Jangan Tolak Mahrez, Atau Rasakan Sendiri Akibatnya

Cerita

by Taufik Nur Shidiq

Taufik Nur Shidiq

Pandit Football Indonesia mengkhususkan pada analisis pertandingan sepakbola, statistik dan liga, juga sejarah perkembangan sepakbola dan evolusi taktiknya

Jangan Tolak Mahrez, Atau Rasakan Sendiri Akibatnya

Kecil kemungkinan Vincent Labrune sedang menyesali keangkuhannya satu tahun lalu. Orang sepertinya tidak akan pernah mau mengaku salah. Yang pasti, sekarang ini ia pasti sedang direndahkan – dan dihina, sebagaimana ia menghina Riyad Mahrez – oleh banyak orang.

Pertengahan musim lalu Olympique de Marseille, raksasa tidur sepakbola Prancis, menginginkan Mahrez. Ralat: Marcelo Bielsa dan Franck Passi (pelatih kepala dan asisten pelatih kepala Marseille), tepatnya, yang menginginkan Mahrez. Passi kemudian mengirim permohonan transfer untuk Mahrez dan Zinedine Ferhat – pemain USM Alger, kesebelasan Aljazair – kepada presiden Marseille, Vincent Labrune, lewat e-mail. Labrune menolak. Lebih parah dari itu, ia merendahkan Mahrez dan dengan sendirinya merendahkan pendapat Bielsa dan Passi.

“Apakah kamu benar-benar berpikir pemain Leicester dan USM Alger pantas saat ini mendapat tempat di OM dan dalam proyek kita?” tulis Labrune dalam surat balasannya kepada Passi, sebagaimana diklaim France Football. “Pendeknya, untuk menyingkat waktu, biar aku jelaskan kepadamu bahwa kita berusaha bersikap profesional dan cermat dalam merekrut pemain dan karenanya kemungkinan kita mendatangkan dua pemain ini sama dengan nol. Aku harap kamu tidak salah paham namun aku tidak terima kamu memperlakukanku seperti orang yang bisa dibodohi.”

Pemain yang Labrune rasa tidak layak untuk kesebelasannya sekarang menduduki peringkat kedua daftar pencetak gol terbanyak sementara Premier League 2015/16. Di atasnya hanya ada Jamie Vardy, rekan satu kesebelasannya. Dalam empat belas pertandingan Liga Primer Inggris musim ini, Mahrez mencetak sepuluh gol dan lima assist. Dan bukan hanya banyak, Mahrez juga rutin mencetak gol atau assist. Hanya dalam empat dari 14 pertandingan tersebut Mahrez tidak mencetak gol atau assist.

Dengan tidak menyebut nama Mahrez, Labrune juga merendahkan Leicester. Sementara Mahrez menduduki peringkat kedua daftar pencetak gol terbanyak sementara, Leicester duduk manis di puncak klasemen Liga Primer dengan raihan angka 32: dua poin lebih banyak dari Arsenal selaku saingan terdekat, tiga poin lebih banyak dari duo Manchester, dan 16 poin lebih banyak dari sang juara bertahan (siapa coba?).

Leicester pun, dengan 32 gol, menjadi kesebelasan paling produktif. Terdekat dengan mereka dalam urusan mencetak gol adalah Manchester City, yang sudah 30 kali membobol gawang lawan. Bandingkan itu dengan Marseille, kesebelasan peraih gelar juara Liga Prancis terbanyak, yang sekarang menduduki peringkat kesembilan, dengan 23 poin dari 17 pertandingan.

Labrune dan sifat sok tahu serta janji-janji palsunya memang menjadi masalah tersendiri bagi Marseille. Mendatangkan pemain yang tidak dibutuhkan dan menolak permintaan staf pelatih (baca: pemain yang dibutuhkan kesebelasan) bukan kali ini saja terjadi. Marcelo Bielsa, eks pelatih kepala Marseille, dua kali dibohonginya. Pelatih asal Argentina tersebut cukup sabar untuk bertahan di Marseille selama satu tahun setelah tidak satu pun dari 12 pemain rekomendasinya mendarat di Stade Vélodrome walau Labrune sudah berjanji akan mendatangkan semuanya. Sekali dibohongi Bielsa masih bisa menahan diri. Ketika ini terjadi untuk kedua kali, ia memilih untuk angkat kaki.

Anda tidak perlu percaya hukum karma untuk cukup bijak dan sepakat bahwa merendahkan orang lain, sok tahu, dan menebar janji-janji palsu tidak seharusnya mendapat tempat; di sepakbola dan di mana saja.

Komentar