Pengamanan "Bubble Match" Jadi Solusi Terbaik Peredam Gesekan Suporter?

Analisis

by Ardy Nurhadi Shufi

Ardy Nurhadi Shufi

Pemimpin Redaksi | Pesepakbola Tarkam | Juru Taktik
ardynshufi@gmail.com

Pengamanan "Bubble Match" Jadi Solusi Terbaik Peredam Gesekan Suporter?

Stadion Gajayana, Malang, menjadi saksi bisu salah satu momen bersejarah rivalitas Bobotoh dan Jakmania. Pada 2009, untuk pertama kalinya sejak 2000, pendukung Persib dan pendukung Persija bisa berada di stadion yang sama menyaksikan laga Persija vs Persib. Sejak akhir 90an, tensi kedua suporter memanas dan bentrokan kerap terjadi.

Empat tahun berselang, giliran Stadion Maguwoharjo, Sleman, yang bisa "menyatukan" Bobotoh dan Jakmania. Juga pada partai usiran antara Persija vs Persib, keduanya berdampingan dan sampai laga berakhir tak ada bentrokan.

Pada 2015 pun para pendukung Persib bisa menjajaki Stadion Gelora Bung Karno, Jakarta, saat hendak mendampingi Persib yang menjalani laga final Piala Presiden. Walau tak bisa dimungkiri saat itu ada insiden kecil seperti pelemparan di titik-titik tertentu, para pendukung Persib tetap bisa kembali pulang dengan selamat.

Tiga laga tersebut menjadi bukti bahwa rivalitas suporter, terpanas sekali pun, telah membuktikan bahwa stadion, sebuah pertandingan sepakbola, bukan tempat meregang nyawa. Walau begitu, ada kesamaan di tiga laga tersebut. Bobotoh yang bertandang ke "markas" Persija dikawal pihak kepolisian sebelum, saat, dan sesudah pertandingan.

Situasi ini dikenal sebagai pengamanan Bubble Match di Inggris. Pertanyaannya, untuk laga-laga berpotensi kericuhan, kenapa pengamanan Bubble Match ini tidak sering dilakukan oleh pihak keamanan di Indonesia?

***

Pada 2009, para pendukung Persib awalnya tidak dibolehkan menyaksikan laga Persija vs Persib di Gajayana karena alasan keamanan. Tapi ternyata sekitar seribuan pendukung Persib nekat tetap berangkat ke Malang untuk mendukung tim kesayangannya. Beruntung kepolisian Malang responsif terhadap situasi—mereka langsung mengawal para pendukung Persib yang ketika itu datang menggunakan kereta api. Saat itu, polisi mengawal pendukung Persib atas inisiatif mereka sendiri. Mereka pun bahkan mengatur sedemikian rupa agar suporter Persib dan Persija tidak bentrok, khususnya saat keduanya keluar stadion dengan cara mengeluarkan masing-masing suporter bergiliran.

Situasi itu juga yang terjadi pada 2013 di Sleman. Sementara pada 2015, polisi langsung mengantisipasi rombongan bobotoh yang berangkat ke GBK sejak dari Bandung.

Penanganan keamanan suporter seperti ini memang merupakan inisiatif pihak keamanan, dalam hal ini kepolisian. Di Inggris sendiri, pengamanan Bubble Match juga hanya dilakukan pada partai-partai panas berpotensi kericuhan. Pihak kepolisian sudah menentukan pertandingan mana saja yang perlu pengamanan khusus dengan membagi tiga kategori level keamanan pertandingan. Hanya pertandingan level C-lah (seperti Millwall vs Leeds, Wrexham vs Chester, dll.) suporter akan dikawal sebelum, saat, sampai sesudah pertandingan.

Pendukung Leeds saat dikawal pihak kepolisian

Ketika pihak keamanan memutuskan sebuah pertandingan masuk dalam level C ini, seperti yang ditulis Brendan O`Neill di Spectator, pendukung tim lawan dilarang datang ke stadion pertandingan sendirian. Para pendukung tim lawan harus mengikuti aturan main yang diberikan pihak keamanan, dimulai dari penukaran voucher untuk tiket pertandingan, titik awal pertemuan, sampai pengecekan suporter apakah terpengaruh alkohol atau tidak.

Hal itu jelas merepotkan pihak keamanan. Saat kepolisian Malang mengawal bobotoh dan momen-momen bubble match lain pun pihak keamanan begitu sibuk. Pengawalan dari pagi hari, mengantar menggunakan truk Dalmas, mensterilkan jalur masuk dan keluar stadion, bahkan jalur disterilkan sampai ke beberapa kota sekitar tempat pertandingan.

Di kesempatan lain, tampaknya kepolisian enggan mempersibuk diri melakukan itu semua. Pada kasus yang terjadi di GBLA kemarin misalnya, mereka berdalih sudah sesuai prosedur keamanan yang ada dengan mengamankan pertandingan dan stadion sampai 3-4 ring. Selain melarang pendukung tim tamu datang, pihak kepolisian juga mengakui sempat meminta jadwal dimundurkan (dari hari libur ke hari kerja) untuk meminimalisasi animo penonton yang tinggi.

Padahal meski pihak keamanan harus bekerja ekstra, sebenarnya banyak keuntungan dengan penerapan pengamanan bubble match. Pertama, keamanan suporter lawan terjamin (akan terhindar dari razia alias sweeping). Kedua, pihak keamanan pun akan menjaga para pendukung tim tamu ini agar tidak berbuat onar di kota tamu. Ketiga, suporter lawan tetap bisa mendukung dengan atribut kesebelasan yang didukungnya.

Keuntungan-keuntungan di atas seharusnya bisa membuat suporter lawan tidak perlu menyaru menjadi suporter tim tuan rumah saat away day. Kasus Haringga, juga Rangga Cipta sebelumnya, terjadi karena suporter tim tamu dilarang datang sementara mereka tidak bisa menahan hasrat mendukung tim kesayangannya secara langsung.

Namun pengamanan bubble match ini sebenarnya tetap memberikan stigma negatif pada suporter. Bahkan di Inggris pun sering muncul petisi penolakan terhadap bubble match. Anggapan itu muncul karena model pengamanan seperti ini hanya dilakukan saat kepolisian mengamankan para kriminal. Menurut mereka, itu tidak adil bagi suporter yang benar-benar berniat menyaksikan pertandingan.

"Pihak kepolisian dan otoritas sepakbola harusnya berkonsentrasi menangani para pembuat onar dan hal-hal lain yang mengganggu secara langsung. Mereka bisa bekerja sama dengan pihak klub dan organisasi suporter," kata Andy Pierce, dalam petisi penolakan bubble match untuk laga Wrexham vs Chester, pada 2015. "Yang tidak terlibat seharusnya tidak perlu mendapatkan pertanggungjawaban. Mayoritas penggemar sepakbola cinta kedamaian, dan mereka itu haruslah memiliki kebebasan bergerak."

Baca juga: Bubble Matches: Sensasi Menonton Seperti Kriminal

Perlakuan "tidak adil" terhadap suporter inilah yang sebenarnya justru memicu perselisihan antara suporter Inggris dengan pihak kepolisian. Oleh karenanya para suporter Inggris justru lebih sering bentrok dengan pihak kepolisian dibanding berselisih dengan suporter lawan. Ini pula yang melahirkan slogan-slogan seperti "All Cops Are Bastard", "Supporters not Criminals", dan lain-lain.

Pengamanan seperti ini juga sebenarnya dipandang negatif oleh pendukung lawan. Tak sedikit pendukung lawan yang menganggap suporter yang bertandang dengan pengamanan ini adalah pengecut. Selain di Indonesia, di Inggris pun demikian. Tapi ini seharusnya bukan persoalan besar selama cara ini bisa mereduksi bentrokan.

***

Kekerasan suporter terjadi tidak hanya karena perilaku barbar semata. Pihak keamanan sampai panitia pelaksana pertandingan pun sebenarnya layak disalahkan jika terjadi sesuatu hal yang tidak diinginkan. Kita jangan melulu menyalahkan suporter.

Pengunduran jadwal, pelarangan suporter tamu datang, apalagi sampai melarang pertandingan disaksikan penonton (kecuali karena hukuman) karena alasan keamanan sebenarnya menjadi awal bagaimana polisi tidak percaya diri dalam mengamankan pertandingan. Padahal suporter seyogyanya tidak perlu ditakuti. Sistem dan metode keamanan dari pihak kepolisian yang baik, benar dan tepat, idealnya akan membuat para suporter takut melakukan keonaran dan benar-benar datang ke stadion dengan tujuan mendukung tim yang didukungnya.

Pengamanan bubble match hanyalah salah satu cara pengamanan yang bisa dicontoh untuk meredam pergesekan antar suporter selagi kedua belah pihak sama-sama bisa menyaksikan tim kesayangannya bertanding. Tapi pengamanan bubble match pun bisa jadi sia-sia jika rivalitas suporternya sendiri memang memiliki latar belakang saling membunuh. Memaknai rivalitas suporter memang perlu terus diedukasikan sampai suporter akar rumput.

Karena melenyapkan rivalitas suporter tidak semudah membalikkan telapak tangan, yang sekarang bisa dilakukan oleh para suporter adalah melenyapkan chant-chant, nyanyian, dan koreo provokatif. Suporter harusnya fokus pada bagaimana caranya meneror lawan lewat dukungan yang diteriakkan dan dinyanyikan pada tim kesayangannya. Jika sudah seperti itu, pertandingan sepakbola Indonesia bisa terhindar dari hal-hal yang tidak diinginkan.

Komentar