Quincy Promes, Solusi Liverpool Atasi Kehilangan Mane?

Taktik

by Muhammad Firza Richsan

Muhammad Firza Richsan

Pandit Football Indonesia mengkhususkan pada analisis pertandingan sepakbola, statistik dan liga, juga sejarah perkembangan sepakbola dan evolusi taktiknya

Quincy Promes, Solusi Liverpool Atasi Kehilangan Mane?

Cukup konsisten di papan atas Liga Primer Inggris hingga pekan ke-20 membuat atmosfer di kubu Liverpool kini tengah diliputi kepercayaan diri yang tinggi. Dengan kedalaman skuat yang sebetulnya tidak terlalu mewah jika dibandingkan dengan Chelsea, Manchester City, bahkan Manchester United, Liverpool justru mampu menunjukkan permainan yang sangat atraktif.

Kejeniusan Jurgen Klopp dalam meracik strategi, membuat nama-nama seperti Sadio Mane, Emre Can, dan Adam Lallana, pantas untuk dilabeli sebagai pemain top dunia. Klopp pun berhasil membuat permainan Philippe Coutinho semakin menjadi-jadi, juga performa James Milner menjadi hidup kembali.

Namun, Jurgen Klopp pun patut untuk waspada dalam menyongsong laga-laga di bulan Januari ini. Selain Coutinho yang masih mengalami cedera, Liverpool pun untuk sementara akan ditinggal oleh Sadio Mane. Mantan pemain Southampton tersebut akan memperkuat Senegal di ajang Piala Afrika 2017 pada tanggal 14 Januari hingga 6 Februari nanti.

Bukan tanpa alasan Klopp harus merasa was-was. Coutinho, Mane, juga Firmino, memang selalu menjadi andalan bagi Liverpool dalam membongkar pertahanan lawan. Statistik pun menunjukkan jika ketiga pemain tersebut menjadi yang paling sering menciptakan chances created bagi Liverpool sejauh ini.

Firmino menjadi pemain yang paling unggul dalam urusan ini dengan keberhasilannya menciptakan 42 chances created, lalu disusul Coutinho yang berhasil menciptakan 33 kali, dan Sadio Mane 29 kali. Selain itu, bersama Adam Lallana, ketiganya pun selalu menjadi tumpuan Liverpool untuk mendulang gol demi gol kemenangan. Mane bahkan menjadi pencetak gol terbanyak bagi Liverpool sejauh ini dengan delapan gol.

Kehilangan Coutinho memang mampu ditutupi oleh kecemerlangan Adam Lallana sejauh ini, tetapi bagaimana jika Liverpool harus juga kehilangan Mane? Jurgen Klopp telah memikirkannya. Dengan dibukanya bursa transfer musim dingin, Klopp pun mulai membidik beberapa nama untuk mengisi kekosongan yang ditinggalkan Mane.

Setelah tak mampu mendaratkan Julian Draxler yang memilih merapat ke Paris Saint-Germain, Klopp pun dikabarkan mengalihkan bidikannya kepada Quincy Promes. Lantas orang-orang pun bertanya-tanya, siapakah Quincy Promes? Apakah layak Promes untuk menggatikan tempat yang ditinggalkan Mane?

Jika kita lihat statistik bermainnya di musim ini, jawaban layak atau tidak layaknya Promes untuk memperkuat Liverpool adalah sangat layak. Dari 14 penampilannya, gelandang asal Belanda ini berhasil melakukan 52 dribel (dengan tingkat kesuksesan di atas 50%), 44 umpan kunci, dan berhasil membukukan enam gol serta enam asis bersama Spartak Moskow. Selain itu, Promes pun terbilang rajin untuk turun jauh membantu pertahanan. Sejauh ini, dirinya telah membuat 13 tekel sukses dengan rata-rata 0,9 tekel per laga.

Perjalan Karier Quincy Promes

Quincy Promes lahir di Amsterdam pada 4 Januari 1992. Promes memulai karier sepakbolanya ketika dirinya bergabung dengan klub lokal RKSV DCG. Kemudian Promes pindah ke akademi Ajax dan Haarlem sebelum bergabung dengan akademi Twente ketika dirinya berusia 17 tahun.

Bersama Twente, kualitas Promes semakin menanjak. Dirinya pun berhasil membantu tim Jong Twente menjuarai Beloften Eredivisie (kompetisi yang diperentukan bagi tim reserve) pada musim 2011-12. Berkat performanya itu, Promes pun sempat dipromosikan ke tim utama pada bulan April 2012.

Debutnya terjadi ketika Twente berhadapan dengan AZ Alkmar. Pelatih Twente, Steve McClaren, menyandingkan dirinya bersama Leroy Fer, Nacer Chadli, dan Luuk De Jong di lini depan.

Akan tetapi, McClaren sadar jika Promes masih terlalu hijau. Untuk mengembangkan potensi yang dimilikinya, Twente pun "menyekolahkan" dirinya ke Go Ahead Eagles pada musim 2012-13. Walau bermain di Eerste Divisie (satu tingkat di bawah Eredivisie), Promes tak banyak mengeluh.

Promes bahkan harus berterima kasih kepada Twente yang memutuskan untuk meminjamkannya, karena bersama Go Ahead Eagles, potensi Promes mengalami kenaikan yang signifikan. Di akhir musim, ia berhasil mencetak 17 gol dan 11 asis yang membantu Go Ahead Eagles kembali promosi ke Eredivisie. Selain itu, Promes pun diganjar dengan penghargaan sebagai pemain terbaik musim itu.

Rapor yang dibuatnya itu pun cukup meyakinkan bagi Twente untuk menempatkan dirinya sebagai pemain utama di musim 2013-14. Promes pun tetap menunjukkan konsistensinya, di akhir musim ia berhasil membawa Twente menduduki peringkat ketiga Eredivisie, di mana dirinya pun turut menyumbangkan 11 gol dan delapan asis.

Di tahun itu juga lah mimpinya untuk memperkuat timnas Belanda terealisasikan. Debutnya terjadi pada bulan Maret ketika Belanda bersua Prancis di laga persahabatan. Hingga saat ini, Promes telah bermain sebanyak 14 kali dengan raihan dua gol bagi tim Oranje.

Mengakhiri musim apik bersama Twente membuat dirinya menjadi incaran klub-klub besar Eropa. Manchester United, Juventus, Napoli, dan Borussia Dortmund dikabarkan pernah menginginkan jasanya. Walau demikian, Spartak Moskow-lah yang menjadi pelabuhan dirinya. Promes pun terbang ke Rusia setelah Spartak menyetujui permintaan 13 juta paun yang diminta Twente.

Walau berpindah ke liga yang jika dilihat sangat berbeda dengan kultur kompetisi Belanda, tak membuat Promes kesulitan untuk tidak menunjukkan kualitas yang dimilikinya. Di musim pertamanya, Promes berhasil membuat 13 gol dan lima asis bagi Spartak dalam 28 pertandingan. Sedangkan hingga saat ini, Promes telah berhasil membukukan 37 gol dalam 72 pertandingannya bersama Spartak Moskow.

Gaya Bermain Quincy Promes

Jika dilihat, tidak ada perbedaan yang signifikan mengenai gaya bermain Quincy Promes dan Sadio Mane. Promes sangat cepat, berteknik tinggi, dan gemar melakukan tusukan-tusukan berbahaya di jantung pertahanan lawan.

Promes pun merupakan pemain yang memiliki keahlian untuk bermain di banyak posisi. Bersama Go Ahead Eagles, dirinya bermain sebagai gelandang serang . Sedangkan bersama Spartak, Promes, telah bermain di empat posisi: sayap kanan, sayap kiri, gelandang serang, dan penyerang.

Sayap kanan memang yang menjadi posisi favoritnya. Di pos itu juga lah Promes mendulang banyak gol dan asis. Karena di sana lah Promes dapat menunjukkan kegemarannya untuk melakukan cut inside atau mengirimkan umpan-umpan matang ke kotak penalty.

Selain memiliki kekuatan kaki kanan dan kiri sama baiknya, Promes pun memiliki tembakan yang keras dari luar kotak penalti, juga piawai dalam mengeksekusi bola-bola mati. Pelatih timnas Belanda, Danny Blind, bahkan menyebut dirinya sebagai pemain yang layak untuk ditiru oleh para pemain muda Belanda lainnya.

“Promes adalah contoh pemain yang harus ditiru oleh para pemain muda yang ingin berkembang. Dia telah bermain di level kompetisi tertinggi yang terbilang sulit. Dia pun dapat bermain di beberapa posisi dengan sama baiknya. Dia dapat bermain di posisi sayap kanan atau kiri ketika kita memainkan tiga penyerang, tetapi ia pun dapat bermain sebagai target man dalam formasi dua atau striker. Dia dapat mencetak gol dan membuat pemain bertahan lawan kewalahan,” ujar Blind seperti yang dikutip Goal.

Sementara itu, di musim ini, Jurgen Klopp hampir selalu memainkan skema 4-3-3 di setiap pertandingan yang dijalani oleh Liverpool dengan mengandalkan Coutinho, Firmino, dan Mane di lini depan. Dan jika mengacu kepada tujuan awal diincarnya Promes sebagai pengganti sementara Sadio Mane, Promes sepertinya akan ditempatkan di posisi favoritnya, yaitu sayap kanan.

Kehadirannya pun dapat membuat Klopp lebih memiliki variasi taktik di lini depan. Klopp dapat dengan mudah untuk menginstruksikan permutasian posisi di antara Promes, Firmino, Lallana/Coutinho. Keahlian Promes dalam berperan sebagai target man pun dapat menjadi bahan pertimbangan bagi Klopp untuk kembali menggeser Firmino menjadi lebih melebar sejak awal pertandingan.

Lalu bagaimana ketika Sadio Mane kembali? Klopp pasti akan kembali menaruh Mane di posisi sayap kanan Liverpool. Sedangkan posisi sayap kiri dan penyerang dapat diisi bergantian oleh Promes dan Firmino. Sementara Coutinho/Lallana akan ditempatkan sebagai gelandang kembali. Tetapi itu semua tergantung bagaimana Promes memperlihatkan permainannya di pertandingan nanti.

**

Klausul pelepasan Promes yang hanya menyentuh angka 20 juta paun bukanlah harga yang menyulitkan bagi tim sekelas Liverpool. Andai jadi didatangkan, Promes dapat membuat pilihan taktik Klopp menjadi semakin bervariasi. Selain itu, kehadiran peain berusia 24 tahun ini pun diharapkan mampu meningkatkan motivasi Daniel Sturridge dan Divock Origi untuk tampil lebih baik lagi.

Selain itu, jika Promes benar direkrut Liverpool, tampaknya akan membuat gelandang Liverpool, Georginio Wijnaldum, senang. Hanya saja Wijnaldum tak terlalu mau berspekulasi mengenai isu transfer ini.

"Saya pikir Quncy tahu seberapa besar Liverpool, saya mengetahuinya sebelum saya datang ke sini [Liverpool]," kata Wijnaldum seperti yang dilansir Daily Mail. "Tentu saya ingin ia datang ke Liverpool karena saya tahu seberapa bagusnya dia, orang yang baik yang bisa menolong tim."

"Saya tidak tahu [soal transfer], jika segalanya benar seperti apa yang dikatakan banyak orang. Jadi saya tidak akan terlalu banyak membicarakannya tentang hal itu," tambahnya.

Wijnaldum mengetahui kualitas Promes. Namun, akan menjadi hal yang berbahaya juga andai Liverpool terlalu silau dengan stats yang dimiliki oleh Promes. Sedikit hal yang perlu digarisbawahi oleh Liverpool adalah, Promes bermain di level kompetisi yang masih jauh berada di bawah level Liga Primer Inggris.

Sumber lain: This is Anfield

Komentar