Pengalaman Menonton Mola TV dan Streaming Ilegal

Advetorial

by redaksi

Pengalaman Menonton Mola TV dan Streaming Ilegal

Daya beli masyarakat Indonesia yang masih rendah membuat akses terhadap streaming ilegal terus menjadi alternatif dalam mengonsumsi konten audio dan visual, termasuk siaran sepakbola. Hadirnya Mola TV sebagai pemegang hak siar Premier League—liga sepakbola domestik yang paling banyak ditonton di dunia—juga tak membuat praktik melanggar hukum ini berhenti.

Gara-gara anggapan umum menonton Premier League susah dan mahal, banyak yang masih mencari tautan streaming ilegal. Streaming ilegal memang murah, mendekati gratis bahkan jika mengesampingkan pemakaian kuota internet.

Beberapa waktu lalu, kami sempat melakukan survei kepada penonton Premier League, beberapa pertanyaan berkaitan soal streaming ilegal ini. Ternyata setelah Mola TV mengambil alih hak siar Premier League di Indonesia, banyak yang kesulitan mencari link streaming ilegal.

Baca juga: Kalau Ada Streaming Ilegal yang Gratis, Kenapa Harus Bayar?

Sementara perkara kesadaran moral, banyak juga yang tak merasa bersalah (berdosa) dengan mengakses streaming ilegal meski itu jelas bentuk pembajakan (bukan hanya bagi pembajak dan distributor, melainkan penontonnya juga).

Secara umum, streaming ilegal juga berisiko terhadap penyalahgunaan data pengguna. Jadi selain pengaksesnya bisa dikriminalisasi, gawai atau perangkat yang digunakan untuk mengakses streaming ilegal juga bisa terinfeksi berbagai macam virus. Meski, sejujurnya, kadang itu tak punya banyak pengaruh jika sudah membicarakan isu ekonomi.

Membandingkan Mola Web, Mola App, dan Streaming Ilegal

Nah, kalau skema streaming Premier League yang legal sekarang, ada Mola TV. Mola TV sendiri menyediakan platform streaming yang bisa diakses dari situs (Mola web) maupun aplikasi (Mola app). Gratis, meski jumlah pertandingannya terbatas, yaitu empat per pekan pertandingan.

Malahan device Mola TV yang katanya mahal itu juga skemanya sama seperti streaming. Maka dari itu, nama device-nya saja “Mola Polytron Streaming”.

Namun karena di Mola web dan app yang gratis juga hanya empat pertandingan per pekan, wajar kalau penonton tetap mencari link streaming ilegal. Apalagi untuk pertandingan-pertandingan yang tak disiarkan di Mola web dan app.

Untuk itu, kami membandingkan pengalaman antara menonton pertandingan Premier League di Mola web, Mola app, dan streaming ilegal. Tiga hal utama yang ingin kami bandingkan adalah stabilitas, kuota internet yang terpakai, dan waktu delay.

Perbandingan Stabilitas, Kuota, dan Waktu Delay

Pertama, dari segi stabilitas. Mola web dan app jauh lebih stabil. Streaming ilegal sering putus dan banyak iklan pop-up yang muncul.

Mola web dan app sebenarnya juga berpotensi putus, tapi jika itu terjadi, pengguna hanya tinggal me-refresh dan memainkan ulang tautan pertandingan tersebut. Sementara pada streaming ilegal, pengguna kadang harus mencari tautan baru yang memiliki banyak iklan lagi.

Kedua, dari kuota. Pada ekperimen yang kami lakukan, Mola web menghabiskan 0,79 GB, Mola app 0.82 GB, dan streaming ilegal 1,63 GB.

Secara umum, satu pertandingan biasa menghabiskan kuota 1 sampai 1,5 GB, tergantung stabilitas dan kualitas gambar yang dipilih. Mola app seharusnya bisa lebih hemat kuota karena ditampilkan pada layar gawai yang lebih kecil. Dengan kualitas gambar 480p juga sudah cukup untuk di layar kecil.

Ketiga, soal waktu delay. Ini yang paling kelihatan. Jika memakai TVRI sebagai standar real-time, Mola web dan app memiliki selisih waktu 18-60 detik dengan real-time, sementara streaming ilegal 100-150 detik.

Kenapa streaming ilegal ini lebih lama delay-nya, itu pernah kami jelaskan pada tulisan Streaming Ilegal: Kalau Ada yang Gratis, Kenapa Harus Bayar?”, yaitu karena streaming ilegal membajak siaran yang ada, sehingga sampai ke layar penonton melalui banyak perantara.

Bagaimana dengan Mola Polytron Streaming?

Selain Mola web dan app, Mola juga memiliki produk Mola Polytron Streaming. Menonton pertandingan dari device ini pengaruhnya tak jauh berbeda dibandingkan dengan web dan app.

Gambar yang dihasilkan Mola Polytron Streaming lebih stabil dan bagus karena dipasang di televisi, yang secara default memiliki kualitas gambar jauh di atas layar gawai. Kemudian untuk waktu delay juga tak jauh berbeda daripada web dan app, yaitu 25-60 detik.

Masalah kuota, kami juga sempat melakukan eksperimen. Hasilnya, menonton satu pertandingan di Mola Polytron Streaming dengan kualitas auto (berdasarkan pengamatan, tak pernah di bawah 720p) menghabiskan kuota internet 2 GB.

Pada intinya, menonton dari Mola Polytron Streaming ini sangat cocok jika penonton menyaksikan pertandingan bersama-sama, atau bisa juga sendirian dengan standar pribadi yang tinggi.

Dari eksperimen yang kami lakukan, kami mendapatkan kesimpulan jika Mola lebih stabil, lebih murah secara kuota, lebih mudah, lebih tidak delay, dan jauh lebih aman daripada streaming ilegal.

Namun kami sadar, sampai kapanpun dan semurah apapun pemegang hak siar resmi (meski kami yakin hak siar Premier League akan selalu mahal), streaming ilegal akan terus dicari. Bagi Mola, kami menyarankan sebaiknya mulai menggencarkan investasi pada Mola web dan app demi kemudahan penonton.

Ini penting karena ke depannya, streaming akan menjadi ujung tombak hak siar, bukan hanya di Indonesia, tapi juga di dunia. Jadi, masyarakat harus dibiasakan dengan budayanya, terutama yang legal.

Video eksperimen selengkapnya bisa ditonton di bawah ini:

Komentar