Dua Sisi Sayap Madrid yang Menjadi Ruang bagi Spurs

Analisis

by Sandy Firdaus

Sandy Firdaus

Penulis merangkap pewarta. Yang kita tahu sebenarnya adalah kita tidak tahu apa-apa (Noel Gallagher)

Dua Sisi Sayap Madrid yang Menjadi Ruang bagi Spurs

Tottenham Hotspur mencatatkan hasil yang cukup baik dalam matchday ke-4 Liga Champions musim 2017/2018 ini. Menjamu Real Madrid di Stadion Wembley pada Kamis (2/11/2017) dini hari, mereka mampu mengalahkan Madrid dengan skor 3-1. Hasil ini menjadikan Spurs lolos ke babak 16 besar dari Grup H.

Sedangkan bagi Real Madrid, hasil ini menjadi kekalahan pertama mereka dalam babak fase grup Liga Champions, setelah sejak Oktober 2012 silam tidak pernah kalah dalam 30 pertandingan yang sudah mereka lalui dalam ajang fase grup. Kekalahan ini juga sekaligus menambah luka Madrid yang baru saja kalah dari Girona pada pertandingan akhir pekan lalu.

Susunan pemain Spurs dan Real Madrid - Sumber: WhoScored

Pada pertandingan ini, Madrid memainkan pemain-pemain andalannya. Sedikit perubahan diterapkan oleh Zinedine Zidane di posisi full-back kanan dengan memainkan Achraf Hakimi. Cristiano Ronaldo dan Karim Benzema masih menjadi andalan di lini depan. Di sisi Spurs, mereka juga memainkan pemain-pemain terbaiknya, dan ada nama Harry Winks di lini tengah Spurs. Harry Kane masih menjadi andalan Mauricio Pochettino di lini depan.

Namun meski menurunkan pemain-pemain terbaiknya, ada beberapa hal yang pada akhirnya membuat Madrid takluk dari Spurs.

Wing-back, kunci kemenangan Spurs atas Madrid

Mengandalkan formasi dasar 3-5-2 (yang terkadang berubah menjadi 3-4-2-1 atau 5-3-2), Spurs tidak terlalu banyak mengambil inisiatif dalam segi penyerangan. Dari persentase penguasaan bola, mereka kalah jauh dari Los Blancos (37% berbanding 63%). Peluang yang diciptakan Madrid pun lebih banyak, yakni 20 berbanding 11.

Meski tidak terlalu banyak menguasai bola dan tidak terlalu dominan dalam menguasai pertandingan, Spurs menampilkan efektivitas yang cukup baik dalam laga kali ini. Efektivitas itu diwujudkan lewat permainan dua wing-back mereka, Ben Davies di kiri dan Kieran Trippier di kanan. Kedua wing-back ini menjadi kunci ketika Spurs menyerang dan bertahan.

Saat menyerang, baik Trippier maupun Davies kerap memanfaatkan ruang kosong yang ditinggalkan oleh dua full-back Madrid yang acap ikut maju menyerang. Sedangkan ketika bertahan, Davies dan Trippier membantu Toby Alderweireld. Davinson Sanchez serta Jan Vertonghen membentuk skema lima bek yang menyulitkan para penyerang Madrid (ditambah dengan Winks, Dier, dan Eriksen yang kerap ikut bertahan).

Kecenderungan wing-back Spurs ikut membentuk skema lima bek. Sumber: Whoscored

Kontribusi dari para wing-back ini cukup terasa dalam permainan Spurs. Trippier berhasil menorehkan tiga umpan kunci dan satu asis untuk gol Dele Alli di babak pertama. Sedangkan Davies cukup aktif ketika bertahan dengan menorehkan tiga tekel, satu kali intersep, dan delapan kali sapuan. Memang Dele Alli mencetak dua gol dalam laga ini, tapi kontribusi dari wing-back dalam menyerang dan bertahan inilah salah satu kunci sukses Spurs mengalahkan Madrid.

Madrid banyak menciptakan peluang, tapi gagal memanfaatkan peluang

Madrid sebenarnya tidak memiliki masalah dalam hal menciptakan peluang. Dalam laga melawan Girona, mereka juga 14 kali menciptakan peluang. Dalam laga ini, 20 peluang berhasil mereka ciptakan. Suplai dari tengah lewat Luka Modric, Toni Kroos, dan Isco masih lancar, pun suplai lewat sayap dengan total 33 kali umpan silang.

Tapi masalah Madrid bukanlah dalam soal menciptakan peluang, tapi soal memanfaatkan peluang yang mereka dapat. Dalam laga melawan Girona, mereka hanya bisa mencetak satu gol dari 14 kali peluang yang ditorehkan. Pada laga ini, Los Blancos hanya menorehkan satu gol (via Cristiano Ronaldo) dari 20 peluang yang mereka ciptakan. Conversion rate mereka juga cukup rendah, yakni hanya 5% saja.

Sulitnya Madrid dalam memanfaatkan peluang ini, selain karena ketatnya pertahanan Spurs yang menerapkan skema lima bek (plus tiga pemain bertahan), juga karena arah tendangan Madrid yang kebanyakan justru mengarah langsung ke penjaga gawang. Tercatat dari sembilan tembakan mengarah ke gawang milik Madrid, hampir semuanya dapat dimentahkan oleh Hugo Lloris (Lloris mencatatkan delapan saves dalam laga ini).

Meski dari penciptaan peluang Madrid unggul, tapi soal memanfaatkan peluang mereka kalah dari Spurs yang menorehkan tiga gol dari 11 peluang yang mereka ciptakan, dengan persentase conversion rate mencapai 27%.

Ronaldo yang tak bertaji, tapi memecahkan rekor

Cristiano Ronaldo kembali menjadi sorotan. Meski berhasil mencetak gol yang memperkecil kekalahan Madrid atas Spurs pada menit ke-80, ia tidak bisa berbuat lebih dalam laga ini. Walau sudah ditopang oleh rekan satu timnya, sekaligus menjadi pemain yang paling banyak menorehkan tembakan dalam laga kali ini di kubu Madrid (tujuh tembakan, dan lima tembakan mengarah ke gawang), ia tidak bisa berbuat banyak.

Meski tidak bertaji dalam laga ini, ia tetap memecahkan rekor. Golnya ke gawang Spurs ini membuatnya berhasil mencetak gol di 50 stadion berbeda selama menjalani laga away bersama Madrid. Namun apalah artinya rekor ini ketika i tidak bisa membawa Madrid pada kemenangan.

***

Dengan kemenangan ini, Spurs berhasil lolos ke babak 16 besar dengan torehan yang cukup baik, yakni belum pernah sama sekali mencatatkan kekalahan. Catatan Spurs ini menyamai catatan klub Liga Primer lain yang berlaga di Liga Champions, yaitu Manchester City. Mengalahkan Madrid juga menjadi sebuah penahbisan tersendiri bahwa mereka bukan kurcaci di perhelatan Liga Champions ini.

Sementara itu bagi Madrid, kekalahan ini membuat peluang mereka untuk lolos ke babak 16 besar menjadi sedikit lebih berat. Selain itu, pekerjaan rumah yang harus dikerjakan oleh Zinedine Zidane pun menjadi cukup banyak, karena ia harus memotivasi para pemainnya sekaligus mencari cara agar Ronaldo dapat kembali subur seperti sedia kala.

foto: @Squawka

Komentar