Tantangan Pep Guardiola Orbitkan Pemain Muda Manchester City

Analisis

by Dzikry Lazuardi

Dzikry Lazuardi

Analis Sulut United.

Tantangan Pep Guardiola Orbitkan Pemain Muda Manchester City

“Saya ingin menjawab iya, tapi saya tidak tahu apa yang akan terjadi. Ini tentang bagaimana mereka berkembang untuk jadi pemain yang lebih baik. Saya ingin membantu pemain muda di sini seperti di Barcelona, tapi klub ini sangat menuntut,” ujar Pep Guardiola, ketika ditanya apakah ia ingin memiliki tim seperti Class of ‘92 yang merupakan produk dari akademi sendiri.

Pep terlihat benar-benar ingin memberi kesempatan kepada pemain muda dan ia melakukannya di tiap pertandingan yang memungkinkan, contohnya seperti pertandingan di kompetisi Carabao Cup dan FA Cup. Pada putaran ketiga FA Cup melawan Port Vale, Pep menurunkan Phil Foden (19 tahun) dan Taylor Harwood-Bellis (17 tahun) di mana keduanya mencetak gol dalam kemenangan 4-1 yang diraih The Citizens. Tommy Doyle (18 tahun) masuk sebagai pemain pengganti di menit ke-77.

Setiap klub tentu ingin memproduksi sendiri pemain hebat untuk menghemat pengeluaran dan merepresentasikan identitas klub di lapangan. Mayoritas pemain muda di sebuah klub adalah fans dari klub itu sendiri, tidak terkecuali Manchester City. Harwood-Bellis dan Doyle memiliki kedekatan yang erat dengan City. Harwood-Bellis sudah berlatih di Manchester City sejak 2008 dan Doyle bahkan dari dua tahun sebelumnya. Pep sangat menghargai kecintaan pemain terhadap klub.

“Sulit untuk mengungkapkan apa yang bisa pemain muda lakukan di masa depan. Tapi yang pasti, mereka adalah fans Man City. Ketika saya melihat video mereka di tribun Old Trafford untuk mendukung kami, itu sangat baik,” ungkap pelatih 49 tahun itu, mengomentari Harwood-Bellis dan Doyle yang menonton langsung semifinal leg 1 Carabao Cup di Old Trafford.

Pep memang dikenal gemar mengorbitkan pemain muda, terutama ketika di Barcelona dulu. Sergio Busquets, Sergi Roberto, Gerard Pique, Pedro, Rafinha, Gerard Deulofeu, Thiago, dan Marc Bartra adalah beberapa pemain yang ia beri kesempatan di usia muda dan berkembang dengan baik, beberapa di antaranya bahkan menjadi pemain kelas dunia. Ketika menangani Bayern Munich, Jerome Boateng dan Joshua Kimmich ia sulap menjadi pemain hebat lainnya.

Tekanan memang semakin tinggi ketika ia menangani Manchester City. Dua gelar Liga Inggris beruntun seperti ‘biasa saja’ mengingat ia belum mampu meraih Liga Champions setelah terakhir memenangkannya bersama Barcelona pada 2011 lalu. Kenyataan itu membuat Pep dilema dalam menurunkan pemain yang sudah berpengalaman atau pemain yang berpotensi besar.

“Anda harus memenangkan pertandingan. Bahkan ketika Anda memenangkan empat gelar seperti musim lalu, itu masih tidak cukup karena kami belum memenangkan Liga Champions. Pemain muda harus berkompetisi dengan bek tengah luar biasa dan gelandang luar biasa. Realita yang sulit melihat pemain hebat seperti Phil Foden tidak mendapat banyak menit bermain karena kami memiliki pemain hebat lainnya.”

Manchester City sendiri sebenarnya adalah klub dengan rencana jangka panjang yang baik dari segi investasi. Pada 2014 lalu, mereka meresmikan komplek latihan senilai 200 juta paun, termasuk fasilitas untuk tim muda. “Tujuan kami adalah melihat pemain muda mencapai potensi terbaiknya di dalam dan luar lapangan,” ujar ketua klub, Khaldoon Al Mubarak. Bahkan ketika Sheikh Mansour pertama mengambil alih Manchester City pada 2008 lalu, ia menulis visinya di tembok. “Kami membangun masa depan, bukan hanya tim bertabur bintang.”

Sejauh ini, Foden merupakan salah satu pemain muda Manchester City dengan potensi yang luar biasa. Memulai debutnya pada musim 2017-2018 lalu, Foden perlahan diberi menit bermain oleh Pep. Musim lalu, ia tampil sebanyak 26 kali dengan torehan tujuh gol dan dua asis di semua kompetisi. Musim ini, ia telah mencetak tiga gol dan lima asis dari total 22 pertandingan di semua kompetisi. Pep bahkan mulai bereksperimen untuk menurunkan Foden sebagai pemain utama di pertandingan besar seperti pada kemenangan 3-0 atas Arsenal dan 2-1 atas Everton.

Tantangan Foden tentu tak mudah. Berposisi sebagai gelandang, ia harus bersaing dengan Kevin De Bruyne, David Silva, Ilkay Gundogan, dan Bernardo Silva. Secercah harapan datang bagi Foden seiring dengan David Silva yang kemungkinan tidak akan memperpanjang kontrak yang habis di akhir musim. “Kadang Anda harus bersabar. Tapi ketika saya melihat (rumor) tentang David pergi di akhir musim, kami tidak akan membeli pemain untuk posisi itu karena kami memiliki Phil,” ucap Pep menanggapi kondisi tersebut.

Tantangan juga tidak mudah untuk Pep. Semenjak di Barcelona, ia sudah memiliki keinginan untuk mengorbitkan pemain muda namun kondisinya sekarang jauh berbeda seiring dengan tuntutan akan prestasi tinggi di Manchester City. Pep dituntut untuk menyeimbangkan antara kesuksesan jangka pendek yaitu trofi dan keinginannya untuk membantu pemain muda mencapai potensi terbaiknya.

Komentar