Sensasi Semusim yang Tidak Pernah Padam bagi Jamie Vardy

Analisis

by Adrianus Eduard Johanes

Adrianus Eduard Johanes

"Losing my religion to football"

Sensasi Semusim yang Tidak Pernah Padam bagi Jamie Vardy

Memasuki pekan ke-12, Jamie Vardy berhasil mencetak 12 gol dan mencatatkan dirinya sebagai penyerang paling produktif di Liga Primer Inggris saat ini. Ia terpaut satu gol dari Tammy Abraham di peringkat kedua dan 2 gol dari Sergio Aguero. Bahkan, jika kita lihat lebih jauh, Jamie Vardy merupakan penyerang paling produktif di Liga Primer Inggris sejak bulan Januari 2019 hingga sekarang. Ia terlibat dalam 24 gol Leicester City (gol dan asist) dari 23 laga yang sudah dijalaninya, dan membuatnya diperhitungkan sebagai salah satu penyerang terbaik di Tanah Ratu Elizabeth.

“Sangat penting untuk sebuah tim memiliki pemain seperti Vardy. Ketika dia mendapatkan peluang, ia akan mencetak gol. Dalam beberapa pertandingan, kami mungkin tidak akan memiliki banyak peluang. Tapi sangat penting untuk mencetak satu atau dua gol. Hal-hal kecil dapat menentukan hasil dan kami sangat senang memiliki pemain seperti Vardy,” puji bek Leicester asal Portugal, Ricardo Pereira.

“Sejak pertama dia datang dari Fleetwood, Vardy selalu jadi pemain yang fantastis. Saya rasa dirinya telah mencetak 100 gol untuk Leicester (118 menurut transfermarkt). Di mencetak banyak gol di Liga Primer Inggris, membantu the Foxes jadi juara pada 2016, dan tampil untuk Inggris,” tambah mantan penyerang Leicester periode 1997-2000, Tony Cotee.

“Saya tahu dirinya sudah memutuskan untuk pensiun dari Tim Nasional Inggris. Akan tetapi dirinya masih tampil prima bersama Leicester. Membuka peluang bagi mereka untuk tembus enam besar musim ini,” lanjut Cotee.

Opini Cotee itu didukung juga oleh Kepala Pelatih Inggris Gareth Southgate yang mengaku siap memanggil kembali Vardy jika dibutuhkan. “Kita semua sadar akan kualitas Vardy. Saya berbicara dengan dirinya. Kami sama-sama setuju bahwa saat ini sudah saatnya para pemain muda ambil alih kendali di lini depan. Akan tetapi, pintu tidak pernah tertutup untuknya. Apabila kami butuh pemain berpengalaman untuk masuk, Vardy adalah salah satu kandidatnya,” aku Southgate.

Setelah musim fantastis di tahun 2015/2016, Vardy memang sempat tercoret dari daftar penyerang top Liga Primer Inggris. Ia pun sempat mendapat cap sebagai pemain sensasi semusim layaknya Michu di Swansea. Namun, kedatangan Brendan Rodgers di awal tahun ini tidak hanya membuat Leicester City kembali ke papan atas klasemen, namun juga menepis cap sensasi semusim yang sempat diterima Vardy.

Sensasi Semusim

“Walaupun dia mencetak banyak gol, saya tidak yakin dengan kemampuan Jamie Vardy. Dirinya tidak pernah sekalipun mengangkat kepalanya. Penyerang seperti itu membutuhkan sebuah keberuntungan. Kadang Anda akan mendapatkannya. Terkadang tidak. Menurut saya, Vardy bukanlah penyerang sejati,” ungkap Michael Owen pada 2016.

Liga Primer Inggris 2015/2016 berakhir dengan sebuah kejutan. Leicester City yang setahun sebelumnya harus susah payah menghindari degradasi keluar sebagai juara liga. Unggul 10 poin dari pesaing terdekat mereka, Arsenal. Vardy, Riyad Mahrez, dan N’Golo Kante menjadi bintang utama the Foxes saat itu.

Nama mereka diincar banyak kesebelasan ternama dunia. Vardy dikaitkan dengan Arsenal, Real Madrid, dan FC Barcelona. Mahrez juga disebut menjadi incaran Arsenal dengan Manchester United dan Manchester City sebagai saingan utama the Gunners. Sementara Kante diisukan dekat dengan Real Madrid, Chelsea, dan Liverpool.

Dari ketiga nama tersebut, Vardy dapat disebut sebagai bintang utama Leicester saat menjuarai Liga Primer Inggris 2015/2016. Ia menjadi pencetak gol terbanyak bagi klubnya dengan 24 gol, meski gagal meraih gelar top skor yang kala itu diterima oleh Harry Kane dengan 25 gol.

Kisahnya dari seorang buruh pabrik yang main di liga semi-profesional menjadi pemecah rekor dan juara divisi tertinggi Inggris adalah inspirasi untuk Hollywood. Namun, tidak semua orang percaya pada Vardy. Owen yang pernah main untuk Liverpool, Manchester United, dan Real Madrid adalah salah satu sosok yang meragukan Vardy.

Terlebih, Penampilan the Foxes di 2016/2017 tidak sebaik musim sebelumnya. Tak lagi diperkuat N`golo Kante, skuat asuhan Claudio Ranieri harus berjuang di papan bawah liga. Mereka baru bisa mengamankan diri dari degradasi saat kemudi tak lagi di tangan the Tinkerman –julukan Ranieri.

Vardy yang sebelumnya membobol gawang lawan 24 kali, hanya mampu mencetak 13 gol dan 6 asist pada musim itu. Label sensasi semusim atau ‘one season wonder’ pun mulai disamatkan kepada mantan pemain Halifax Town itu. Kante yang membantu Chelsea menjuarai liga mulai disebut sebagai alasan utama Leicester bisa mengejutkan dunia pada 2015/2016. Bukan Vardy yang ketika itu terlibat dalam 32 dari 68 gol Leicester di liga.

Padahal, dengan 13 gol dan 6 asist yang dicetaknya, Vardy masih menjadi pemain yang paling banyak terlibat dalam proses gol Leicester di musim 2016/2017. Tanpa Vardy, The Foxes akan kehilangan 16 poin dan hanya mengoleksi 28 poin yang akan membuat mereka terdegradasi dari Liga Primer Inggris.

Dua musim berikutnya, Vardy berhasil mengakhiri musim dengan catatan 20 gol dan 18 gol. Torehan ini tentu bukan sembarangan. Tidak banyak penyerang yang berhasil mempertahankan catatan lebih dari 10 gol dalam 4 musim berturut-turut kecuali dia adalah penyerang top Inggris. Namun tetap saja, Vardy belum bisa terlepas dari cap sensasi semusim karena ia akan terus mendapat perbandingan saat membawa Leicester City juara 4 musim yang lalu.

Chat sh*t, get banged!

Mendapat kritik mungkin sudah menjadi rutinitas bagi Jamie Vardy. Saat pertama Leicester City mendaratkan dirinya dengan dana satu juta Pauns dari Fleetwood, banyak suporter the Foxes yang mempertanyakan langkah Nigel Pearson memecahkan rekor transfer Non-League –sebutan untuk liga semi profesional Inggris- untuk memperkuat tim divisi dua Inggris.

Perlahan tapi pasti, Vardy membuktikan dirinya. Membantu Leicester promosi ke Liga Primer Inggris, menyelamatkan mereka dari degradasi, hingga mengangkat piala paling prestisius di Britania Raya. Entah dari mana, muncul status Facebook Vardy pada bulan September 2011, ketika dirinya masih berstatus pemain Fleetwood, “Chat sh*t, get banged”.

Status Facebook tersebut disebarluaskan oleh pendukung Leicester untuk menjawab keraguan sesama mereka yang memprotes pembelian Vardy dari Fleetwood. Kalimat tersebut pun jadi sebuah terminologi baru untuk menjawab kritik seseorang dengan cara mempermalukan mereka. Bahkan dijadikan lagu rap oleh penyanyi Hip-Hop Inggris keturunan Ghana, Tinchy Stryder.

Setelah membantu Leicester menjuarai Liga Primer Inggris 2015/2016, Vardy sadar bahwa banyak orang akan menyebutnya sebagai sensasi semusim. Akan tetapi, dirinya tak terlalu mempedulikan hal tersebut. “Mungkin orang-orang mengira saya hanya sebatas sensasi semusim. Saya juga tidak tahu, kita lihat saja nanti. Fokus saya hanyalah di atas lapangan,” kata Vardy.

Ditinggal Mahrez dan Kante yang sudah mengangkat dua piala Liga Primer Inggris, Vardy tetap bertahan bersama Leicester. Dirinya bahkan menolak kesempatan untuk membela Arsenal, tim yang selalu tampil di kompetisi antar klub Eropa sejak 1996/1997 dan mengangkat Piala FA serta Community Shield sejak mengaku tertarik memboyong Vardy.

“Bukan masalah, yang mereka menangkan bukanlah Liga Premier Inggris. Bagi saya sangat mudah untuk menolak Arsenal. Saya melihat tim ini [Leicester] dan hanya ada satu jalan bagi kami, maju menjadi lebih baik lagi,” kata Vardy.

Diasuh Brendan Rodgers dan mendapat dukungan dari pemain-pemain muda bertenaga seperti James Maddison, Harvey Barnes, dan Ben Chilwell, Vardy kembali membungkam kritik. Melihat kondisi the Foxes, memang hanya ada satu jalan bagi mereka, jadi lebih baik lagi seperti kata Vardy. Untuk mereka yang meragukannya, Chat sh*t, get banged!

Komentar