Tengkorak St. Pauli Telah Kembali Kepada Habitatnya

Cerita

by Randy Aprialdi Pilihan

Randy Aprialdi

Pemerhati kultur dan subkultur tribun sepakbola. Italian football enthusiast. Punk and madness from @Panditfootball. Wanna mad with me? please contact Randynteng@gmail.com or follow @Randynteng !

Tengkorak St. Pauli Telah Kembali Kepada Habitatnya

Terdapat kisah luar biasa dari suatu klub sepakbola yang berbasis dari Hamburg, Jerman. Di sanalah St. Pauli menjadi salah satu kesebelasan yang cukup terkenal di Eropa, walau tidak mendapatkan sokongan dana besar, atau meraih piala bergengsi.

Akan tetapi karena itulah St. Pauli menjadi populer di seluruh penjuru dunia. Terutama di mata kalangan para suporter sepakbola. Sayangnya, kepopuleran St.Pauli hanya dijadikan alternatif saja oleh kalangan umum. Tentu di balik kesempurnaan kesebelasan-kesebelasan besar yang mereka puja.

Wajar, mengingat St Pauli tidak setenar Bayern Munchen, Borussia Munchengladbach dan Borussia Dortmund yang sudah meraih gelar Bundesliga lebih dari lima kali. Atau kesebelasan-kesebelasan lainnya yang pernah berbicara di Eropa semacam SV Wender Bremen, VfB Stuttgart, VfL Wolfsburg, Bayer Leverkusen, bahkan Hamburger SV, sebagai rival satu kotanya sekali pun.

Baca juga cerita dari Hamburg : Ultras St. Pauli dan Perseteruannya dengan Hamburg SV.



Meskipun begitu, St Pauli tetap terlihat keren bagi siapa saja yang menganggap sepakbola lebih dari sekedar permainan. Idealisme menjadi sumber kekuatan utama para pendukung St. Pauli. Mereka secara lantang menentang rasisme, seksisme, homofobia dan fasisme. St. Pauli dan suporternya merupakan kesebelasan pertama di Jerman yang melarang aliran sayap kanan.

Pada 2006 silam, Washington Post dibuat kagum oleh mereka. Washington Post seolah tidak percaya jika di tribun Stadion Millerntor, kandang St. Pauli dipenuhi orang-orang yang bisa dibilang `buangan` di Jerman, seperti punk, kelas pekerja, tunawisma, waria, dan lainnya.

Klub sepakbola di sana telah menjadi wadah bagi orang-orang yang kecewa karena keserakahan dan kebohongan sepakbola modern. Tapi di samping itu, hal itu dijadikan kekuatan untuk menyebarkan dakwah sosialis itu lebih penting ketimbang prestasi. Salah satunya melalui logo tengkorak bajak laut St. Pauli, yang juga menjelaskan sebuah tren dari pemberontakan.

Simbol Tengkorak itu Penting Bagi Saint Pauli

Gambar tengkorak bajak laut itu memang bukan logo resmi klub berjuluk Buccaneers of the League (Bajak Laut dari Liga) tersebut. Tapi itu menjadi simbolisasi tren pemberontakan mereka sendiri. Tengkorak dilatari tulang menyilang itu mencerminkan sikap politik yang radikal dari pendukung St. Pauli. Hal tersebut berdasarkan komitmen mereka tentang aktivisme sosial dari politik sayap kiri dan anti fasisme.

maxresdefault Logo resmi St. Pauli.


Logo tengkorak itu mulai dipergunakan pada pertengahan 1980-an, diadopsi sebagai representasi kultur anti kemapanan para suporter St. Pauli. Logo tersebut awalnya berasal dari cerita tentang Kota Hamburg yang dipupuk oleh Klaus Stortbeker, bajak laut terkenal di Jerman. Tapi versi lain mengatakan jika simbol tersebut diperkuat ideologi bawaan dari Doc Mabuse, penyanyi legendaris beraliran punk Hamburg.

Mabuse pun sebenarnya merupakan aktivis yang membela hak-hak penghuni liar dari penindasan kesewenang-wenangan polisi atau kelompok neo fasist di Jerman. Ia memperkenalkan logo bajak laut ke Buccaneers of the League antara 1981 dan 1983. Tapi bukti lebih kuat menunjukkan pengenalan itu marak sekitar 1987-an. Saat itu St. Pauli hampir promosi ke Bundesliga, namun baru mampu diraih satu tahun kemudian.

Logo tengkorak St. Pauli menjadi salah satu faktor paling berpengaruh bagi prestasi kesebelasan itu sendiri. St Pauli diambang kebangkrutan pada 2004. Presiden klub saat itu, Corny Littman, terpaksa menjual 90% hak merchandise ke Uposlut Merchandising, perusahaan merchandise lokal, agar St Pauli selamat dari kebangkrutan.

Dampaknya, klub hanya mendapatkan keuntungan sangat sedikit dari barang dagangan mereka sendiri. Para suporter pun lebih memilih memproduksi merchandise secara mandiri karena dirasa lebih membantu untuk mendukung klubnya.

Fase nyaris bangkrut itu disesali Thomas Meggle, mantan pemain sekaligus pelatih St. Pauli. Dirinya mengkritik klub yang membesarkannya tersebut. St. Pauli selama ini dianggap terlalu cepat puas. Kendati idealis, mereka tidak menyadari klub-klub kecil lain yang pelan-pelan meningkat karena uang, tetap menjaga syarat dan tradisi seperti FC Kaiserslautern dan Fortuna Duesseldorf.

Meggle menyayangkan St. Pauli yang tak memiliki sistem panduan sepakbola yang berkelanjutan. Salah satunya seperti analisis video pertandingan profesional. Meggle memberi contoh klub kecil seperti FSV Mainz 05 dan SC Freiburg yang bisa bermain lebih kompetitif karena mereka turut fokus kepada bisnis. Sementara Buccaneers of the League telah melupakan hal itu.

Dirinya pun kemudian menyarankan jika suatu hari pihak klub harus berbicara seperti ini, "Para pendukung yang terhormat, klub ini berdiri untuk sesuatu. Tapi sayangnya, kami juga harus profesional," Meggle mencontohkan, seperti yang dikutip dari The Guardian.

St. Pauli sempat hampir bangkrut karena kurangnya prestasi klub untuk mendongkrak keuangan, begitu juga sebaliknya, "Ini merupakan hasil dari proses yang lambat. Klub ini terlalu terjebak dalam zona nyaman," ungkap Meggle .

Logo Tengkorak yang berhasil Direbut Kembali

Presiden saat ini, Oke Gottlich, tetap bersikeras jika St. Pauli akan tetap menjadi klub kepedulian sosial. Dirinya juga menganggap Buccaneers of the League mampu lebih besar tanpa sokongan dana melimpah, "Kami akan selalu mengambil sikap melawan rasisme dan homophobia. Selalu memerhatikan kaum lemah dan miskin, karena itu penting bagi kami," tegas presiden klub sekaligus entertainer di bidang musik ini.

Gottlich memang mengakui bahwa tidak ada orang yang senang ketika St. Pauli berada diambang degradasi ke divisi tiga pada musim lalu. Tapi para suporter di belakang gawang tetap berteriak "Forza St Pauli!" sambil mengibarkan logo tengkorak yang mereka banggakan.

Para suporter pun akan memeluk setiap pemain dan berterima kasih atas sebuah kemenangan penting ketika peluit akhir dibunyikan, "Kami ingin melihat semangat yang sama dan usaha di lapangan sepakbola. Kita harus bertanya pada diri sendiri, sepakbola seperti apa yang kita inginkan dari permainan St Pauli? dan jawabannya adalah: Sepakbola yang akan menggetarkan orang-orang di sini," ujar Gottlich.

Bahkan, upaya untuk merebut kembali hak-hak mereka telah membuahkan hasil. Klub memenangkan pengadilan untuk menebus kembali hak logo tengkorak mereka yang telah dijual ke Uposlut Merchanding. St. Pauli hanya tinggal membayar 1,3 juta euro. Akhirnya klub secara resmi akan mendapatkan kembali hak merchandise mereka pada 1 Januari 2016 mendatang.

"Sebuah langkah besar untuk kemerdekaan kita. Akan menjadi keuntungan baru yang signifikan," tutur Gottlich.

Tentunya hal itu diharapkan bisa membantu visi misi mereka selanjutnya. Gottlich mengungkapkan jika dana hak merchandis berkontribusi agar St. Pauli kembali promosi ke Bundesliga.



Sumber lai : World Soccer.

Komentar