Melihat Agresivitas Saka dan Martinelli, Para Pemain Senior Arsenal Seharusnya Malu

Analisis

by Ikhsan Abdul Hakim

Ikhsan Abdul Hakim

Pandit Football Indonesia mengkhususkan pada analisis pertandingan sepakbola, statistik dan liga, juga sejarah perkembangan sepakbola dan evolusi taktiknya

Melihat Agresivitas Saka dan Martinelli, Para Pemain Senior Arsenal Seharusnya Malu

Tak banyak yang bisa dibanggakan dari skuad Arsenal musim ini. Pierre-Emerick Aubameyang, pemain terbaik mereka musim lalu, justru menurun performanya usai menandatangani perpanjangan kontrak. Willian tampil tak efektif usai menjalani debut mengesankan. Duo pemain mahal The Gunners, Alexandre Lacazette dan Nicolas Pepe, kembali inkonsisten dan gagal memenuhi ekspektasi.

Memiliki sebegitu banyak pemain senior yang menghabiskan ratusan juta euro, Mikel Arteta tak mendapat penampilan yang sepadan. Eks asisten Pep Guardiola itu justru kerap diselamatkan performa para pemain muda The Gunners. Bukayo Saka semakin matang dan menjadi daya dorong lini serang The Gunners. Sedangkan di lini belakang, Gabriel Magalhaes membuktikan diri sebagai sosok reliabel. Bagi Arsenal, diperkuat Gabriel seperti memiliki Kieran Tierney versi bek tengah.

Saat laga Boxing Day lalu, melawan Chelsea, para pemain muda kembali unjuk gigi ketika senior macam Aubameyang, Pepe, dan Willian tak masuk starting eleven. Gabriel Martinelli, dalam penampilan keduanya setelah cedera panjang, tampil agresif dan amat merepotkan The Blues. Emile Smith-Rowe menjelma sosok gelandang serang yang dirindukan Arsenal. Sedangkan Bukayo Saka, paling muda tetapi lebih berpengalaman dibanding keduanya, tampil brilian sebagai winger.

Link streaming pertandingan Premier League: Brighton & Hove Albion vs Arsenal

Martinelli memang tak mencetak gol atau asis di Derbi London tersebut. Namun permainannya yang berani dan tak kenal lelah menyita perhatian. Martinelli rajin menekan pertahanan Chelsea, berupaya menginisiasi pertahanan dari lini depan. Dalam pertandingan itu, ia tercatat 19 kali melakukan press (terbanyak kedua di skuad Arsenal) serta membuat tiga tekel + intersep.

Eks pemain Ituano tersebut juga terlibat secara agresif dalam sekuens serangan Arsenal. Martinelli membuat empat tembakan dan dua di antaranya tepat sasaran. Angka xG dari tembakannya mencapai 0,60. Dua penyelamatan brilian Edouard Mendy adalah sebab ia tak mencetak gol dalam laga ini.

Sementara itu, Emile Smith-Rowe menjadi sosok konektor lini tengah yang selama ini luput ditampilkan para gelandang The Gunners. Meskipun penampilannya tak terlalu impresif, pemosisian Smith-Rowe patut diacungi jempol. Ia rajin membuka opsi umpan dengan menempati ruang antara fullback dan bek tengah Chelsea; secara konsisten mendukung serangan sayap Arsenal. Ia pun mencetak satu asis untuk gol Bukayo Saka.

Gol tersebut pun tak ubahnya perayaan sekaligus ganjaran bagi penampilan Saka selama ini. Gelandang berusia 19 tahun itu mencetak gol indah dari sisi kanan kotak penalti. Saka mengirim tembakan lob akurat yang bahkan menipu Mendy, membuat kiper berkebangsaan Perancis itu tak bereaksi hingga bola bersarang ke sudut gawang.

Sekilas, tembakan Saka seperti umpan silang. Tak sedikit pihak yang meragukan bahwa Saka tak sengaja mencetak gol. Setelah pertandingan, sang pemain pun bersikeras bahwa dia memang berniat menembak.

Reporter Sky Sports menanyainya, “Apakah Anda meniatkannya?”. “Tentu saja,” jawab Saka. “Saya melihat dia [Mendy] di luar areanya,” lanjutnya.

Terlepas golnya disengaja atau tidak, performa Saka patut mendapat pujian saat mengalahkan Chelsea. Sekali lagi, ia menjadi pemecah kebuntuan Arsenal. Ia terkadang bertukar posisi dengan Martinelli dan membuat pergerakan berbahaya dari sayap. Selain cakap membawa bola ke depan, pemain kelahiran London ini mengirim dua umpan progresif, satu umpan ke kotak penalti, serta sembilan umpan jauh yang tiga di antaranya tepat sasaran. Pergerakannya pun memaksa N’Golo Kante melakukan pelanggaran yang berujung gol tendangan bebas Granit Xhaka.

Pada 2020/21, performa Saka semakin reliabel. Ia memberi The Gunners daya dorong dari posisi sayap. Saka tecatat menginisiasi 3,08 aksi berujung tembakan, terbanyak di skuad Arsenal. Aksi berujung tembakan berguna untuk mengukur keterlibatan pemain dalam sekuens serangan. Aksi yang dimaksud bisa berupa operan, dribel, atau memenangkan pelanggaran yang tak memerlukan lebih dari dua aksi lain untuk menghadirkan tembakan.

Selain itu, Saka tercatat telah membuat tiga asis kedua (second assist), tertinggi kedua di Premier League setelah James Rodriguez dan Tanguy Ndombele. Second assist adalah umpan yang mengawali sebuah asis.

Statistik di atas dapat menjadi parameter yang adil untuk menilai kualitas Bukayo Saka. Meskipun dia baru mencetak dua gol dan tak membuat asis, dua metrik tersebut menampilkan kualitas Saka dalam sekuens serangan The Gunners.

Winger muda ini pun dua kali secara langsung memengaruhi hasil akhir pertandingan dan menyelamatkan muka Arsenal. Ketika menghadapi West Ham di pekan kedua lalu, pergerakan dan umpan Saka mengawali dua gol yang dicetak Alexandre Lacazette dan Eddie Nketiah.

Pada pekan ke-13 lalu, aksi Saka juga menyelamatkan Arsenal dari kekalahan beruntun. Ketika menjamu Southampton, anak asuh Arteta baru saja menelan tiga kekalahan berturut-turut. Mereka di ambang kekalahan keempat usai Theo Walcott mencetak gol pembuka. Saka pun melakukan aksi brilian pada menit 62. Ia berlari melewati tiga pemain Soton sebelum mengoper bola ke Nketiah. Kemudian, Nketiah menyodorkan bola ke Aubameyang yang berhasil menyamakan kedudukan.

Performa Saka, juga pemain muda yang lain, barangkali satu-satunya hal positif di skuad Arsenal awal musim ini. Eks striker Arsenal, Kevin Campbell, pun mengkritik kiprah para pemain senior yang tampil angin-anginan. Baginya, terperosoknya Arsenal di awal musim bukan salah Arteta, melainkan para pemain senior.

“Banyak orang mempertanyakan Arteta, tetapi saya tidak. Saya mempertanyakan para pemain,” kata Campbell usai laga kontra Southampton.

“Saka positif, dia mengambil bola dan mendesak ke depan. Sangat banyak pemain senior kesulitan menampilkan performa layak sehingga Arteta harus mengotak-atik skuad. Dia tak punya seorang pun yang bisa diandalkan selain seorang pemuda [Saka],” tegasnya.

Kehadiran dan agresivitas Saka, Martinelli, atau Smith-Rowe seharusnya menjadi pendorong Aubameyang dan kawan-kawan untuk kembali menampilkan performa terbaik. Menjelang Tahun Baru, setelah mengakhiri tren tujuh laga tanpa kemenangan, saatnya The Gunners unjuk gigi dan keluar dari papan bawah.

Kegemilangan para pemain muda Arsenal akan kembali diuji ketika bertandang ke Brighton & Hove Albion, Rabu (30/12), pukul 01.00 WIB. Tayangan langsung pertandingan tersebut, semua pertandingan Premier League 2020/21, serta tayangan ulang dan highlights pertandingannya dapat Anda saksikan di Mola TV (klik di sini).

Komentar