Emral Abus, Guru Besar Pelatih Indonesia yang Tengah Membidik Gelar Profesor Sepakbola

Cerita

by Septian Nugraha

Septian Nugraha

Football Writer, Journalist, Photographer @Panditfootball | plus Supporter

Emral Abus, Guru Besar Pelatih Indonesia yang Tengah Membidik Gelar Profesor Sepakbola

Mengenal sosok Emral Abus, ia adalah guru besar pelatih Indonesia. Profesinya sebagai instruktur kepelatihan AFC, membuat pelatih-pelatih kenamaan tanah air berkesempatan untuk mendapatkan bimbingannya dalam kursus kepelatihan. Beberapa pelatih kondang tanah air seperti Djadjang Nurdjaman, Nil Maizar, Indra Sjafri, Jafri Sastra, hingga Aji Santoso pernah merasakan polesannya.

Melihat kepiawaian Emral dalam mendidik pelatih-pelatih kondang di sepakbola Indonesia, rasanya wajar, karena selain berprofesi sebagai instruktur pelatih, Emral juga tercatat sebagai dosen di Fakultas Pendidikan Olahraga, Universitas Negeri Padang. Di sana, Emral fokus mengajar jurusan sepakbola, sebagai bidang yang ia geluti sejak lama. Emral mengungkapkan mengajar di kelas atau melatih di lapangan memang menjadi pekerjaan yang sangat ia nikmati.

“Saya suka di lapangan dan di kelas. Dua-duanya saya aktif. Kalau saya pulang ke Padang, saya full mengajar satu minggu, tapi kalau saya tidak bisa saya minta tolong sama asisten. Mahasiswa juga betah diajar sama saya dan tidak rugilah mereka belajar sama saya,” kata Emral.

Memilih profesi sebagai dosen tentu tidaklah mudah, karena selain harus memiliki kecakapan dalam mengajar pendidikan tinggi pun menjadi salah satu prioritas yang harus dimiliki. Emral tentunya menyadari hal tersebut, karena kecintaannya terhadap sepakbola terus memacu keinginannya untuk terus mempelajari permainan 11 lawan 11 itu dari berbagai lini, salah satunya melalui pendidikan formal. Emral tercatat menyandang gelar doktor saat ini, bahkan saat ini sosok yang kini menjadi pelatih Persib Bandung itu sedang fokus untuk mengejar gelar professor dalam bidang sepakbola.

“Saya udah S3, dan jadi doktor. Di Jakarta kemarin 2013 saya mendapatkan gelar doktoral, di Universitas Negeri Jakarta (UNJ). Saya sudah dimarahi rektor agar cepat dapat gelar profesor, dan saya harus bikin jurnal internasional agar dapat gelar profesor. Saya ngambil fokus di jurusan sepakbola,” ungkapnya.

Emral menargetkan bahwa ia akan memulai langkahnya mengejar gelar professor setelah masa baktinya bersama Persib usai yang kemungkinan terjadi pada akhir musim ini. Setelah gelar profesor didapatkan, Emral mengakui bahwa ia masih ingin terus mengejar hingga lima sampai 10 tahun ke depan.

“Target profesor ini akan saya mulai ancang-ancang setelah selesai melatih Persib. Mudah-mudahan bisa tercapai. Kalau jadi profesor saya akan jd dosen sampai usia 70 tahun, kalau tidak sampai umur 65 tahun. Sekarang saya 60 tahun, lima tahun lagi, tapi kalau jadi profesor 10 tahun lagi saya mengajar,” katanya.

Mengenai pendidikan tingginya itu, Emral mengaku sangat bangga. Sebab tidak banyak pelatih dengan latar belakang pendidikan tinggi bisa menjadi pelatih kepala dalam sebuah klub. Apalagi, Emral kini menangani Persib yang merupakan klub dengan nama besar dan sarat prestasi di sepakbola Indonesia.

“Biasanya memang tidak semua dosen dan doktor jadi pelatih, tentu ini menjadi kebanggaan tersendiri buat saya. Biasanya mereka jadi pelatih fisik, sedangkan saya menjadi pelatih kepala di tim sebesar Persib. Saya juga menjadi instruktur kepelatihan (AFC), harusnya saya hari ini ke Sawangan, tapi saya minta tolong digantikan karena fokus saya di Persib.”

Selain Emral, beberapa pelatih di Indonesia juga sebenarnya banyak yang memiliki latar pendidikan yang tinggi. Beberapa bahkan, mengambil pendidikan yang tidak ada kaitannya dengan sepakbola, misalnya Liestiadi Sinaga yang menyandang gelar insinyur. Bahkan selama 17 tahun Liestiadi mengabdikan dirinya sebagai guru.

Selengkapnya tentang kisah Liestiadi bisa disimak di artikel ini: Latar Pendidikan: Antara Mourinho, Wenger, dan Liestiadi dan Jalan Panjang Liestiadi Sebelum Akhirnya Menjadi Pelatih Kepala

Emral dan Persib Bandung

Sebelum bergulirnya Liga Super Indonesia (LSI) musim 2015, publik sepakbola Indonesia mungkin masih asing mendengar sosok pelatih bernama Emral Abus. Dibandingkan dengan anak didiknya, nama Emral Abus mungkin tidak terlalu familiar kala itu.

Dalam beberapa tahun sebelum bergulirnya LSI 2015, Emral memang tidak terlalu aktif menangani sebuah tim, ia fokus pada profesinya sebagai instruktur pelatih. Hal tersebut yang kemudian membuat sosoknya terdengar asing di telinga pencinta sepakbola nasional. Namun pada tahun 2015, mantan pelatih PSP Padang itu akhirnya kembali menangani sebuah kesebelasan, setelah Persib Bandung memintanya untuk menjadi pelatih kepala, mendampingi Djadjang Nurdjaman di ajang Piala AFC.

Saat itu lisensi kepelatihan Djadjang tidak memenuhi syarat, sehingga Persib harus bergerak cepat untuk mendatangkan pelatih yang memenuhi syarat. Dengan segala pertimbangan akhirnya sosok Emral pun dipilih karena dianggap mumpuni. Duet Djadjang dan Emral berhasil mengantar Persib melaju hingga babak 16 besar di kompetisi level dua Asia itu.

Sejak saat itu, nama Emral pun mulai dikenal. Tapi kiprahnya bersama Maung Bandung kala itu tak berlangsung lama. Setelah Persib tersingkir dari Piala AFC, sosok Emral pun kembali menghilang dari peredaran. Hingga pertengahan tahun 2017, Emral akhirnya kembali melatih, Persib menjadi tim yang kembali ia tukangi. Emral datang ke Bandung untuk menggantikan posisi Djadjang Nurdjaman yang memutuskan mundur menjelang putaran pertama Liga 1 berakhir.

Persib yang memang sudah terpuruk sejak di putaran pertama lalu hanya mampu menempati posisi papan tengah hingga kompetisi Liga 1 Indonesia berakhir. Sudah 12 pertandingan dilakoni Persib di bawah arahan Emral, namun hanya dua kemenangan yang mampu diraih. Namun nasibnya di Persib kali ini pun tampaknya tak akan lama, terlebih setelah Persib kalah di partai pamungkas menghadapi Perseru Serui di kandang sendiri.

Komentar