Jan Oblak Sebagai Tembok Terakhir Atlético

Analisis

by Dex Glenniza

Dex Glenniza

Your personal football analyst. Contributor of Pandit Football Indonesia, manager of Box2Box Media Network, podcaster of Footballieur, creative writer of Tirto.ID, MSc sport science, BSc architecture, licensed football coach... Who cares anyway! @dexglenniza

Jan Oblak Sebagai Tembok Terakhir Atlético

Perempat-final Liga Champions dini hari tadi (15/04) langsung mempertemukan sebuah derby Madrid: Atlético Madrid melawan Real Madrid. Pertandingan leg pertama yang dilangsungkan di Estadio Vicente Calderón, Madrid, kandang Atlético Madrid ini, berakhir imbang tanpa gol. Baik Atlético maupun Real Madrid tidak berhasil mencetak satu pun gol, meskipun tercipta 25 tembakan ke arah gawang.

Atlético dikenal sebagai kesebelasan yang memulai pertandingan dengan cepat, tetapi sebenarnya, mereka berjuang di babak pertama. Kesalahan awal dari Diego Godín berhasil membuat Gareth Bale mendapatkan peluang bagus, tapi penjaga gawang Jan Oblak berhasil menyelamatkannya dengan fantastis. Ya, sebuah penyelamatan di awal laga itu adalah awal dari peran penting dari pemain kunci pada pertandingan ini: Jan Oblak.

Sepanjang 90 menit, Real Madrid terbukti bisa meladeni tekanan Atlético. Pada akhirnya, meskipun bermain di kandang lawan, Real bisa lebih banyak melepaskan tembakan, yaitu 17 berbanding 8. Ronaldo cs juga berhasil melepaskan tembakan tepat sasaran yang lebih banyak, dengan 8 kali, dan Atlético 6 kali.

Jika Real berhasil mencetak 8 shot on target dari total 17 tembakan, itu bukanlah sesuatu yang buruk, apalagi dengan lawan yang disiplin seperti Atlético. Jadi, apa sesungguhnya masalah Real sehingga mereka tak kunjung bisa memecah kebuntuan?

Grafik penyelamatan Jan Oblak - sumber: Squawka
Grafik penyelamatan Jan Oblak - sumber: Squawka

Ya, dini hari tadi Jan Oblak patut diberi gelar pemain terbaik akibat dari 8 penyelamatannya. Sepanjang 90 menit, penjaga gawang asal Slovenia ini berhasil menepis empat tembakan Real dan menangkap dengan baik empat sisanya. Memang ada sejumlah permainan defensif yang sangat baik dini hari tadi. Tapi jujur, Atlético akan kebobolan setidaknya dua kali di babak pertama jika bukan karena kiper mereka.

Simeone dianggap jitu telah memilih Oblak dibandingkan dengan Miguel Ángel Moyà yang memang performanya sedang menurun. Ia adalah faktor pembeda dalam pertandingan ini.

Perjalanan Oblak di Atlético

Menggantikan posisi Thibaut Courtois tidak pernah akan menjadi pekerjaan yang  mudah bagi siapa saja. Tapi, menilai penampilan Oblak dini hari tadi, tampaknya Atlético Madrid telah berhasil melakukannya. Jadi, dari mana Atletico bisa mendapatkan Oblak?

Oblak sama sekali tidak murah. Bahkan, uang sejumlah 16 juta euro (12,8 juta poundsterling) menjadi mahar kedatangannya dari SL Benfica. Angka ini menjadikannya sebagai kiper termahal dalam sejarah La Liga pada musim panas kemarin.

Oblak tampil mengesankan di Portugal. Dia membangun reputasi dirinya di Estádio da Luz di paruh kedua musim lalu. Namun, ia bertekad untuk melanjutkan ke tantangan berikutnya. "Benfica ingin saya tinggal dan presiden telah melakukan segalanya untuk menghentikan kepergian saya, tapi keinginan saya adalah untuk bermain untuk Atlético," kata Oblak kepada A Bola pada Juni tahun lalu.

"Faktor uang bukan alasan utama, tetapi kondisinya jauh lebih baik. Sejak saya masih kecil saya bermimpi tentang bermain di Liga Spanyol. Ini selalu merupakan tantangan besar yang saya ingin ambil," tutur Oblak

Butuh waktu bagi Oblak untuk membuat kesan karena Atlético juga memiliki Miguel Ángel Moyà yang didatangkan pada saat yang sama dari Getafe. Moyà menjadi kiper utama Atlético sejak ia datang.

Namun, sebelum istirahat musim dingin, penampilan Moyà terus menurun terutama di Liga Champions dengan kekalahan 3-2 saat melawan Olympiakos, serta beberapa penampilan buruknya di Copa del Rey terutama saat melawan L'Hospitalet.

"Pelatih memutuskan siapa yang bermain. Saya hanya menunggu keputusannya. Saya tidak berpikir tentang mengambil tempat Moyà. Saya hanya berpikir tentang melakukan pekerjaan dengan baik setiap hari," sebut Oblak.

Setelah itu, Oblak bermain mengesankan saat menjaga clean sheet saat melawan Real Madrid di Copa del Rey pada ulang tahunnya yang ke-22. Kemudian, ia juga berhasil menyelamatkan tendangan penalti Lionel Messi pada babak berikutnya.

Kesempatan besar datang ketika Moyà cedera selama babak pertama pertandingan Atlético melawan Bayer 04 Leverkusen di babak 16 besar Liga Champions. Oblak bermain dan mementahkan tidak kurang dari tiga peluang Leverkusen. "Anda tidak pernah bisa berhenti bekerja keras karena Anda dapat menemukan diri Anda bermain di pertandingan yang paling penting," kata pelatih Atlético, Diego Simeone, setelah pertandingan itu. Ini yang menjadi titik balik bagi Oblak.

Dia mempertahankan tempatnya di tim meskipun Moyà sudah pulih dari cedera.

Pertandingan penuh adu taktik dan fisik di Vicente Calderón

"Mereka adalah salah satu tim terbaik di dunia saat bertahan. Oblak melakukan pekerjaan yang luar biasa," kata Ancelotti setelah pertandingan dini hari tadi.

Simeone yang terkenal sebagai motivator juga terkesan dengan kinerja kipernya itu. "Di babak pertama, Oblak bermain sangat baik, terutama pada peluang Bale."

Simeone juga tidak ingin menyalahkan Sergio Ramos untuk sebuah insiden yang membuat Mario Mandžuki? sempat meninggalkan lapangan dengan wajah berlumuran darah.

Mandzukic_berdarah

Kedua pemain bentrok saat berduel bola udara dan siku Ramos mebentur wajah pemain asal Kroasia itu.

"Mandžuki? memiliki permainan keras, dan ia harus bertanding melawan Ramos dan Varane yang juga luar biasa. Benturannya dengan Ramos terjadi tanpa maksud kesengajaan, jadi mari kita berbicara tidak lebih dari itu."

Pada pertandingan dini hari tadi, statistik menunjukkan bahwa Real Madrid adalah kesebelasan yang lebih produktif dalam hal peluang yang diciptakan. Secara keseluruhan, hasil imbang adalah hasil yang adil.

Atlético tidak pantas untuk menang. Tetapi pada keseimbangan permainan, mereka juga melakukan terlalu banyak hal untuk tidak kalah, terutama Oblak.

Real Madrid kini telah bermain melawan Atlético sebanyak tujuh kali di empat kompetisi musim ini dan gagal untuk mencatat satu pun kemenangan. Ini adalah masalah besar bagi Ancelotti.

Setiap skor imbang di leg ke dua akan membuat Atlético lebih diunggulkan, apalagi jika mereka berhasil mencetak gol.

Pertandingan antara Atlético Madrid melawan Real Madrid adalah cermin dari pertandingan yang sudah baik (namun sayangnya buntu) secara taktis dari kedua kesebelasan. Masalahnya tinggal: siapa yang bisa bermain konsisten dengan taktiknya lebih lama, lebih dari sekadar 90 menit.

Dan skor 0-0  semalam  adalah anugerah tersendiri bagi para penikmat sepakbola taktis, bukan hanya sekedar gol. Tapi apalah arti sepakbola tanpa gol? Semoga ada beberapa hal yang berubah di leg ke dua nanti pada tengah pekan depan.

Analisis selengkapnya dapat Anda baca di #AboutTheGame Detik Sports: Analisis Pertandingan Atlético Madrid 0-0 Real Madrid: Tekanan yang Dilawan dengan Tekanan Balik

Sumber: Daily Mail, Sky Sports

Komentar