Evolusi Sultan Agung dari Masa ke Masa | Pandit Football Indonesia

Evolusi Sultan Agung dari Masa ke Masa

PanditSharing

by Pandit Sharing 36590

Pandit Sharing

Ingin menulis di PanditFootball.com? Kirimkan ke sharingpandit@gmail.com

1. Lengkapi dengan biodata singkat dan akun Twitter di bawah tulisan
2. Minimal 900 kata, ditulis pada file Ms. Word
3. Tulisan belum pernah dipublikasikan di media apapun (blog, website, forum, dll)
4. Tambahkan alamat lengkap dan nomor HP (tidak dipublikasikan)

Evolusi Sultan Agung dari Masa ke Masa

Oleh: Muhammad Arif Nur Hafidz

Ada sebuah ungkapan yang mengatakan bahwa stadion harus menjadi tempat bermain yang menyenangkan untuk siapapun. Bukan hanya tentang persaingan dalam dunia sepakbola saja, tetapi juga mencakup kehidupan yang ada di dalamnya.

Dewasa ini mulai bermunculan orang-orang yang ingin mewujudkan ungkapan tersebut bahwa stadion memanglah tempat bermain yang aman, nyaman, serta menggembirakan untuk semua kelompok umur, entah itu anak-anak, wanita hingga orang lanjut usia sekalipun.

Hal yang mungkin sangat tidak selaras dengan pandangan orang tua. Menonton sepakbola di stadion adalah hal yang dikhawatirkan oleh para orang tua akibat banyaknya kasus kerusuhan yang masih kerap terjadi hingga banyak orang tua yang melarang anaknya untuk pergi ke stadion.

Wajar, karena memang di Indonesia tidak ada kepedulian khusus untuk anak-anak, wanita, orang lanjut usia maupun kaum disabilitas baik dalam tiket, fasilitas maupun diberlakukannya perlakuan khusus. Kurang sigapnya panpel juga menjadi pekerjaan rumah yang harus dibenahi oleh setiap tim yang menggelar laga agar tercipta kondisi stadion yang nyaman untuk siapapun.

***

Bantul, sebuah kabupaten yang terletak di Provinsi Daerah Istimewa Yogyakarta. Kabupaten yang mempunyai makanan khas bernama geplak ini memiliki sebuah simbol klub kebanggaan tersendiri bernama Persiba Bantul. Pemilihan nama Sultan Agung disematkan untuk julukan klub maupun nama stadion di bumi Projotamansari ini.

Stadion Sultan Agung memiliki banyak cerita dibalik sosoknya yang begitu megah. Dalam periode awal pembangunannya stadion ini tidak serta merta langsung jadi. Stadion ini dikerjakan secara bertahap dengan periode waktu yang terbilang cukup lama dari awal dibangun hingga dapat berdiri kokoh seperti sekarang.

Pada awalnya hanya bagian sisi timur yang dikebut pembangunanya lengkap dengan fasilitas kamar mandi, tribun beton serta atap tertutup walau hanya secuil. Dalam perkembangannya, tribun tertutup yang beratap layaknya tenda nikahan itu rusak dan terbang terbawa angin akibat hembusan angin yang begitu kuat di kawasan Stadion Sultan Agung.

Bagian tribun sisi selatan dan utara pun masih meninggalkan pekerjaan yang belum terselesaikan. Alih-alih lebih nyaman, dalam kenyataannya sisi ini justru jauh lebih parah. Belum terlihat tribun beton yang terpasang ataupun adanya fasilitas kamar mandi layaknya di sisi tribun timur. Sisi ini masih berupa tanah liat yang dipenuhi dengan tumbuhan liar.

Di sisi barat bagian stadion Sultan Agung sedikit berbeda dengan stadion lain pada umumnya, terutama saat waktu awal dibangunnya stadion. Sisi barat yang biasa menjadi tribun VIP, kala itu belumlah dibangun. Sama sekali belum terpasang beton-beton yang menjadi pondasi. Unik jika mengingat slot tempat duduk VIP Stadion Sultan Agung waktu kali pertama dibangun.

Tribun yang belum tersedia memaksa panitia pelaksana pertandingan memutar otak untuk menyediakan slot VIP bagi tamu undangan maupun orang yang membeli tiket di slot ini. Entahlah, ini cara yang cerdas atau sedikit lucu menurut saya, tribun VIP tersebut diganti dengan tenda hajatan lengkap dengan kursi lipat berwarna merah yang menemani di bawahnya.

Letak dari tribun VIP ‘dadakan’ tersebut berada di sisi selatan ruang ganti pemain yang juga difungsikan sebagai ruang wasit, penyimpanan alat, mushola, kamar mandi ataupun sebagai tempat istirahat petugas perawat rumput stadion kala itu. Tribun ‘dadakan’ ini didirikan tepat di sisi belakang sebelah kanan bench wasit atau sedikit mendekati bench pemain lawan.

Bangunan ruang ganti pemain Stadion Sultan Agung ukurannya tidak lebih besar dari bangunan ruang kelas kali pertama berdiri. Bangunan yang begitu kecil namun begitu besar fungsinya kala itu. Sisi barat bangunan ini hanya ditutup dengan seng agar tidak sembarang orang dapat masuk ke dalamnya.

Ada beberapa jalan tikus untuk masuk ke stadion waktu itu. Tutup atap pintu stadion yang hanya berupa bambu yang disusun begitu mudahnya dijebol dan dipanjat oleh beberapa oknum yang kurang bertanggung jawab agar dapat masuk dan menikmati pertandingan tanpa harus membayar sepeserpun.

Mengingat kali pertama stadion ini dibangun, mengingat pula kisah perjuangan Persiba Bantul dari ketatnya divisi 1. Kala itu stadion belumlah terlalu ramai oleh suporter setia Persiba Bantul. Stadion masih terbilang sepi tanpa begitu terdengarnya riuhnya suara penonton.

Seiring naiknya prestasi Persiba, atribut warna merah mulai menghiasi sisi timur tribun Stadion Sultan Agung, lengkap dengan spanduk dukungan, syal dan juga terompet yang ada di tangan. Jumlahnya pun bertambah tidak seperti di awal Persiba Bantul berhombase di stadion ini.

Suporter yang mendeklarasikan nama Paserbumi atau sebuah akronim dari Pasukan Suporter Bantul Militian ini selalu hadir kala Persiba berlaga di stadion ini. Disusul mulai ramainya pedagang asongan berkeliling menjajakan jajanan yang hampir semuanya seragam, yakni air mineral bersama dengan arem-arem, kacang serta tahu pong.

Tahun 2008 tribun sebelah selatan serta utara mulai diselesaikan. Dipasangnya tribun beton serta di cat dengan warna-warni khas tribun di stadion Indonesia menambah kesan megah pada bangunan stadion ini. Tidak hanya bagian dalam saja yang dibangun, sisi luarnya pun diperindah dengan dicat ulang hingga menambah kesan mewah stadion ini.

Namun sayang Stadion Sultan Agung berubah menjadi sedikit ndeso karena tidak lama setelah dicat lalu dirusak begitu saja oleh oknum tidak bertanggung jawab yang mencorat-coret sisi luar dari stadion ini. Coretan-coretan tidak jelas menghiasi sisi luar Stadion Sultan Agung membuat sisi laur stadion ini menjadi tidak sedap untuk dipandang.

Akan tetapi bagi saya Sultan Agung tetaplah indah dengan segala ceritanya yang menceritakan perjuangan Persiba Bantul untuk menggapai mimpi di sepakbola Indonesia. Karena di musim berikutnya Persiba berhasil lolos ke babak divisi utama, divisi kedua teratas negeri ini.

Pemain silih berganti untuk mengisi line up skuad Laskar Sultan Agung. Beberapa nama besar sempat singgah dan menjadi bagian dalam skuad, tetapi satu yang tidak akan pernah hilang dari ingatan memori suporter Persiba adalah nama Ezequiel ‘Goal’ Gonzalez. Pemain yang begitu di cintai oleh masyarakat Bantul dengan banyak pengorbanan yang sudah dia beri untuk tim ndeso ini.

Pemain ini bisa dibilang menjadi bagian sejak awal stadion ini dibangun, hingga akhirnya selesai seperti semegah sekarang. Ya, itulah Ezze, sapaan Ezequiel, pemain yang sangat besar kontribusinya untuk tim ini, hingga dia rela menjual mobilnya untuk dapat berobat selama proses penyembuhan cedera. Begitulah Ezze yang begitu di cintai oleh masyarakat Bantul, begitupun sebaliknya.

Puncaknya adalah di musim 2010/2011 kala Ezze berhasil membawa Persiba Bantul lolos ke babak 8 besar Divisi Utama. Sempat terseok-seok selama fase grup tetapi perlahan Persiba bangkit dan berhasil lolos ke babak semifinal. Bermain di Stadion Manahan, seperti bermain di Sultan Agung karena ribuan Paserbumi kala itu berbondong-bondong datang ke Manahan untuk memberi dukungan sepenuhnya.

Dukungan penuh Paserbumi akhirnya berbuah hasil kala piala tersebut berhasil karena gelar tersebut dapat dibawa pulang ke bumi Projotamansari. Ya, piala yang begitu di banggakan oleh Paserbumi dan masyarakat Bantul. Karena dengan ini Persiba Bantul berhasil lolos ke divisi tertinggi sepakbola Indonesia yang kala itu masih bernama Indonesia Super League (ISL).

Akan tetapi dukungan penuh kala berhasil menjadi juara perlahan mulai luntur seiring krisis yang menimpa Persiba Bantul. Beberapa pemain kunci Persiba mulai angkat kaki dari tim ini. Padahal kala itu Persiba bermain di divisi teratas liga Indonesia, kala tribun sisi barat stadion ini sedang diselesaikan pengerjaannya. Persiba justru mulai ditinggalkan oleh pendukungnya.

Mungkin saya akan jadi orang yang sangat naif, tetapi memang begitulah keadaannya banyak dari warna merah berkamuflase menjadi hitam dan biru mendukung tim kota maupun kabupaten seberang utara Bantul. Ya, begitulah keadaannya. Sosok Paserbumi sejati, CNF serta R.U.F hanya tinggal menyisakan beberapa saja dari mereka yang masih dengan semangat penuh mendukung laskar Sultan Agung.

***

Tidak banyak lagi terlihat rombongan korwil dengan atribut merah serta knalpot motor blombongan bersliweran sebelum pertandingan berlangsung. Tidak lagi ada simbah-simbah dengan rokok lintingan duduk dengan bangganya di Stadion Sultan Agung. Ya, stadion ini kini sepi ditinggalkan penghuni ‘sesungguhnya’ yang sedang lelap tertidur dalam masalah.

Apakah kalian tidak rindu menghangatkan tribun Sultan Agung lagi? Meneriakkan segala suara dengan penuh semangat demi 11 nama pemain yang ada untuk membela martabat Persiba Bantul. Datang, dukung dan berikan kreativitas terbaik serta emosi positif untuk membakar semangat pemain di lapangan.

Ya, semoga Sultan Agung akan membara lagi oleh warna kebanggaan Persiba Bantul, riuh suara penonton, umpatan, tangisan serta kebahagiaan yang selalu ada di dalamnya. Semoga stadion ini juga menjadi tempat bermain yang nyaman untuk siapapun yang datang berkunjung. Tidak peduli anak-anak hingga orang tua sekalipun. Semoga.

Bangkitlah, Persiba Bantul! Lawan masalah dengan sisa-sisa penggemarmu yang masih setia ada untuk mendukungmu dengan tulus!

Penulis adalah seorang mahasiswa yang biasa berkicau di @arifnh29. Foto merupakan hasil jepretan penulis sendiri


Tulisan ini merupakan bagian dari Pesta Bola Indonesia, menyemarakkan sepakbola Indonesia lewat karya tulis. Isi dan opini yang ada di dalam tulisan merupakan tanggung jawab penulis.

Komentar