Pertandingan Ini Dilanjutkan Setelah Tertunda 100 Tahun

Cerita

by Ammar Mildandaru Pratama

Ammar Mildandaru Pratama

mildandaru@gmail.com

Pertandingan Ini Dilanjutkan Setelah Tertunda 100 Tahun

Jangan dulu terheran-heran dengan ditundanya laga Final Inter Island Cup (IIC) selama satu tahun. Pasalnya, terdapat laga yang lebih gila lagi karena ditunda dan akhirnya dilanjutkan seratus tahun kemudian. Jika IIC memang sudah basi, tidak demikian dengan pertandingan satu ini karena sejarahnya yang memang panjang. Pertandingan tersebut mempertemukan Corinthians (Brasil) melawan Corinthian Casuals (Inggris).

Corinthians, kesebelasan papan atas asal Brasil tersebut memang punya sejarah panjang dengan sepakbola Inggris. Pada 1910, Corinthian Casuals sedang berkunjung ke Brasil untuk bertanding. Pada masa itu, sepakbola di Brasil hanya dapat dinikmati oleh kalangan atas, bangsawan dan orang-orang berkantong tebal. Atas dasar itulah beberapa buruh di Sao Paulo berniat untuk membangun kesebelasan sendiri. Karena terpikat dengan permainan kesebelasan yang mereka tonton tadi, nama Corinthians akhirnya dipakai.

Baca terbentuknya Corinthians selengkapnya di sini

Karena rasa terima kasih dan bentuk penghormatan atas sejarah dua kesebelasan, laga antara keduanya kemudian rutin diadakan hingga sekarang. Tetapi laga pertama yang seharusnya dijadwalkan pada 1914, justru harus dibatalkan karena adanya perang dunia pertama. Pertandingan yang tertunda tersebut kemudian dilanjutkan kembali pada 24 Januari 2015, bertepatan dengan tanggal berdirinya kota Sao Paolo.
socrates corinthian
Socrates, legenda Brasil dan Corinthians ketika bertanding melawan Corinthian Casuals pada 1988. Ia mencetak satu-satunya gol untuk Corinthians pada laga itu, dan berganti seragam Corinthians Casuals selepas jeda.

Lalu siapa sebenarnya Corinthian Casuals, kesebelasan yang menjadi "ayah" dari Corinthians?

Klub yang kaya akan sejarah dan bangga dengan tradisi, begitu klaim mereka di situs resminya. Sebenarnya, mereka adalah hasil merger pada 1939 antara dua kesebelasan Corinthian (1882) dan Casuals (1883). Saat ini, tim berjuluk The Chocolate & Pink tersebut berada di Liga Isthmian atau divisi kedelapan dalam piramida kompetisi Inggris.

Sebagai tim amatir, pertandingan mereka tak pernah ditonton banyak orang. Rataan suporter yang hadir berkisar 75-150 orang saja tiap laga. Stadion Corinthian Casuals juga termasuk kecil, bahkan jika Fernando Torres, yang sering membuang peluang, bermain di sana, barangkali anak gawang akan kerepotan karena bola seringkali keluar ke jalan.

Namanya juga jauh kalah tenar dari "anak" mereka Sport Club Corinthians Paulista (nama lengkap Corinthians dari Brasil) yang pendukungnya diklaim sudah mencapai 30 juta di seluruh dunia. Meski secara prestasi dan nama besar beda jauh, tetapi bagi pendukung keduanya adalah sama. "Brother in football" nama kampanye yang diusung oleh mereka.

Bahkan saat pertandingan resmi, suporter Corinthians yang memakai seragam Corinthian Casuals sering terlihat begitu pula sebaliknya.

Sambutan meriah dirasakan oleh Corinthian Casuals begitu tiba di bandara setelah menempuh perjalanan jauh dari London ke Sao Paolo. Sesuatu yang tak pernah mereka rasakan selama ini. Kemeriahan serta sambutan hangat juga masih mereka terima  di jalan hingga saat berlatih di Corinthians Arena, tempat diselenggarakannya laga.



Walaupun bertajuk persahabatan pertandingan tetap berjalan dalam nuansa kompetitif. Kedua kesebelasan tetap bermain dengan sepenuh hati, berusaha memenangkan laga. Beberapa pemain juga sempat bertukar seragam dan berganti tim di antara keduanya saat pertandingan, sesuai dengan tradisi yang ada sebelumnya.

Pertandingan sendiri berakhir dengan skor 3-0 untuk kemenangan tuan rumah. Tetapi pihak Corinthians tetap beranggapan bahwa skor akhir tidak penting untuk mereka, yang penting para penggemar muda paham dan ingat sejarah kesebelasan mereka.

God Save The Corinthian!



Baca juga:

Kisah Lima Buruh yang Membidani Lahirnya Corinthians


Corinthians Kontrak Pemain Down Syndrome


Pemain Corinthians Berikan Penghormatan Kepada Ayrton Senna


Orang-orang Kiri di Persimpangan Lapangan Bola


Pelajaran dari Rivellino untuk Kiper: Jangan Kebanyakan Berdoa!




Komentar