Mengapa Real Madrid Bisa Kalah dari Atletico?

Analisis

by Frasetya Vady Aditya

Frasetya Vady Aditya

Penyunting. Jangan terkekang; sepakbola cuma cangkang. Kontak: vady.aditya@gmail.com

Mengapa  Real Madrid Bisa Kalah dari Atletico?

Musim ini, Real Madrid menjelma menjadi tim yang secara teori menakutkan. Sulit membayangkan jumlah gol yang akan dicetak oleh kombinasi Cristiano Ronaldo, Gareth Bale, James Rodriguez, Karim Benzema, dan Toni Kroos. Sulit pula membayangkan bagaimana investasi 240 juta pounds untuk tiga nama pertama, akan berpengaruh pada permainan tim.

El Real sempat menghadirkan asa meraih sextuple setelah menang 2-0 atas Sevilla, dalam perebutan gelar Piala Super Eropa. Berkaca pada penampilan tersebut, El Real dijagokan menang atas Atletico Madrid yang ditinggalkan sejumlah pemain inti.

Di leg pertama Piala Super Spanyol, Madrid menguasai penuh permainan. Sedikitnya ada dua peluang yang bisa dikonversi menjadi gol. Namun, kekacauan lini belakang dalam menghalau bola tendangan pojok, membuat Atleti menyamakan kedudukan. Skor pun berakhir imbang 1-1. Secara perlahan, celah di lini pertahanan Los Blancos pun mulai terlihat.

Tiga Gelandang Tidak Cukup

Dalam dua pertandingan terakhir, Ancelotti gemar memasang Toni Kroos dan Luka Modric. Dengan tiga gelandang, lantas siapa yang memiliki tugas sebagai penyeimbang? Kroos, atau Xabi Alonso? Yang jelas, keduanya tidak berposisi natural sebagai gelandang bertahan.

Celah ini yang bisa terlihat di leg pertama. Meski bisa dihitung dengan jari, tapi serangan balik Atletico kebanyakan berhasil mencapai kotak penalti El Real. Tiga gelandang yang ada tidak mengakomodasi pertahanan Real Madrid. Orientasi untuk menyerang, jauh lebih dominan.

Maka, duet Kroos-Modric ataupun Modric-Alonso-Kroos tidak akan pernah menjamin lini tengah El Real akan padu dalam menggalang pertahanan.

Tidak Bisa Memaksimalkan Rodriguez

Mengapa saat di timnas Kolombia, James Rodriguez begitu menonjol, sedangkan di Real Madrid, ia tak lebih dari sekadar pemain “biasa”?

Jawabannya adalah karena Rodriguez tidak ditempatkan pada posisi ideal di mana ia biasa bermain. Ancelotti menyimpan Rodriguez di posisi gelandang kiri pada formasi 4-3-3-. Ini tidak lain karena ia ingin memainkan Rodriguez bersamaan dengan Kroos, Ronaldo, Bale, dan Benzema. Visi bermain Rodriguez menjadi tidak diperlukan karena ia diplot untuk memberi umpan silang dari sayap kiri, satu hal yang bukan menjadi kebiasaannya.

Memaksakan Rodriguez berarti memarkir pemain yang biasa bermain di posisi tersebut. Dampak yang paling nyata terlihat pada Angel Di Maria dan Sami Kheidiria. Tidak puas dengan kondisi tersebut, keduanya diisukan akan hengkang.

Menganggap Di Maria “Tidak Penting”

Di akhir pertandingan leg kedua, Ancelotti menyatakan ia tidak menurunkan Di Maria karenan urusan teknis. Ia menganggap El Real tak lagi membutuhkan Di Maria. Hal ini memberi pertanyaan besar karena Di Maria adalah salah satu pemberi umpan silang terbaik di Real Madrid. Kemampuannya belum mampu disaingi Modric ataupun Isco.

Ancelotti lebih memilih memasang Rodriguez sebagai winger kiri. Posisi yang seharusnya bisa diemban secara sempurna oleh Di Maria, seperti saat El Real menumbangkan Atletico pada partai Final Liga Champions 2014.

Garis Pertahanan Rendah

Ini yang menjadi kendala utama Real Madrid dalam pertandingan semalam. Ini yang membuat lini serang Los Blancos tertahan di depan kotak penalti. Jangan heran jika dari 14 attemps hanya dua yang mengarah ke gawang. Itu pun tidak bisa dikategorikan berbahaya.

Tidak Adanya Penyalur Bola di Lini Tengah

Peran Kroos di lini tengah amat vital. Ia tidak hanya sebagai penyalur bola dari lini belakang ke lini depan, tapi juga sebagai pengatur aliran bola itu sendiri. Anehnya, Ancelotti menariknya keluar pada awal babak kedua dan menggantinya dengan Ronaldo.

Akibatnya, lini tengah Real Madrid kerap kesulitan untuk mengalirkan bola ke depan. Bola selalu diberikan ke sayap yang ditempati Ronaldo dan Bale. Padahal, di sisi ini poros ganda Atleti sudah siap menghadang.

Sumber gambar: alertadigital.com

 

Komentar