Meninjau Regenerasi Timnas Jerman

Analisis

by Ikhsan Abdul Hakim

Ikhsan Abdul Hakim

Pandit Football Indonesia mengkhususkan pada analisis pertandingan sepakbola, statistik dan liga, juga sejarah perkembangan sepakbola dan evolusi taktiknya

Meninjau Regenerasi Timnas Jerman

Percampuran komposisi pemain kawakan dan bakat muda adalah formula tradisional kesuksesan tim sepakbola. Tak terkecuali bagi Timnas Jerman, salah satu tim terkuat di sepakbola internasional sedekade belakangan. Die Mannschaft sedang berada di simpang jalan regenerasi yang belum kentara akhirnya.

Kekecewaan Piala Dunia 2018 jelas membuat perkara regenerasi lebih mendesak untuk dilakukan. Inti dari generasi baru Timnas Jerman sendiri telah terbentuk, dengan pemain seperti Joshua Kimmich, Leon Goretzka, dan Timo Werner menjadi kunci masa kini der Panzer. Namun, di lain sisi, Joachim Loew perlu memikirkan siapa saja veteran yang sebaiknya dipanggil menemani generasi baru.

Pemilihan skuad Loew setelah Rusia 2018 sendiri kerap menuai kritik. Terlebih usai rentetan hasil buruk pada 2020, kala Jerman hanya meraih tiga kemenangan dari delapan pertandingan. Catatan negatif Jerman tahun lalu mencapai puncak ketika mereka dipermak 6-0 oleh Spanyol di Sevilla.

Loew dikritik salah satunya karena bersikeras menepikan tiga veteran Piala Dunia 2014, yakni Thomas Mueller, Jerome Boateng, serta Mats Hummels. Ketiganya masih menjadi pilar di masing-masing klub musim ini.

Khusus untuk Mueller, ia sedang menikmati salah satu musim terbaik sepanjang kariernya. Di Bundesliga 2020/21, produk akademi Bayern Muenchen ini telah mengemas 10 gol dan 14 asis, berkontribusi penting dalam keberhasilan die Roten memuncaki papan klasemen. Musim lalu, Mueller pun membawa Bayern menjuarai semua kompetisi yang diikuti dan memecahkan rekor asis Bundesliga dalam semusim dengan 21 asis.

Untuk mempersiapkan turnamen akbar seperti Piala Eropa dan Piala Dunia, Loew mencanangkan rencana dua tahunan. Nama Mueller, Boateng, dan Hummels tak masuk rencana dan ia mendepak mereka pada 2019. Sepanjang kualifikasi Piala Eropa dan UEFA Nations League 2020, alumni Brasil 2014 yang dipilih Loew adalah Manuel Neuer, Toni Kroos, serta Matthias Ginter. Dua gelandang veteran, Ilkay Guendogan dan Marco Reus juga dipanggil.

Pada jeda internasional kali ini, sang pelatih hanya memanggil dua pemain yang berusia di atas 30 tahun, yakni Manuel Neuer dan Ilkay Guendogan. Jelang sepak mula Euro 2020 pada Juni mendatang, Loew hendak menguatkan generasi Kimmich dkk untuk menjadi tulang punggung skuad Jerman.

Akan tetapi, pertanyaannya adalah, apakah bijak keputusan Loew untuk tetap mengeluarkan Mueller, Boateng, dan Hummels? Lalu pemain veteran mana yang akan disertakan di Piala Eropa mendatang?

Loew sendiri tidak menutup kemungkinan kembalinya tiga pemain di atas. Namun, Loew lebih mengutamakan rencana dua tahunannya dan sejauh ini, ia merasa tak ada kondisi mendesak yang memerlukan perubahan rencana.

“Topik yang sering diperbincangkan, dan lumrahnya memang demikian, adalah tentang Mueller, Boateng, dan Hummels. [Kami bisa memanggil mereka] jika saya dan staf kepelatihan merasa kami perlu penguatan ekstra di bagian sini atau sana, atau butuh seseorang untuk memberi energi baru atau kepemimpinan dalam hal keolahragaan,” katanya.

Piala Eropa 2020 adalah bakti terakhir Loew sebelum mundur dari kursi kepelatihan. Bersama DFB (PSSI-nya Jerman), ia mencanangkan regenerasi yang “siap panen” pada 2024 mendatang, saat Jerman menjadi tuan rumah Piala Eropa.

Loew memang tak akan menjadi pelatih die Mannschaft dalam turnamen itu, tetapi dia turut bertanggung jawab mempersiapkan skuad masa depan, terutama mempersiapkan para pemain yang kelak berstatus veteran seperti Kimmich, Goretzka, serta Serge Gnabry. Momentum Piala Eropa 2020 dan Qatar 2022 adalah tes sebenarnya bagi generasi ini.

“Para pemain sekarang mungkin sedikit kurang pengalaman, tetapi mereka punya potensi luar biasa. Saya tahu berkat pengalaman dan saya yakin mereka akan mencapai bentuk terbaik pada 2024, bebarengan dengan turnamen kandang [Piala Eropa],” kata Loew dikutip DW.

Di kualifikasi Piala Dunia 2022, skuad racikan Loew memetik hasil yang cukup memuaskan sejauh ini. Die Mannschaft tampil dominan saat mengempaskan Islandia 3-0 dan Rumania 1-0. Jerman mencatatkan 82% penguasaan bola dan 15 tembakan kala menghadapi Islandia. Di Bucharest, Jerman menekuk Rumania dengan modal 67% penguasaan bola dan 18 tembakan.

Anak asuh Loew menunjukkan dominasi total dalam dua laga tersebut. Sang pelatih menurunkan line-up terbaik dari generasi sekarang dan menuai hasil positif. Dari dua pertandingan itu, hanya Neuer dan Guendogan yang turun sebagai pemain veteran.

Lini serang Jerman yang diisi Timo Werner, Serge Gnabry, Kai Havertz, atau Leroy Sane tampil brilian. Loew menggunakan tiga penyerang yang bergerak cair dalam pakem 4-3-3. Memadukan trisula penyerang adalah salah satu misi Loew di kualifikasi dan sejauh ini hasilnya tampak menjanjikan.

Yang paling impresif dari penampilan Jerman bulan ini adalah trio gelandang mereka. Loew menurunkan Guendogan, Goretzka, dan Kimmich di lini tengah. Ketiganya memberi Jerman kontrol dan stabilitas yang menjadi ruh permainan Jerman.

Kimmich, sebagai no.6, menunjukkan kualitasnya sebagai salah satu gelandang terbaik di dunia. Tak hanya solid melindungi lini belakang, pemain Bayern Muenchen tersebut juga aktif menyokong serangan dengan umpan-umpan cerdasnya. Dua gol pertama Jerman lawan Islandia terjadi berkat umpan gelandang bernomor punggung 6 tersebut.

Sementara itu, di lini belakang, susunan bek yang dipilih Loew tampil cukup baik. Ia memasang Ginter, Antonio Ruediger, Emre Can, serta Lukas Klostermann. Soliditas empat bek ini membantu Jerman mempertahankan nirbobol dalam dua pertandingan terakhir.

“Mereka [generasi baru Jerman] lapar [akan keberhasilan] dan mau belajar, masa depan adalah milik mereka. Tetapi kami harus memberikan mereka ruang dan waktu untuk berkembang dan membuat kesalahan. Mueller, Boateng, dan Hummels juga membuat kesalahan jelang Brasil [Piala Dunia 2014]; mereka tidak menjadi juara dunia dalam waktu semalam,” kata Loew.

Di lain sisi, Loew juga rutin memberi giliran kepada para pemain muda untuk tampil. Saat menghadapi Islandia, ia memberi debut kepada Jamal Musiala, wonderkid Bayern yang mencuri perhatian pada musim ini. Pasca Piala Dunia 2018, Loew telah memberi debut kepada 17 pemain muda.

Jerman memiliki tiga generasi yang pantas mendapat pemanggilan. Di antara para pemain muda, ada sederet nama mulai Musiala, Florian Wirtz, hingga Florian Neuhaus yang layak diberi kesempatan. Di generasi sekarang, Kimmich dan kawan-kawan bersiap memikul tanggung jawab sebagai tulang punggung die Mannschaft. Sementara para veteran seperti Mueller, Kroos, dan Reus terus mengupayakan yang terbaik dan menolak redup di level klub.

Menilik skuad Jerman yang sangat dalam, keputusan Loew untuk Piala Eropa tetaplah rawan dikritik. Kelayakan pemain di segala kelompok usia menimbulkan dilema seleksi. Siapa pun 23 pemain yang dipanggil pada Juni mendatang, Loew bakal menghadapi banyak pertanyaan mengenai para pemain yang ditinggalkan. Jawaban terbaik atas pertanyaan-pertanyaan itu tentunya adalah trofi Piala Eropa, penutup manis bagi karier Loew sekaligus tebusan untuk kiprah memalukan dua tahun belakangan.

Foto: Bavarian Football Works

Komentar