GBK dan Topophilia

Cerita

by Arienal A Prasetyo

Arienal A Prasetyo

Pandit Football Indonesia mengkhususkan pada analisis pertandingan sepakbola, statistik dan liga, juga sejarah perkembangan sepakbola dan evolusi taktiknya

GBK dan Topophilia

Delapan lapangan yang akan digunakan sebagai training center Timnas Indonesia akan dibangun di Ibu Kota Nusantara (IKN) dengan menggunakan dana dari FIFA. Selain itu, di IKN rencananya juga akan dibangun stadion yang akan digunakan sebagai tuan rumah Olimpiade 2032.

Dengan perkembangan itu, apakah kelak timnas akan bermain di sana pada ajang-ajang penting?

Satu stadion yang pasti identik dengan Timnas Indonesia adalah Stadion Gelora Bung Karno (GBK) yang berada di Senayan, Jakarta. Bagaimanapun, GBK menjadi tempat spesial di hati para pendukung Timnas, meski Timnas tidak selalu bermain di stadion yang dibangun di era Sukarno itu.

GBK menjadi saksi laga-laga penting yang menjadi sejarah naik-turun prestasi Timnas. Kekalahan dari Korea Utara di babak kualifikasi Olimpiade 1976 terjadi di stadion ini. Saat itu, Indonesia kalah melalui babak adu tendangan penalti. Tiga algojo Garuda, yakni Oyong Liza, Andjasmara, dan Suaeb Rizal gagal melaksanakan tugasnya.

Selain itu, medali SEA Games pertama Indonesia juga diraih di GBK pada 1987 kala Ribut Waidi berhasil mengoyak jala Malaysia di menit-menit akhir pertandingan.

Tiga pertandingan Piala Asia 2007 juga tersaji di GBK. Gol-gol Budi Sudarsono, Bambang Pamungkas, dan Elie Aiboy mungkin akan sulit dilupakan.

Daftar itu masih bisa diperpanjang dengan menyebutkan Piala AFF 2010 di mana dari babak grup hingga semifinal, Bambang Pamungkas dkk selalu bermain di stadion tersebut dan rasanya gelar juara sudah sangat dekat sebelum dipatahkan oleh Malaysia di partai final.

Mendengarkan dan menyanyikan lagu Indonesia Raya sesaat sebelum pertandingan timnas di GBK rasa-rasanya lebih menggetarkan dibanding mendengar dan menyanyikan lagu Indonesia Raya di upacara bendera hari Senin.

Maka dari itu, tidak mengherankan kalau banyak penggemar timnas yang mempunyai ikatan dengan GBK. Ikatan ini bisa disebut sebagai topophilia, di mana suporter dan stadion memiliki hubungan yang intim.

Geograf kenamaan Yi-Fu Tuan menyebut bahwa topophilia menjadi semacam afeksi yang mengemas perasaan penggemar dengan apa yang mereka sebut sebagai rumah.

Ini berlaku bagi suporter yang mendukung klub mana saja. Stadion, bisa dibilang, sebagai rumah yang mempunyai ikatan emosional, meski stadion itu sebenarnya tidak terlalu baik kualitasnya dan fasilitas yang serba kurang. Topophilia jauh lebih dari sekadar nyaman atau tidak, fasilitas stadion baik atau tidak.

Suporter Persik Kediri akan terikat dengan Stadion Brawijaya. Suporter PSIS Semarang akan menganggap Stadion Jatidiri sebagai rumah. Dan bolehlah kalau kita menyebut GBK sebagai rumah bagi suporter timnas.

Meski di IKN akan dibangun stadion dan training center, rasa-rasanya kedudukan GBK sebagai kandang timnas akan sulit terganti bagi penggemar timnas, sebagus apapun stadion yang akan dibangun di IKN nanti.

Ketua Satgas Pembangunan Ibu Kota Negara Danis H Sumadilaga mengatakan Maret 2020 silam bahwa stadion di ibu kota baru akan meniru Tokyo National Stadium.

"Kalau dari kajian kita terhadap sarana olahraga yang sudah ada (mungkin) seperti Tokyo, itu ada stadion utama, ada akuatik, atletik, ini sangat mungkin dilakukan (menyiapkan stadion di Ibu Kota Baru)," katanya dilansir dari Detik.

Di sisi lain, timnas senior sangat jarang bermain di luar Jawa. Barangkali faktor fasilitas pendukung seperti tempat latihan menjadi pertimbangan dan untuk itulah GBK selalu menjadi pilihan.

Kita juga perlu mengingat bahwa GBK pernah dijadikan sebagai alat politis oleh Suharto untuk mendelegitimasi Sukarno. Melalui Keputusan Presiden (Keppres) Nomor 4 Tahun 1984, nama Stadion Utama GBK diubah menjadi Gelanggang Olahraga Senayan. Ini bukan sekadar pergantian nama. Ini adalah upaya politik, di mana Suharto mencoba menghapus jejak-jejak Sukarno dalam peta sejarah Indonesia. Stadion ini kembali berganti nama pada 2001 setelah Suharto lengser.

Di samping perubahan nama, GBK berulang kali direnovasi untuk kepentingan berbagai event. Kapasitasnya pun berkurang dengan pemakaian single seat. Namun, GBK tetaplah GBK yang mempunyai ikatan emosional kuat dengan timnas dan mungkin akan sulit digantikan bagi para pendukung timnas.

Lalu, ketika sebuah klub pindah stadion, apakah aspek topophilia ini dipertimbangkan oleh pengambil kebijakan?

Yang pasti, ada kesedihan ketika sebuah klub harus meninggalkan stadion yang lama mereka gunakan. West Ham, misalnya. Mereka meninggalkan Boleyn Ground yang sudah menjadi kandang mereka sejak 1904.

Di laga terakhir mereka di Boleyn Ground pada 11 Mei 2016 melawan Manchester United, pendukung West Ham mencopoti kursi stadion tersebut sebagai sebuah kenang-kenangan dari stadion yang tak akan pernah lagi mereka kunjungi.

Apakah topophilia, rasa memiliki yang dalam, akan terus bergaung di GBK meski kelak ibu kota baru akan segera diresmikan beserta segudang fasilitasnya termasuk stadion utama dan training center-nya?

Komentar