Mengapa Konsumsi Pisang Lekat dengan Olahraga?

Sains

by Frasetya Vady Aditya

Frasetya Vady Aditya

Penyunting. Jangan terkekang; sepakbola cuma cangkang. Kontak: vady.aditya@gmail.com

Mengapa Konsumsi Pisang Lekat dengan Olahraga?

Pisang seperti menjadi tradisi dalam pertanyaan terkait fakta dan mitos dalam olahraga. Pertanyaan macam “Benarkah pisang dapat mengganti dan menambal asupan tubuh yang dikeluarkan selama berolahraga?” seringkali muncul. Faktanya, pisang memang memiliki kadar nutrisi yang dibutuhkan tubuh saat dan setelah berolahraga.

Berdasarkan M. Andri Irawan dalam tulisannya “Nutrisi, Energi, dan Performa Olahraga” terdapat tiga nutrisi penting dalam berolahraga: protein, lemak, dan karbohidrat. Protein dibutuhkan sebagai pembentukan jaringan tubuh baru atau yang sudah rusak.

Lemak dalam bentuk trigliserida yang tersimpan pada otot dapat menghasilkan energi. Saat berolahraga dalam intensitas rendah lemak akan menjadi booster sebagai energi utama tubuh. Sementara itu, karbohidrat akan menjadi sumber energi utama bagi sistem pusat syaraf termasuk otak.

Faktor Glikogen

Salah satu alasan mengapa ada atlet yang cepat lelah adalah simpanan glikogen yang rendah. Glikogen merupakan simpanan karbohidrat yang 80 persen di antaranya tersimpan dalam otot, sementara sisanya tersimpan dalam hati yang bersirkulasi dalam darah dalam bentuk glukosa.

Jumlah glikogen bergantung pada seberapa banyak seorang atlet mengonsumsi karbohidrat. Namun, glikogen juga ada batasnya. Bagi atlet dalam olahraga yang menguras stamina seperti sepakbola, sejumlah atlet seringkali mengurangi lemak untuk memaksimalkan glikogen dalam ototnya. Ini penting karena glikogen turut menunjang ketahanan atlet.

Atlet yang bertanggung jawab akan tubuhnya biasanya lebih pilih-pilih soal makanan. Ia tidak akan mengonsumsi hal-hal yang mampu mengurangi ketahanan fisiknya. Karbohidrat pun dianjurkan untuk dikonsumsi selama olahraga karena dapat memberikan 16-20 persen energi dalam tubuh (Irawan, 2007:6).

Terdapat dalam Pisang

Menurut Femina, dalam 100 gram pisang terdapat 97 kilo kalori (kkal) dengan karbohidrat sekitar 30 gram. Ini yang membuat pisang diandalkan di ruang ganti sebagai salah satu cara mengganti karbohidrat. Meskipun demikian, terdapat sejumlah buah lain dengan jumlah karbohidrat yang juga mencukupi seperti apel (14gr), sawo (19gr), mangga (16,4gr), hingga durian (28,6gr).

Bahkan, jika melihat dari jumlah kalori, 100 gram pisang masih di bawah avokad dengan 168 kkal dengan jumlah yang sama. Namun, dalam avokad lebih banyak terkandung lemak (16gr) ketimbang karbohidrat (5gr) dalam jumlah yang sama.

Menurut Siti Kumairoh dalam penelitiannya “Pengaruh Pemberian Pisang (Musa Paradisiaca) terhadap Kelelahan Otot Anaerob pada Atlet Sepak Takraw”, karbohidrat serta kombinasi dari zat gizi pada buah pisang dapat mengatasi kelelahan otot dan baik sebagai sumber energi. Karbohidrat sederhana dapat menyediakan energi secara cepat, sedangkan karbohidrat kompleks yang juga dimiliki pisang dapat menyimpan cadangan glikogen otot.


Makan dulu, guys (Sumber: itv.com)

Mengisi Ulang Glikogen

Usai pertandingan atau latihan dalam intensitas tinggi, kandungan glikogen dalam tubuh berada dalam titik terendah. Pada saat inilah penting bagi atlet untuk mengisi ulang kembali tubuh mereka dengan karbohidrat.

Agar tubuh bisa cepat pulih, dalam interval kurang dari dua jam atlet setidaknya mengonsumsi 50-100 gram karbohidrat karena pada saat tersebut laju penyimpanan glikogen dalam tubuh juga terjadi secara cepat. Selain dengan air mineral, karbohidrat juga bisa dibarengkan dengan konsumsi jus buah-buahan. Ini bisa dilakukan dalam jumlah kecil tapi terus menerus dalam interval 30, 120, dan 140 menit (Irawan, 2007:7).

Dalam simpulan penelitiannya, Kumairoh menyatakan bahwa pemberian 300 gram buah pisang merupakan dosis yang paling baik untuk mengatasi kelemahan otot anaerob atlet sepak takraw.

Sesuai Tujuan

Tentu akan terdapat perbedaan makanan antara pesepakbola dengan atlet catur dan biliar, misalnya. Pesepakbola membutuhkan asupan karbohidrat yang besar karena cairan tubuh yang dikeluarkan juga besar. Lain halnya dengan catur yang alih-alih memakan banyak karbohidrat, malah mengantuk dan membuyarkan konsentrasi saat bertanding. Pun dengan atlet biliar yang juga membutuhkan energi karena berkeliling meja biliar bukan berarti tanpa menggunakan tenaga.

Dibandingkan dengan basket sekalipun sepakbola memiliki perbedaan kebutuhan nutrisi. Basket tergolong olahraga yang membutuhkan sprint cepat dengan gaya stop and go. Dibutuhkan pendorong otot yang lebih cepat ketimbang sepakbola yang bisa mengistirahatkan otot serta “mengambil nafas” jika bola berada jauh dari posisi pemain.

Intinya, selain untuk prestasi, olahraga juga dilakukan agar tubuh tetap sehat. Latihan secara keras tanpa memerhatikan asupan tubuh, membuat olahraga tak akan berarti apa-apa bagi kesehatan tubuh. Namun, tetap saja bagi atlet manapun, kurangi gorengan karena mengandung minyak yang sulit dicerna.

Sumber gambar: dailymail.co.uk

Komentar