Trio Lini Serang Masa Depan Indonesia dan Sepiring Nasi Gudeg

Cerita

by Aun Rahman

Aun Rahman

Penulis & Penyunting. Pecinta sepakbola lokal dan Asia. Bermimpi Indonesia Raya berkumandang di Piala Dunia. Kontak : rahman.aun@gmail.com

Trio Lini Serang Masa Depan Indonesia dan Sepiring Nasi Gudeg

Selepas laga "Charity Match" antara tim Garuda Merah melawan Garuda Putih, Kamis (04/01) lalu di Stadion Manahan, Solo, Jawa Tengah, perut saya keroncongan. Sengaja saya ikut bersama tiga Anak Baru Gede (ABG) yang berat tubuh ketiganya kalau disatukan, mungkin tak lebih berat dari berat tubuh saya.

Benar, tiga ABG tersebut adalah pesepakbola. Bukan sekadar pesepakbola, karena ketiganya main di partai final Piala Jenderal Sudirman. Mereka adalah Dinan Yahdian Javier, Septian David Maulana, dan sang pencetak gol kemenangan Mitra Kukar di gelaran Piala Jenderal Sudirman, Yogi Rahadian. Ketiganya baru saja bermain di partai "Charity Match" sebagai upaya penggalangan dana bagi kesembuhan para pesepakbola Indonesia yang sedang dalam proses penyembuhan cedera parah, seperti Alfin Tuasalamony, Muhammad Nasuha, dan Ruben Sanadi.

Sementara malam sudah sangat larut, kami akhirnya mencari tempat makan yang masih buka di kota terkenal dengan keratonnya ini. Kami kemudian mengunjungi sebuah rumah makan yang menu andalannya adalah gudeg dan ayam. Di dalam hati saya berpikir, "Oh, pesepakbola makan gudeg juga ternyata".

Sejujurnya saya tidak tahu terlalu banyak tentang makanan yang terbuat dari buah nangka tersebut. Maka akhirnya saya memutuskan untuk memesan menu yang sama dengan Yogi yaitu 'Nasi Gudeg Telur', sementara Dinan dan David memesan 'Nasi Gudeg Istimewa'. Yang berbeda dari pesanan kami adalah porsi Dinan dan David diberi tambahan potongan ayam bagian paha yang semakin membuat sajian tersebut menggugah selera.

Obrolan dibuka dengan Yogi yang sangat bersemangat menceritakan bahwa di partai amal tersebut ia ditempatkan di posisi yang bukan posisi naturalnya. Dalam laga tersebu,t pemain asal Musi Banyuasin ini ditempatkan bermain sebagai wing-back.

"Sebelum masuk lapangan, coach (Daniel Roekito) tanya saya, 'bisa main di wing-back 'gak ?' Ya sudah saya bilang 'Siap, siap. Bisa, bisa'. Awalnya diam di belakang, tapi akhirnya saya diam terus di depan. Nggak balik-balik lagi. Ha ha ha. 'Kan yang penting kebagian main," ujar Yogi.

Dibandingkan dengan Yogi yang sangat banyak berbicara, Dinan dan David lebih banyak mendengarkan. Apalagi David yang lebih cocok main sinetron Anak Jalanan bersama Boy dan Reva, terkesan sangat kalem dan cuma membuka mulutnya hanya kalau ditanya. Usut punya usut ternyata keduanya sedang mendiskusikan sesuatu dengan suara yang sangat kecil.

Meskipun begitu, sebenarnya saya sedikit mendengar apa yang sedang mereka bicarakan. Dinan membujuk David agar melakukan tethering dan membagi sedikit kuota internetnya karena Dinan ingin menghubungi seseorang via LINE. Insting saya pun berbicara. (Maaf ya, Dinan!) Saya sedikit mengintip ponsel Dinan karena ingin mengetahui siapa gerangan yang ingin ia kabari. Mantan penggawa SAD Indonesia ini ternyata sedang berusaha menghubungi seorang gadis (jangan kecewa ya, Girls!).

Pesanan kami pun datang. Sambil menyantap makanan, obrolan masih berlanjut. David mengutarakan bahwa ia keesokan harinya (Jumat, 5 Februari) mesti secepatnya pergi ke Semarang karena akan mengikuti latihan seleksi untuk tim sepakbola Pekan Olahraga Nasional (PON) Jawa Tengah.

"Besok pagi harus ke Semarang, mungkin jam 9 atau 10," ungkap David. "Ada seleski tim PON Jawa Tengah di sana, mungkin ke Semarang pakai bus saja."

Banyak hal yang dibicarakan malam itu. Tapi lebih sering, mereka menceritakan pengalaman bersama kesebelan yang mereka belas saat ini yaitu Mitra Kukar. Mereka berujar bahwa di Tenggarong (kota asal Mitra Kukar) pengeluaran mereka sangat irit, hanya 50 ribu setiap pekan. Selain itu, Dinan dan David pun sempat berbincang serius soal kuliah mereka dan sesekali menggoda Yogi, sampai diskusi serius tentang kejelasan kompetisi di Indonesia.

Malam makin larut. Karyawan rumah makan sudah mulai menutup jendela-jendela dan membereskan meja. Kami semua juga sudah sangat lelah karena menjalani hari yang sangat panjang. Kemudian dengan iseng saya bertanya kepada ketiganya.

"Jadi di antara kalian bertiga, siapa yang Jones (Jomblo Ngenes)?"

Dinan menjawab, "Yogi! Dia jomblonya keliatan banget."

Yogi pun mengelak dengan berbagai alasan. "Lihat saja nanti kalau saya menikah. Saya yang bakal gaji kalian!" Semua pun tertawa, terutama David dengan senyum simpul macam model yang sedang pemotretan.

Setelah perbincangan tersebut, saya sadar kalau mereka, para pesepakbola muda, ternyata tidak jauh berbeda dengan ABG kebanyakan. Perbincangan di luar sepakbola diisi dengan candaan khas anak muda, mulai dari penjual martabak sampai gosip tentang percintaan!

Di luar itu, secara teknis ketiganya boleh dibilang istimewa. Sama-sama main di sayap dan mampu bersaing dengan lawan mereka yang lebih senior secara usia. Meski kian dikenal banyak orang karena prestasi mereka yang meroket, ketiganya tetap membumi. Jalan mereka masih panjang. Capaian karier mereka masih mungkin luas terbentang. Kini, mereka tengah menatap masa depan. Semoga saja, ketiganya mampu membawa Indonesia menuju kejayaan.

Nantikan video wawancara ekslusif kami dengan ketiganya, hanya di panditfootball.com

Komentar