Johannes Kaluza, Serta Alasan Mengapa Sepakbola Jerman Dicintai

Cerita

by Sandy Firdaus

Sandy Firdaus

Penulis merangkap pewarta. Yang kita tahu sebenarnya adalah kita tidak tahu apa-apa (Noel Gallagher)

Johannes Kaluza, Serta Alasan Mengapa Sepakbola Jerman Dicintai

Komersialisasi sepakbola adalah hal yang tak terhindarkan dari dunia sepakbola profesional masa kini. Ketika seseorang memutuskan untuk mengakuisisi atau membeli sebuah klub, sedikitnya ada tujuan untuk mendapatkan keuntungan dari klub yang mereka pimpin atau miliki. Namun, tujuan lain justru dimiliki oleh Johannes Kaluza, presiden dari klub Bundesliga, FSV Mainz 05.

Dalam dunia sepakbola profesional masa kini, sepakbola sudah perlahan berubah menjadi sebuah lahan bisnis yang mulai digeluti oleh banyak pihak. Beberapa taipan atau milyuner, macam Roman Abramovich, Sheikh Mansour, serta Nasser Al-Khelaifi mulai merambah sepakbola sebagai sebuah lahan untuk mengeruk keuntungan tersendiri. Ini tak bisa disangkal, karena memang sepakbola sebagai olahraga yang sudah memasyarakat, punya potensi besar untuk dikembangkan secara bisnis.

Namun dengan potensi bisnis yang besar, sepakbola justru mulai kehilangan nilai-nilai tradisional yang sudah menempel kepadanya sejak lama. Keasyikan menonton di stadion menjadi hilang karena tiket yang mahal. Harga jual beli pemain menjadi semakin tidak menentu karena perputaran uang yang juga menjadi semakin tidak menentu. Sepakbola sudah tidak lagi menjadi milik masyarakat secara bebas. Ada uang yang membuat sepakbola menjadi sesuatu yang tidak lagi sesederhana memainkan bola plastik di gang-gang sempit.

Hal ini disadari betul oleh Johannes Kaluza, orang yang sekarang menduduki jabatan sebagai presiden salah satu klub yang berkompetisi di Bundesliga, FSV Mainz. Dalam wawancaranya bersama Bild, ia mengungkapkan bahwa ada nilai-nilai sepakbola yang harus dijaga, dan tidak boleh diganggu gugat. Nilai-nilai yang membuat sepakbola, khususnya sepakbola Jerman, menjadi sesuatu yang dicintai banyak orang.

Soal komersialisasi sepakbola, dan filosofi sepakbola untuk semua

Memasuki era sepakbola modern zaman sekarang, komersialisasi dalam dunia sepakbola adalah hal yang tak terelakkan. Hal ini disadari betul oleh Kaluza. Ia mengungkapkan bahwa hal ini adalah topik yang cukup menarik untuk dibahas. Ia mengungkapkan belum ada batasan yang jelas mengenai komersialisasi sepakbola ini, sehingga sulit juga untuk menentukan se-komersial apakah sebuah klub sepakbola.

"Saya sadar bahwa isu ini memang sudah mengemuka, salah satu isu kontroversial dan menarik untuk dibahas di sepakbola. Namun sedikit jawaban mengenai komersialisasi di dunia sepakbola ini. Belum ada ukuran pasti se-komersial apakah sebuah klub sepakbola dewasa ini. Namun saya secara pribadi punya cara sendiri untuk mencegah klub ini (Mainz) menjadi klub yang komersil, salah satunya adalah dengan slogan "sepakbola untuk semua"," ujar Kaluza.

Untuk mencapai tujuan "sepakbola untuk semua" tersebut, ia pun menerapkan sebuah kebijakan tersendiri di tubuh Mainz. Ia ingin jajaran manajemen, serta anggota klub Mainz (siapapun itu, termasuk suporter) mempromosikan sepakbola dengan nilai-nilai yang sudah ada di dalamnya. Ia memang tidak menolak komersialisasi, tapi ia juga tidak mau jika nilai-nilai yang sudah ia tanamkan di Mainz, termasuk filosofi "sepakbola untuk semua", dirusak oleh komersialisasi.

"Manajemen Mainz yang saya bentuk ini punya tujuan dan nilai tersendiri, berdasarkan kepada filosofi "sepakbola untuk semua". Saya memang tidak menolak komersialisasi dalam dunia sepakbola, tapi jika komersialisasi ini sampai menabrak filosofi "sepakbola untuk semua" yang saya tanamkan di Mainz, saya tidak mau," tambahnya.

Soal transfer Neymar dan nilai-nilai sepakbola Jerman

Bursa transfer musim panas 2017 dikejutkan dengan langkah fantastis yang dilakukan oleh Paris-Saint Germain. Kesebelasan yang berkompetisi di Ligue 1 tersebut menggebrak bursa transfer dengan merekrut Neymar dari Barcelona. Mahar yang mereka keluarkan pun tidak tanggung-tanggung, yaitu sebesar 222 juta euro.

Hal ini mengundang respons dari beberapa petinggi klub di Eropa, termasuk dari Kaluza sendiri. Bersinergi dengan Uli Hoeness, presiden Bayern Muenchen, Kaluza mengungkapkan bahwa sepakbola sekarang sudah mulai kehilangan basisnya. Basis sepakbola sudah mulai bergeser ke arah ekonomi.

Neymar, sosok panas di bursa transfer musim panas 2017

"Ya, opini saya, sepakbola sudah mulai kehilangan basisnya. Saat ini, kita sedang bergulat dengan dua tipe liga yang berbeda. Pertama, tipe sepakbola industri yang sedang dijalankan di Inggris. Kedua, tipe sepakbola yang sedang kita mainkan di Jerman ini. Sekarang, tipe manakah yang akan kita pilih? Yang pertama, apa yang kedua? Namun jika memilih yang pertama, apa itu sesuai dengan nilai sepakbola Jerman," ungkap Kaluza.

Kaluza mengingatkan bahwa Bundesliga tidak boleh kehilangan dan melupakan apa yang menjadi tujuan utama mereka yang masih berlangsung sampai saat ini, yaitu soal pembinaan pemain dan keterlibatan suporter di dalam klub. Ia juga menekankan bahwa semangat dan nilai-nilai a la Jerman, yaitu perihal kesatuan tim, harus tetap dirawat kini dan nanti.

"Khusus untuk Bundesliga, kita harus kembali bertanya kepada diri kita sendiri. Untuk apa liga ini dilaksanakan? Apakah hanya untuk berkompetisi dengan klub lain di Eropa? Atau untuk merawat budaya yang sudah berjalan lama, sebagai pembinaan bagi para pemain? Hal ini harus mulai kita pikirkan."

"Kasus yang menimpa Neymar dan (Ousmane) Dembele menunjukkan bahwa sekarang sepakbola sudah mulai bergerak ke arah bisnis. Individu berlabel bintang lebih penting daripada kesatuan di dalam tim. Namun saya percaya, Jerman tidak seperti itu. Di masa lalu, kami sudah menunjukkan bahwa kesatuan tim lebih penting di atas segalanya. Selain itu, kami dari Mainz, serta klub-klub Jerman yang lain punya rencana jangka panjang. Kami tidak perlu khawatir tidak bisa bersaing di masa depan," ungkap Kaluza.

***

Pada intinya, seperti yang diujarkan oleh Kaluza, ada nilai-nilai yang harus tetap dijaga teguh dalam sepakbola. Aturan 50+1 adalah salah satu aturan yang harus tetap dirawat oleh klub-klub Jerman agar tidak terjadi komersialisasi di dalam sepakbola Jerman. Suporter, di mata dia, juga menjadi satu aspek yang harus diperhatikan oleh klub-klub sepakbola, termasuk di Jerman ini.

"Aturan 50+1 tidak boleh dirombak. Tapi di sisi lain, saya juga hanya individu. Saya adalah individu yang berusaha untuk membawa kebersamaan di dalam klub ini. Penting juga bagi saya, sebagai bagian dari manajemen klub, untuk menciptakan kesepahaman dengan orang-orang lain di klub ini. Semuanya untuk satu tujuan: untuk suporter yang tak henti mendukung kami," ungkapnya.

Dengan nilai-nilai ini, yang mengutamakan kebersamaan dan tidak melulu membicarakan soal komersialisasi, tak heran sepakbola Jerman menjadi hal yang dicintai oleh banyak orang.

Baca Juga: Sepakbola Berkarakter, Sepakbolanya Orang Jerman

foto dan sumber wawancara: Bild

Komentar