Mourinho dan Usahanya Menghilangkan Hantu Sir Alex Ferguson

Analisis

by Sandy Firdaus 28493

Sandy Firdaus

Penulis merangkap pewarta. Yang kita tahu sebenarnya adalah kita tidak tahu apa-apa (Noel Gallagher)

Mourinho dan Usahanya Menghilangkan Hantu Sir Alex Ferguson

Jose Mourinho sedang dilanda kebahagiaan. Tim yang baru ia asuh, Manchester United, meraih kemenangan perdananya dalam laga uji tanding beberapa waktu lalu, melawan Wigan Athletic di DW Stadium pada Sabtu (16/7) malam. United berhasil menang 2-0 lewat gol dari William Keane dan Andreas Pereira.

Selain meraih kemenangan dalam laga perdananya melawan Wigan, meski hanya bertajuk uji tanding, Mourinho pun senang karena ia tahu para suporter mendukungnya. Dalam laga tersebut, para pendukung United yang berada di East Stand DW Stadium, menyanyikan namanya. Nyanyian yang ia balas dengan sebuah lambaian tangan sekaligus ucapan yang sedikit diplomatis.

“Saya senang dengan sambutan dan dukungan dari para suporter, namun alangkah lebih baik jika dukungan itu diberikan juga kepada para pemain. Merekalah yang bertanding di lapangan. Merekalah yang seharusnya didukung. Para suporter harus mendukung Manchester United secara keseluruhan,” ujar Mourinho.

Dengan ucapan seperti itu, dan juga permainan yang ditunjukkan oleh anak asuhnya dalam laga uji tanding melawan Wigan – menyapa suporter dengan lembut, sekaligus meminta mereka untuk mendukung United - adalah salah satu cara dari Mourinho untuk memperkenalkan dirinya kepada suporter.

Permainan apakah yang Mou tunjukkan sebagai salam perkenalannya kepada suporter? Dalam pertandingan melawan Wigan, Mou menggunakan formasi dasar 4-2-3-1, yang menitikberatkan pada penguasaan bola. Hampir mirip seperti apa yang dilakukan Louis van Gaal, namun penguasaan Mourinho ini sedikit lebih direct dan juga dalam tempo tinggi.

Henrikh Mkhitaryan yang ditempatkan sebagai gelandang serang dengan peran no. 10, Luke Shaw yang baru kembali dari cedera, dan pemain-pemain muda warisan Louis van Gaal, semua bermain dengan baik dalam laga uji tanding tersebut. Meski Eric Bertrand Bailly, bek tengah baru United yang didatangkan dari Villarreal, sempat nervous, tapi, semakin berjalannya pertandingan, rasa percaya dirinya pun semakin muncul.

“Mereka semua berusaha untuk memainkan gaya sepakbola saya. Saya bisa melihat para pemain berusaha untuk bermain sesuai dengan arahan saya, dan saya senang. Terimakasih juga kepada Wigan atas pertandingan pra-musim yang hebat ini,” ungkap Mourinho.

Baca Juga: Mourinho yang Akan Membuat Eric Bailly Menjadi Sehebat Raphael Varane

Tapi, masalah yang sebenarnya bukan hanya apa yang diterapkan ataupun apa yang akan dilakukan oleh Mou di United. Tugas utama yang cukup berat yang akan Mourinho jalani cukup satu; menghilangkan bayang-bayang Sir Alex Ferguson dalam tubuh Manchester United. Hal inilah yang gagal dilakukan baik itu oleh David Moyes maupun Louis van Gaal.

Sejak diberikan ‘lampu hijau’ oleh Sir Alex untuk menangani Manchester United pada April 2016, manajemen United pun langsung menyodori kontrak tiga tahun, yang tentunya tidak ditolak oleh seorang Jose Mourinho yang sedang menganggur pasca dipecat oleh Chelsea.

Resmi menjadi manajer Manchester United untuk tiga tahun ke depan, Mourinho pun langsung melakukan pergerakan. Selain bergerak di bursa transfer musim panas dengan mendatangkan pemain-pemain seperti Bailly ataupun Mkhitaryan, ia juga langsung merombak susunan staf kepelatihan United.

Orang-orang yang pernah menghabiskan masa bersama Ferguson, hampir semuanya minggat dari staf kepelatihan United, kecuali nama-nama dalam staf medis serta pelatih tim junior United (Nicky Butt masih menjabat sebagai kepala akademi United dan Warren Joyce sebagai pelatih tim U-21 United). Orang-orang dalam staf kepelatihan tim senior United semuanya adalah orang-orang yang ia bawa, kecuali pelatih kiper karena ia adalah orang yang melatih David de Gea di Atletico Madrid (Emilio Alvarez).

Ia membiarkan Ryan Giggs, orang yang lama menghabiskan masa dengan Ferguson, pergi dengan kesedihan karena gagal menjadi manajer utama United. Sebagai gantinya, ia angkat Rui Faria sebagai asisten manajer, orang yang sudah lama bersama dirinya.

Membelanjakan banyak uang untuk membeli pemain, salah satunya adalah Zlatan Ibrahimovic yang ia datangkan ke United, dengan gaji 200.000 paun per minggu, juga berusaha untuk mendapatkan Paul Pogba dengan harga yang cukup fantastis, 100 juta paun, dilakukan Mou. Sesuatu yang terbilang jarang dilakukan Ferguson, kecuali untuk mempertahankan pemain andalannya.

Dengan mendatangkan orang-orang baru di staf kepelatihan senior, dan juga melakukan kebiasaan-kebiasaan yang jarang dilakukan oleh Sir Alex, The Special One di sini seolah seperti mencoba untuk menghilangkan hantu legenda Sir Alex Ferguson, dengan torehan gelar-gelar fantastis yang sudah "Oppa" Fergie berikan semasa melatih Manchester United.

“Jose (Mourinho) adalah orang yang tepat untuk menggantikan (Sir Alex) Ferguson di United. Ia akan menciptakan sukses di United dengan caranya sendiri, dan tidak akan terlalu memikirkan masa lalu dari United yang bergelimang gelar bersama Ferguson. Jose adalah Sir Alex Ferguson yang baru di United,” ujar salah satu anak asuhnya, Ricardo Carvalho.

Jika melihat sejarah karier manajerial dirinya, Mourinho mungkin saja akan menjadi orang yang tepat untuk menghilangkan bayang-bayang Ferguson di Manchester United. Dengan gayanya sendiri, ia pernah mengantarkan Porto dan Inter Milan menjuarai Liga Champions Eropa. Ia juga berhasil mengalahkan Ferguson dalam perebutan juara Liga Primer Inggris beberapa kali.

Meski memang diakui Mou memiliki sisi negatif, melihat dari masa melatihnya yang tak pernah lebih dari 72 bulan dalam sebuah klub (kecuali empat tahun saat menjadi asisten pelatih di Barcelona), namun, patut dilihat apakah Mou mampu menghilangkan hantu Sir Alex Ferguson, belakangan juga sudah ada di tribun bernama Sir Alex Ferguson stand, yang menghantui United selama tiga tahun ini.

Atau, malah Mou yang terhantui oleh sosok Fergie sehingga gagal berprestasi? Mengingat pengaruh dari Oppa sendiri sangat kuat bahkan sampai membuat gurunya, Louis van Gaal, mundur.

foto: Wikimedia

Komentar