menjadi 0,43 pada 2020/21. Statistik itu menunjukkan bahwa Guendogan lebih sering mendapat ruang tembak di area berbahaya.

Di lain sisi, kemampuan individu Guendogan juga membaik seiring perubahan perannya. Selain cerdas dalam pemosisian, gelandang berusia 30 tahun ini cakap beradu teknik. Guendogan rata-rata membuat 1,81 dribel per pertandingan dengan tingkat kesuksesan mencapai 65,7%.

Moncernya Guendogan adalah salah satu tanda kebangkitan City usai tampil di bawah ekspektasi pada 2019/20. Di City, bersinarnya individu tertentu memang lebih layak dipandang sebagai tanda. Kunci dari keberhasilan mereka bukanlah individu luar biasa yang melakukan hal luar biasa, melainkan penampilan kolektif dan kepiawaian sang juru taktik.

“Kami mencoba untuk bersatu dan mendukung satu sama lain, ada ketika dibutuhkan. Itu penting. Kami perlu padu sebagai tim, kami perlu tetap bersama dan saling membantu untuk memenangkan pertandingan-pertandingan besar,” kata Guendogan.

Setelah merelakan gelar ke Liverpool, The Citizens berpeluang besar merebut gelar Liga Inggris ketujuh. Mereka saat ini unggul 14 poin dari rival terdekatnya, Manchester United. Meskipun City telah memainkan satu pertandingan lebih banyak, jarak dengan pesaing sudah terlalu lebar.

Anak asuh Pep tentu ingin memenangkan pertandingan-pertandingan terdekat dan memastikan gelar sedini mungkin. Di gameweek 30, mereka akan menghadapi salah satu pesaing terdekat, Leicester City di Stadion King Power. Selain misi tiga poin, Guendogan dkk berniat membalas kekalahan memalukan di putaran pertama lalu, dibungkam 2-5 di kandang sendiri.

Komentar