Tradisi dan Modernitas yang Saling Beradu di Tubuh United

Berita

by Redaksi 33

Redaksi 33

Pandit Football Indonesia mengkhususkan pada analisis pertandingan sepakbola, statistik dan liga, juga sejarah perkembangan sepakbola dan evolusi taktiknya

Tradisi dan Modernitas yang Saling Beradu di Tubuh United

David Moyes mengungkapkan bahwa ada sesuatu yang hilang dari tubuh United. Sesuatu itu berupa tradisi yang mengakar kuat yang sudah berjalan sejak lama, yaitu menggunakan jasa manajer asal Inggris Raya.

Moyes pernah menjadi bagian dari keluarga Manchester United ketika ia didapuk menjadi manajer Manchester United menggantikan Sir Alex Ferguson yang memutuskan untuk pensiun pada akhir musim 2012/2013. Namun hanya 10 bulan menjadi manajer United, ia langsung dipecat karena tidak mampu mengantarkan United berprestasi pada musim 2013/2014. Hanya satu trofi Community Shield yang mampu didaratkan Moyes ke Old Trafford.

Serupa dengan Moyes, Louis van Gaal yang diangkat untuk menggantikannya pun tidak mampu mengantarkan United berprestasi lebih jauh. Satu Piala FA adalah torehan manajer asal Belanda tersebut saat menukangi United.

Pada musim 2016/2017, United memutuskan untuk kembali merekrut manajer baru. Ia adalah Jose Mourinho. Dianggap sebagai salah satu manajer terbaik dunia, Mou pun ternyata sulit untuk mengantarkan United bersaing di papan atas Liga Primer musim 2016/2017.

Melihat keadaan United yang sulit untuk kembali ke peta persaingan juara selepas ditinggal oleh Sir Alex Ferguson, Moyes berujar bahwa ada sebuah tradisi yang hilang di tubuh Manchester United. Tradisi itu adalah mengandalkan para manajer asal Inggris Raya yang sudah dilakukan United sejak dahulu kala.

"Manchester United adalah klub besar dengan tradisi yang sudah berakar kuat. Tradisi tersebut adalah mengandalkan manajer dari Inggris Raya untuk memimpin tim. Melihat keadaan United sekarang, saya rasa tradisi itu telah hilang," ujar Moyes seperti dilansir World Football.

"United juga adalah klub yang sebenarnya tidak berkompetisi dengan klub lain. Mereka cukup melakukan hal yang menurut mereka benar, dan hal itu sudah bisa mengantarkan mereka kepada gelar juara. Semuanya sekarang telah hilang dari tubuh United," tambahnya.

Jika menelisik perkataan Moyes, memang semuanya tidaklah salah. Manchester United pernah menjadi klub yang begitu jaya di bawah dua rezim besar manajer asal Inggris Raya, yaitu Sir Matt Busby dan Sir Alex Ferguson. Keduanya, meski sempat mengalami masa-masa negatif, mampu mengantarkan United menjadi juara lewat etos kerja kerasnya yang membuat United menjadi klub yang disegani di Inggris, Eropa, bahkan dunia.

Ketika Moyes dikontrak untuk menangani The Red Devils pun, itu atas titah langsung dari Ferguson yang sudah berdiskusi bersama para board United. Julukan The Chosen One, yang entah sekarang sudah menguap ke mana, pernah disematkan kepada manajer asal Skotlandia ini, walau pada akhirnya hal itu menjadi awal yang buruk bagi karier manajerial Moyes.

Baca Juga: Berakhir Pekan Bersama David Moyes

Namun, di zaman ketika modernitas perlahan mulai menggusur hal-hal yang bersifat tradisional di Inggris, adaptasi pun perlu dilakukan di United. Dengan merekrut manajer dari luar Inggris Raya, hal tersebut dapat memberikan warna sekaligus suasana baru di Old Trafford.

Apalagi sekarang, Inggris pun sedang mengalami masa-masa sulit, ketika manajer asal Inggris Raya sama sekali tidak mampu berbuat banyak menghadapi kekuatan manajer-manajer asing, terutama manajer asal Italia yang kaya akan variasi taktik. Tengok saja siapa yang sekarang berdiri di puncak klasemen Liga Primer, Antonio Conte bersama dengan Chelsea dan skema tiga bek yang ia terapkan.

Mempertahankan tradisi dan mengikuti tren yang sedang modern, sesuatu yang sekarang masih bergulat dalam tubuh Manchester United.

Sumber: World Football, ESPN FC

Komentar