Kazuyoshi Miura dan Zlatan Ibrahimovic Adalah Veteran dari Segala Definisi

Analisis

by Adrianus Eduard Johanes

Adrianus Eduard Johanes

"Losing my religion to football"

Kazuyoshi Miura dan Zlatan Ibrahimovic Adalah Veteran dari Segala Definisi

Kazuyoshi Miura akan berusia 53 tahun di Februari 2020. Pada usianya yang sudah lebih dari setengah abad tersebut, King Kazu tetap mendapatkan perpanjangan kontrak satu tahun dari Yokohama FC. Kontrak ini membawa King Kazu menuju musim ke-35 dalam karir sepakbola profesionalnya. Ia memulai musim pertamanya di tahun 1986 ketika masih berusia 19 tahun.

Sejak 2012, King Kazu memang sudah tidak pernah bermain lebih dari 1.000 menit dalam semusim. Pada musim 2019, saat ia berhasil membawa Yokohama FC promosi ke J1, King Kazu hanya bermain dalam 3 pertandingan sepanjang musim. Dalam 3 pertandingan tersebut tidak ada satupun yang ia jalani selama 90 menit penuh.

Jasa mereka dipertahankan Yokohama FC untuk membagikan pengalaman dan menjadi guru untuk pemain lain. Apalagi King Kazu sudah membela Yokohama FC sejak 2005 dan memiliki pengalaman bermain di berbagai klub di seluruh dunia. “Miura punya peran sebagai inspirator bagi pemain-pemain lainnya. Pemain-pemain Jepang perlu lebih kerja keras lagi supaya bisa menjadi profesional yang kompeten. Miura adalah contoh utama dari hal itu,” ungkap mantan pelatih Yokohama yang kini menangani Borneo FC, Edson Tavarez.

https://twitter.com/sportingindex/status/1216356574786179072">

Di benua yang berbeda dari tempat King Kazu berada, seorang pemain veteran lainnya kembali menampilkan supremasinya setelah kembali ke klub lamanya. Zlatan Ibrahimovic membawa AC Milan meraih kemenangan setelah dalam 3 pertandingan terakhir AC Milan gagal meraih kemenangan tanpa satu gol pun dicetak.

Setelah kembali direkrut AC Milan pada awal tahun 2020 ini, Zlatan menjalani pertandingan pertamanya sebagai starter di AC Milan. Pada pertandingan sebelumnya, Zlatan baru masuk di menit ke-55 menggantikan Krystof Piatek, dan belum berhasil mengubah keadaan hingga akhir pertandingan berakhir dengan skor imbang 0-0.

Pada pertandingan akhir pekan melawan Cagliari, Zlatan langsung dimasukan ke dalam susunan starting line-up AC Milan. Ia bermain di depan bersama pemain muda berusia 20 tahun asal Portugak, Rafael Leao. Hasilnya, AC Milan berhasil menang 2-0 dengan gol kedua disumbangkan oleh Zlatan Ibrahimovic melalui tendangannya dari dalam kotak penalti. Tidak hanya itu, catatan statistik Zlatan dalam pertandingan ini juga menunjukan bahwa ia masih layak menjadi pilihan utama di AC Milan saat ini. Ia menjadi pemain dengan sentuhan terbanyak di pertandingan itu, ditambah dengan 4 tendangannya yang mengancam gawang Cagliari.

Zlatan sudah berusia 38 tahun saat ini dan akan berusia 39 tahun pada bulan oktober tahun ini. Saat baru didatangkan ke AC Milan awal tahun ini, Zlatan sudah mengatakan bahwa ia tahu apa yang harus dilakukannya dan ia dapat memberikan lebih banyak dibanding apa yang ia berikan 10 tahun lalu saat bermain di AC Milan.

VIDEO: Gol-gol terbaik Zlatan Ibrahimovic bersama AC Milan



King Kazu dan Zlatan Ibrahimovic sama-sama pemain veteran yang masih dipertahankan oleh klubnya masing-masing. Meski menjalani peran yang berbeda, namun keduanya masih memberikan kontribusi bagi klub di usianya yang sudah dibilang tua untuk standar pemain sepakbola.

Istilah veteran memang tidak terbatas persoalan usia. Berdasarkan Kamus Besar Bahasa Indonesia, veteran berarti bekas prajurit atau orang yang sudah berpengalaman dalam suatu pekerjaan dan sebagainya. Baik King Kazu maupun Zlatan tentu masuk ke kategori ini. Keduanya sama-sama memiliki pengalaman panjang dari pekerjaan yang sedang ia jalani saat ini.

Mengeluarkan uang untuk pemain-pemain tua merupakan hal yang lumrah di awal millennium kedua. Pada masanya, Liverpool rela memberikan 900 ribu Paun ke Coventry City untuk jasa Gary McAllister. Padahal di bursa transfer yang sama, mereka juga berhasil mendatangkan jasa gelandang lainnya, Jari Litmanen, tanpa biaya. McAllister ketika itu berusia 35 tahun, enam tahun lebih tua dari Litmanen (29).

Juventus pernah memberi Sampdoria 250 ribu Euro untuk jasa bek 36 tahun, Pietro Vierchowod, ketika mereka sebenarnya sudah memiliki Ciro Ferrara dan berhasil mengamankan bek muda Argentina, Juan Pablo Sorin. Bahkan RC Strasbourg pernah menggelontorkan dana lebih dari lima juta Euro untuk penjaga gawang Paraguay José Luis Chilavert, sekalipun ikon Los Guaraníes itu sudah di pertengahan kepala tiga.

Namun hal seperti ini sudah sangat jarang terjadi di dunia sepakbola. Seiring perjalanan waktu, sangatlah jarang sebuah klub rela mengeluarkan uang untuk pemain veteran seperti dulu. Ada banyak faktor yang mendorong hal ini, dari mulai berkembangnya ilmu pengetahuan di sepakbola yang mampu memprediksi lebih dini bakat seorang pemain, hingga keberhasilan game Football Manager memprediksi potensi pemain. Banyak sepakbola muda saat ini yang sudah meraih berbagai macam prestasi level dunia, sebut saja Kylian Mbappe sebagai salah satu contohnya.

Klub-klub pun secara sadar ataupun tidak sadar seperti berlomba-lomba untuk menyusun tim dengan talenta-talenta muda. Bahkan tidak sedikit klub yang rela mengeluarkan biaya besar demi mendatangkan pemain yang masih berusia sangat muda.

Sering kali, upaya tersebut berakhir dengan sebuah kesia-siaan. Lihat saja bagaimana pemain-pemain muda Manchester City begitu sulit menembus tim utama. Atau berapa banyak pemain muda Chelsea yang jadi korban transaksi dengan Vitesse, pergi meninggalkan London sebelum pernah mendapatkan kesempatan membela the Blues. Bukti bahwa mengumpulkan talenta-talenta muda potensial ataupun calon bintang sudah menjadi obsesi tersendiri di dunia sepakbola.

Padahal, obsesi tersebut sangat jarang berakhir positif. Sepakbola sebenarnya bisa belajar tentang hal ini dari dunia bola basket. Jauh sebelum sepakbola punya obsesi mengumpulkan talenta-talenta muda dalam satu tim, tepatnya di 1994, Dallas Mavericks pernah terobsesi melakukan hal serupa di National Basketball Association (NBA). Mereka pernah berusaha menggabungkan tiga talenta muda: Jim Jackson, Jamal Mashburn, dan Jason Kidd untuk menjadi tulang punggung tim.

Hanya tiga tahun berselang, ketiga pemain itu tidak lagi berseragam Mavericks. Selama ‘Triple J Ranch’ berkostum Mavericks sekalipun, mereka tidak pernah membawa tim kebanggaan Dallas itu melebihi 10 besar wilayah Barat dan akhirnya selalu gagal menembus playoffs. Padahal, ketiganya memiliki reputasi dan talenta yang sudah diakui dari saat mereka masih sekolah.

Mashburn dan Jackson handal mencetak poin dari bawah ring, terutama saat penetrasi dari sisi sayap lapangan. Sementara Kidd adalah salah satu pengatur serangan terbaik dalam sejarah NBA. Tapi waktu ketiganya disatukan, tanpa ada sosok berpengalaman yang bisa memimpin ketiganya, ego merusak semuanya.

Sepakbola juga sama. Ingat saat Real Madrid membentuk Galacticos? Bagaimana ego pemain sering kali dibahas dan disebut menjadi alasan utama Los Blancos gagal menguasai sepakbola Spanyol dan Eropa? Hal seperti itu juga akan terjadi saat berbagai banyak pemain-pemain muda potensial yang digadang-gadang akan menjadi pemain besar disatukan dalam sebuah tim.

AS Monaco 2018/19 adalah contoh paling nyata dari hal ini. Mereka mendepak Leonardo Jardim dan memilih Thierry Henry sebagai nakhoda tim. Kemudian, Henry yang minim pengalaman melatih diminta untuk membentuk talenta-talenta setengah matang seperti Benjamin Henrichs, Aleksandr Golovin, dan Willem Geubbels menjadi juara Prancis. Les Monégasques pun terpuruk di papan bawah Ligue 1.

Sekalipun ada Radamel Falcao, Kami Glik, dan Diego Benaglio yang berstatus veteran di Stade Louis II, AS Monaco saat itu terlalu banyak mendatangkan pemain baru. Mayoritas berusia muda pula. Suara Falcao, Glik, dan Benaglio pun seakan menjadi minoritas di ruang ganti. Sama seperti Galacticos yang baru dapat meraih kesuksesan saat para pemain tahu peran mereka masing-masing di dalam tim, AS Monaco mulai bangkit saat mereka menambah jumlah pemain senior dan menunjuk kembali Jardim sebagai nakhoda.

Inilah mengapa pemain veteran tetap dibutuhkan di era sepakbola yang terobsesi dengan talenta-talenta muda. Pemilik Chelsea Roman Abramovic bahkan pernah diprotes karena menerapkan kebijakan kontrak bedasarkan umur. Ia seakan memaksa regenerasi tim dengan membatasi durasi perpanjangan kontrak pemain berusia 30 tahun ke atas. Semua pemain yang sudah berkepala tiga hanya dapat diberikan perpanjangan kontrak satu tahun. Wajar saja Frank Lampard, John Terry, Didier Drogba, dan Petr Cech tak pensiun di Stamford Bridge.

King Kazu adalah veteran dari segala definisi, ia merupakan seorang prajurit Yokohama FC yang sudah bertahun-tahun membela klub. Dirinya juga punya pengalaman di atas rata-rata, main di lima negara berbeda yang tersebar di tiga benua. Begitu pula dengan Zlatan Ibrahimovic. Ia juga pernah berjaya di AC Milan pada masa lalu dan sudah pernah menaklukkan berbagai negara bersama klub yang dibelanya.

Komentar