Prediksi Pertandingan Real Madrid vs Barcelona

Analisis

by Frasetya Vady Aditya

Frasetya Vady Aditya

Penyunting. Jangan terkekang; sepakbola cuma cangkang. Kontak: vady.aditya@gmail.com

Prediksi Pertandingan Real Madrid vs Barcelona

Ada faktor tambahan yang membuat El Clasico musim ini amat ditunggu-tunggu, bukan hanya oleh fans, tapi juga oleh penikmat sepakbola sejagat. Pertama, kedua tim tengah berada dalam kondisi prima setelah tidak pernah kalah dalam lima pertandingan terakhir di liga. Kedua, aktor yang ditunggu-tunggu akhirnya bermain (baca: Luis Suarez).

Musim 2013/2014, Real Madrid tak sekalipun meraih kemenangan atas Barcelona. Di kandang Barcelona mereka kalah 1-2, dan di kandang sendiri dipermalukan 3-4.

Namun, kini kondisinya berbeda. Secara taktik kedua kesebelasan menerapkan pendekatan yang tak lagi sama. Tiki-taka di Barcelona tak begitu kentara, sementara Madrid mulai mengandalkan penguasaan bola lewat umpan-umpan pendek.

Tren Menanjak Performa Real Madrid

Setelah mengawali liga dengan tertatih-tatih, pelatih Madrid, Carlo Ancelotti mulai menemukan skema yang tepat. Gagal menjuarai Piala Super Spanyol dari saudara sekota, menunjukkan adanya ketidaksinambungan di lini tengah Los Blancos, julukan Real Madrid.

Kehadiran James Rodriguez dan Toni Kroos masih belum terasa manfaatnya. Rodriguez yang terbiasa mengeksploitasi lini tengah lawan, dipatok bermain di sayap untuk memberikan umpan. Sedangkan Kroos yang memiliki posisi mirip dengan Rodriguez dipaksa bermain lebih defensif.

Di awal musim, Madrid “hanya” menang 2-0 atas tim yang baru promosi, Cordoba. Namun, di dua pertandingan selanjutnya, mereka dipermalukan 2-4 atas tim tuan rumah Real Sociedad, dan 1-2 dari (lagi-lagi) Atletico Madrid.

Kegamangan di lini tengah, juga karena faktor kepindahan Xabi Alonso ke Bayern Munich. Kepindahan Angel Di Maria ke United membuat awan mendung tak henti-hentinya menaungi Santiago Bernabeu. Banyak yang menganggap Rodriguez maupun Isco masih belum mampu menyaingi efektivitas permainan Di Maria.

Perlahan, hasil positif terus diraih El Real. Kemenangan besar 5-1 atas Basel di kandang sendiri, dan 8-2 atas Deportivo La Coruna, membuat moral serta kepercayaan diri Cristiano Ronaldo dan kolega beranjak naik. Setelah itu, mereka mencetak lima gol di tiga pertandingan: Madrid 5-1 Elche,  Madrid 5-0 Athletic Bilbao, dan Levante 0-5 Real Madrid. Catatan gol yang impresif ini menjadikan Madrid sebagai klub paling produktif di liga.

Terdapat sejumlah faktor yang membuat kemenangan tersebut terasa amat mutlak. Carlo Ancelotti menerapkan formasi 4-4-2 dengan menempatkan Ronaldo dan Bale atau Benzema di lini depan. Kedua sisi Madrid dihuni Rodriguez yang diputar ke sayap kanan, dan Isco di sayap kiri.

Formasi ini terbilang efektif terutama memaksimalkan peran Isco di sayap kiri. Pemindahan posisi Rodriguez ke sayap kanan pun terbilang tepat. Ia seolah mendapatkan posisi yang tepat di Real Madrid.

Memang, tak semua pertandingan dilalui melalui skema 4-4-2. Ia menggunakan formasi 4-3-3 dan menempatkan dua penyerang sayap.

Secara statistik, formasi 4-3-3 membuat Madrid begitu ofensif. Namun dengan 4-4-2, Madrid mendapat keseimbangan antar lini.

Bukan Cuma Messi

Barcelona datang ke Santiago Bernabeu dengan rekor yang mengesankan. Mereka hanya sekali ditahan imbang, dan memenangkan tujuh pertandingan di liga. Catatan ini makin membuat berdecak kagum karena mereka mencetak 22 gol atau terbanyak kedua setelah Real Madrid, tanpa sekalipun kebobolan!

Bisa dibilang, hasil yang diraih Barcelona tak lepas dari taktik yang diterapkan sang pelatih, Luis Enrique. Ia datang dengan pendekatan yang berbeda dengan membawa Barcelona seolah seperti tim yang sulit untuk dikalahkan.

Mungkin, karena faktor embargo transfer dan aturan financial fair play, membuat Enrique fokus menurunkan pemain muda. Siapa tak kenal Munir El Haddadi. Dalam debutnya di liga, ia mencetak satu gol dan sekali membentur tiang.

Enrique pun berani menurunkan Sergi Samper, Sergi Roberto, dan Marc Bartra di pertandingan Liga Champions. Padahal, ketiga pemain tersebut bukanlah pilihan utama Barcelona di era pelatih sebelumnya.

Musim ini, karena ketiadaan stok penyerang tengah, peran Messi pun berubah. Ia bermain di jantung pertahanan lawan. Ia tak lagi berfungsi sebagai penyuplai bola ke lini serang, tetapi bertugas sebagai penerima, sekaligus pengeksekusi bola.

Sayangnya, hal ini menjadikannya sebagai kelemahan serangan Barca. Messi terkadang masih sulit memberikan umpan kepada rekan-rekannya saat mencapai kotak penalti lawan. Upaya yang ia lakukan seringkali tidak terarah. Selain itu, pemain Barca mestinya tidak menyianyiakan peluang jika ingin menang atas Madrid. Karena sekecil apapun peluang mesti dikonversi menjadi gol.

Hal ini terlihat saat Barcelona menang 3-1 atas Ajax di Liga Champions. Setelah mencetak dua gol, mereka terlihat bermain dengan tenang, bahkan kelewat santai. Saat ada peluang yang tersiakan, masih terlihat sunggingan di wajah mereka.

Di babak kedua, wajah-wajah tadi menjadi lebih tegang, saat mereka tak mampu menyelesaikan peluang. Apalagi, pada menit ke-87 Ajax berhasil memperkecil ketertinggalan.

Perbedaan Enrique dengan Pep, Tito, ataupun Gerardo Martino adalah ia berani menarik pemain-pemain yang dianggap tak tersentuh seperti Lionel Messi, Neymar, dan Iniesta. Pergantian ini tak lepas dari perubahan taktik yang nantinya digunakan Barcelona dalam pertandingan.

Sehingga meski menerapkan 4-3-3 dengan komposisi pemain dengan posisi yang sama, tapi hasilnya akan berbeda tergantung dari skema apa yang akan diterapkan.

Prediksi

Pertandingan diprediksi ketat dengan kedua tim silih berganti serangan. Madrid dapat memaksimalkan serangan lewat sayap yang kemungkinan sulit diantisipasi pemain Barcelona. Sementara itu, lini tengah kemungkinan bisa dikuasai trio gelandang Barcelona yang dihuni Iniesta, Busquets, dan Rakitic.

Jika hitung-hitungan efektivitas permainan, Barcelona kemungkinan bisa unggul di pertandingan ini. Namun, jangan lupakan, faktor bermain di kandang membuat sorakan dari penonton bisa saja memengaruhi psikologis pemain muda Barcelona. Pun sebaliknya.

Amat sulit memperkirakan apa yang akan terjadi di lapangan. Performa menanjak Ronaldo akan disaingi kehadiran Luis Suarez di lini depan Barcelona.

Real Madrid kemungkinan memiliki masalah soal kebugaran, karena baru bermain di Liga Champions pada Kamis (23/10) dini hari. Itu pun mereka mesti terbang dari Liverpool. Di kubu Barcelona ada kekhawatiran soal keunggulan penguasaan bola yang secara tradisional, selalu mereka menangkan. Barcelona yang ada saat ini, tak terlalu memerdulikan hal itu. Ini yang nantinya bisa menjadi celah Madrid untuk mengepung pertahanan El Barca.

Pertandingan kemungkinan berakhir imbang dan kalau pun ada yang menang, kemenangan lebih condong untuk Real Madrid.

Sumber gambar: purelyfootball.com

Komentar