Memahami 104 Menit Pertandingan di Bali

Analisis

by Adrianus Eduard Johanes Saerong

Adrianus Eduard Johanes Saerong

"Losing my religion to football"

Memahami 104 Menit Pertandingan di Bali

Butuh 104 menit dan 20 detik untuk Persija Jakarta memastikan kemenangan mereka atas Bali United di pekan ke-33 Liga 1 2018. Bermain di tengah atmosfer mencekam stadion Kapten I Wayan Dipta, tim berjuluk Macan Kemayoran berhasil mencatatkan kemenangan tipis 2-1 berkat gol Sandi Sute dan Marko Simic yang hanya mampu dibalas Stefano Lilipaly.

Pertandingan yang berlangsung hingga menit ke-104 jelas tidak lazim. Laga yang dilangsungkan pada Minggu (02/12) malam memang mengalami banyak gangguan. Berkali-kali aksi dari tribun memaksa laga terhenti. Lemparan objek asing ke lapangan dari tribun timur, gulungan kertas, pembakaran suar, hingga aksi kembang api terjadi pada partai ini.

Sekitar 10 menit terakhir pertandingan lebih banyak dihabiskan wasit untuk berdiskusi di pinggir lapangan dibandingkan bermain sepakbola. Yang menjadi aneh kemudian adalah pada babak kedua tidak ada pemberitahuan dari ofisial pertandingan yang mengangkat papan sebagai informasi tambahan waktu. Dengan kata lain, 104 menit itu semua waktu normal.

"Ini bagaimana? Biasanya 45 menit, show (menunjukkan waktu injury time di papan). 90 menit, show," protes Simic kepada ofisial pertandingan.

Ada kejadian di mana penjaga gawang Persija Jakarta, Andritany Ardhiyasa, harus mendapatkan bantuan oksigen setelah menghirup asap dari suar. Tak berapa lama dari insiden itu juga Jumadi Effendi memutuskan untuk mengakhiri laga meski wasit keempat belum atau tidak terlihat mengangkat papan penunjuk tambahan waktu.

Menurut Laws of the Game yang dibuat oleh FIFA, aksi-aksi itu sebenarnya bisa dihitung untuk menentukan tambahan waktu di akhir babak. Laws of the Game 7 menyatakan bahwa tambahan waktu yang diberikan wasit adalah akumulasi dari pergantian pemain, perawatan tim medis di dalam lapangan (termasuk saat menandu pemain keluar), dan hal lain seperti gangguan cuaca juga hal-hal yang membuat laga tidak bisa berjalan.

Akan tetapi jika wasit salah menghitung di babak pertama, hal itu tidak boleh dibayarkan pada 45 menit kedua. Sehingga semua drama sebelum turun minum tidak diperlukan untuk melihat jumlah tambahan waktu di babak kedua. Dalam kasus pertandingan Bali United kontra Persija Jakarta, andaikan Jumadi Efendi memberi tambahan waktu, ada beberapa hal yang harus dilihat:

  • Gulungan kertas masuk ke lapangan dan mengganggu pertandingan (45:48 - 46:27 = 39 detik)
  • Perawatan medis Michael Orah. Tim medis masuk saat waktu pertandingan menunjukkan 57:47 dan keluar 59:07 (80 detik).
  • Pergantian Silva dengan Ramdani Lestaluhu. Peluit pergantian ditiup 59:01 dan Ramdani meninggalkan lapangan 59:44 (43 detik).
  • Lemparan objek asing ke lapangan dari oknum penghuni di tribun timur. Wasit Jumadi menghentikan waktu selama 55 detik karena aksi ini (61:03 - 61:58).
  • Penyalaan suar menghentikan laga selama 842 detik alias 10 menit lebih (62:23 - 76:25).
  • Penyalaan suar setelah Persija mendapatkan penalti (80:43 - 83:20). Suar kembali menghentikan laga, kali ini 157 detik.
  • Suar setelah Stefano Lilipaly mencetak gol. Aksi ini dimulai 95:23 hingga akhirnya pertandingan dilanjutkan pada 103: 24.

Jika dihitung, Jumadi Effendi seharusnya memiliki 1.697 detik atau sekitar 28 menit 28 detik yang bisa dikonversi menjadi tambahan waktu di babak kedua. Artinya, menghitung itu, pertandingan semestinya baru berakhir pada menit ke-118 menit, bukan menit ke-104.

Akan tetapi, sekitar 481 detik di antaranya terjadi setelah menit ke-90 waktu pertandingan. Kejadian yang terjadi setelah waktu normal (menit 90) berakhir biasanya diinterpretasikan sendiri oleh sang pengadil, termasuk wasit keempat.

Jadi, paling minimal, sekitar 1.216 detik termakan di babak kedua. Itu berarti setidaknya Jumadi Effendi memberikan tambahan waktu pertandingan hingga 20 menit setelah waktu normal jika memang dirinya dengan tepat menghitung semua kejadian di atas sebagai sesuatu yang layak dikonversi pada akhir babak. Atas dasar ini, setidaknya, pertandingan baru "selesai" di menit ke-110, yang artinya Jumadi Effendi mengakhiri laga enam menit lebih cepat.

Yang perlu dipahami dalam pertandingan ini, masalahnya boleh jadi bukanlah berapa tambahan waktu yang diberikan dan kenapa tidak adanya tambahan waktu dari wasit keempat. Kelayakan pertandingan untuk terus berlangsung bisa juga menentukan status pertandingan.

Laws of the Game 5 tentang wewenang wasit, dijelaskan bahwa sebagai pengadil boleh menghentikan, menunda, atau memutus laga jika terjadi intervensi dari pihak luar. Intervensi tersebut termasuk pelemparan benda asing yang membahayakan pemain ataupun perangkat pertandingan.

Jika melihat hal ini, pertandingan bisa saja dihentikan sejak menit ke-61 ketika lemparan dari tribun timur mengarah ke lokasi Brwa Nouri dan Ramdani Lestaluhu. Suar juga sempat terlihat masuk ke dalam lapangan. Tapi Jumadi Effendi memutuskan pertandingan terus berlanjut sampai kemudian Jumadi memilih untuk berdiskusi dengan pihak-pihak terkait sampai insiden di penghujung laga membuatnya tak bisa melanjutkan pertandingan.

Salah satu ucapan yang terdengar pada diskusi itu dalam tayangan layar kaca adalah "demi kesehatan". Setelah asap suar naik, dan para pemain sudah mendapatkan perawatan yang dibutuhkan, pertandingan sempat kembali dilangsungkan. Tidak lama setelah itu, tepatnya 55 detik setelah laga kembali dijalankan, peluit panjang dibunyikan.

Dengan situasi itu, Jumadi Effendi bisa dianggap memutuskan laga berakhir di menit ke-84 waktu pertandingan (tanpa menghitung adanya gangguan). Ada enam menit yang dipertaruhkannya. Enam menit inilah yang kemudian menjadi polemik. Di samping kans Persija yang sedang kejar-kejaran dengan PSM Makassar untuk gelar juara, Bali United saat itu sedang dalam kondisi mengejar ketertinggalan setelah berhasil mencetak satu gol balasan. Ada kesempatan untuk Bali United menyamakan kedudukan dalam enam menit pertandingan tersisa (belum termasuk tambahan waktu).

Namun Bali United tampaknya harus menerima ketidakadilan yang terjadi karena pertandingan terhenti lebih dini, yang diakibatkan oleh ulah pendukungnya sendiri. Segala hal yang membuat pertandingan ini terganggu, bahkan mayoritas, merupakan akibat dari tindakan-tindakan suporter mereka sendiri. Jika suporter bertindak sewajarnya, tentu hal ini bisa dihindari.

Soal wasit, Jumadi Effendi tentunya akan melaporkan alasan di balik keputusannya mengakhiri pertandingan lebih cepat pada pengawas pertandingan. Dalam menentukan keputusan itu benar atau keliru, pada akhirnya kita hanya tinggal menunggu keputusan komisi wasit dan komisi disiplin. Jika dianggap benar, Jumadi Effendi tetap akan memimpin laga di laga-laga berikutnya, sementara jika divonis keliru, Jumadi Effendi akan mendapatkan hukuman. Apapun itu, hasil pertandingan ini tidak akan bisa diubah: Persija menang, Bali kalah.

Komentar