Indonesia vs Irak : Pertahanan Mudah Terdisorganisasi, Indonesia Gagal Menahan Irak

Analisis

by Bayu Aji Sidiq Pramono

Bayu Aji Sidiq Pramono

Pandit Football Indonesia mengkhususkan pada analisis pertandingan sepakbola, statistik dan liga, juga sejarah perkembangan sepakbola dan evolusi taktiknya

Indonesia vs Irak : Pertahanan Mudah Terdisorganisasi, Indonesia Gagal Menahan Irak

Laga perdana tim nasional Indonesia di Piala Asia 2023 berakhir dengan kekalahan. Tim berjuluk Garuda tersebut takluk dari tim nasional Irak dengan skor 1-3. Singa Mesopotamia unggul lebih dulu lewat gol Mohanad Ali (17’). Indonesia sempat menyamakan kedudukan berkat sepakan Marselino Ferdinan (37’). Tiga poin akhirnya sirna setelah Irak mencetak gol kedua dan ketiga dari kaki Osama Rashid (45’) dan Aymen Hussein (75’). Hasil ini membawa Irak ke peringkat kedua Grup D di bawah Jepang sekaligus mengirim Indonesia ke dasar klasemen di bawah Vietnam.

Indonesia tampil dengan pemain-pemain yang sering tampil dalam tiga laga uji coba sebelumnya. Shin Tae-yong turun dengan formasi dasar 3-4-2-1 dengan memasangkan Ivar Jenner dan Justin Hubner di lini tengah. Jordi Amat, Rizky Ridho, dan Elkan Baggott mengawal pertahanan di depan Ernando Ari. Yakob Sayuri yang biasanya dipasang sebagai bek sayap kanan, kali ini didorong lebih ke depan sementara posisinya diisi oleh sang kapten, Asnawi Mangkualam. Di lini depan, Shin memasang Rafael Struick sebagai penyerang tengah.


Di kubu lawan, Jesus Casas memasang formasi dasar 4-2-3-1. Teman lama Ivar Jenner, Zidane Iqbal, berperan sebagai gelandang serang di belakang Mohanad Ali. Amir Al-Ammari dan Osama Rashid berperan sebagai double pivot di antara lini belakang dan lini depan. Sementara Aymen Hussein yang sudah mencetak tiga gol pada musim 2023/2024 duduk di bangku cadangan.

Organisasi dan Koordinasi Pertahanan

Indonesia sejak awal pertandingan terlihat lebih ingin mengutamakan aspek pertahanan. Jika melihat komposisi pemain yang diturunkan, tujuh dari sebelas pemain yang masuk ke sebelas pertama memiliki atribut bertahan lebih banyak dibanding menyerang. Di sektor gelandang, Shin Tae-yong menempatkan Justin Hubner sebagai gelandang bertahan di samping Ivar Jenner. Keputusan tersebut kemungkinan besar diambil karena Hubner sering dipasang sebagai bek tengah sehingga punya insting bertahan yang lebih tinggi. Begitu juga dengan sayap kanan, Shin memasang dua bek sayap kanannya bersamaan, Yakob Sayuri dan Asnawi Mangkualam. Shin tidak memasang pemain sayap murni dengan harapan Yakob dan Asnawi lebih disiplin dalam bertahan.

Meski Shin Tae-yong memasang banyak pemain bertipe bertahan, tidak menghindarkan mereka dari kebobolan. Data dari transfermrkt menunjukan bahwa Indonesia menderita 15 tembakan selama 90 menit yang tuju di antaranya tepat sasaran. Penampilan Ernando Ari patut diberi apresiasi sebab beberapa kali menyelamatkan gawang dengan penempatan posisi dan reaksi cepatnya, meski harus memungut bola dari gawangnya sebanyak tiga kali.

Masalah utama pertahanan Indonesia adalah struktur pertahanan yang terlihat tidak terkoordinasi dan mudah terdisorganisasi. Tiga bek tengah punya porsi besar dalam membentuk pertahanan yang kokoh namun pada laga ini, Elkan Baggott, Jordi Amat, dan Rizky Ridho justru sering menjadi pemain yang menyebabkan struktur bertahan Indonesia menjadi tidak beraturan. Gol pertama Irak adalah contoh sempurna untuk menunjukan kelemahan tersebut.

Ilustrasi Awal Terciptanya Gol Pertama

(Sumber : Tangkapan Layar dari Kanal Youtube RCTI Entertainment)

Gol pertama Irak dimulai dari build up lewat tengah. Indonesia bertahan dengan garis pertahanan cukup tinggi. Dua bek sayap (Arhan dan Asnawi) sejajar dengan gelandang sehingga di belakang menyisakan tiga bek tengah saja. Struktur pertahanan mulai tidak beraturan ketika Ivar Jenner melakukan pressing yang cukup jauh dari posisinya. Posisi Arhan dan Asnawi cukup dekat dengan pemain sayap Irak. Hubner menjaga Zidane Iqbal sementara Jordi menempel ketat Mohanad Ali. Masih ada Ridho dan Bagott yang melakukan zonal marking. Pada kondisi ini sturktur pertahanan masih bisa dikendalikan dengan catatan semua pemain disiplin dalam memainkan perannya.

Ilustrasi Awal Terciptanya Gol Pertama

(Sumber : Tangkapan Layar dari Kanal Youtube RCTI Entertainment)

Sayangnya situasi justru semakin tidak terdisorganisasi sebab beberapa pemain terpancing untuk keluar dari posisinya sehingga memunculan ruang terbuka yang bisa diakses lawan. Dari struktur yang semula menguntungkan Indonesia secara jumlah, menjadi berbalik menguntungkan Irak. Jordi Amat dan Elkan Baggott menjadi dua pemain terakhir melawan empat pemain Irak yang sudah siap berlari ke arah gawang Ernando Ari. Pada situasi ini peluang Irak mencetak gol sangat besar terlebih Hubner yang mencoba memotong umpan terobosan pun gagal. Andai Baggott berhasil melakukan intersep, masih ada tiga pemain lain yang siap merebut kembali bola dan melanjutkan serangan.

Ilustrasi Awal Terciptanya Gol Pertama

(Sumber : Tangkapan Layar dari Kanal Youtube RCTI Entertainment)

Pengambilan Keputusan dan Momentum

Pada laga ini Indonesia menunjukan perlawanan yang cukup serius, terutama setelah tertinggal satu gol. Sepanjang pertandingan, tim besutan Shin Tae-yong kesulitan mempertahankan penguasaan bola sebab Irak menerapkan high press secara kolektif dengan melibatkan empat sampai lima pemain. Serangan Indonesia sedikit lebih efektif pada situasi transisi positif ke arah sayap. Yakob Sayuri di sayap kanan dan Marselino Ferdinan di sayap kiri menjadi dua pemain yang paling sering membahayakan pertahanan Irak. Meski hanya memegang 35 persen penguasaan bola, Indonesia mampu melepaskan delapan tembakan.

Selain gol Marsel, Indonesia sebenarnya punya beberapa peluang yang gagal dikonversi menjadi gol. Peluang memang lebih banyak diperoleh dari proses transisi positif, jarang dari proses build up yang sistematis. Kecepatan Yakob Sayuri di sisi kanan cukup efektif untuk eksekusi serangan balik cepat.

Masalahnya, mayoritas pemain Indonesia belum memiliki cukup mental dan pengalaman untuk mengambil keputusan cepat dalam pertandingan dengan intensitas tinggi. Dampaknya adalah banyak sekali momentum yang hilang ketika Garuda mendapatkan kesempatan menyerang. Terutama saat memasuki sepertiga akhir. Rafael Struick, Marselino Ferdinan, dan Witan Sulaeman yang masuk di babak kedua beberapa kali gagal memanfaatkan peluang akibat terlalu lama dalam mengambil keputusan.

Komentar