Guardiola yang Membenci Tiki-Taka dan Beberapa Cerita Menarik Lainnya

Buku

by Ardy Nurhadi Shufi Pilihan

Ardy Nurhadi Shufi

Pemimpin Redaksi | Pesepakbola Tarkam | Juru Taktik
ardynshufi@gmail.com

Guardiola yang Membenci Tiki-Taka dan Beberapa Cerita Menarik Lainnya

Selalu ada kisah menarik ketika seorang tokoh menceritakan perjalanan hidup mereka lewat sebuah otobiografi. Setelah beberapa waktu lalu Roy Keane dan Rio Ferdinand melakukan hal tersebut, baru-baru ini manajer Bayern Munich, Pep Guardiola, baru saja merilis kisah hidupnya dalam sebuah buku yang berjudul ‘Pep ConfidentialÂÂÂ’ atau `Herr Pep` dalam bahasa Spanyol.

Buku ini bukan buku autobiografi Guardiola pertama. Sebelumnya, seorang penulis bernama Guillem Ballague, menceritakan kesuksesan Guardiola lewat bukunya yang berjudul "Pep Guardiola: Another Way of Winning".

Jika buku Ballague lebih menceritakan tentang Guardiola dan Barca, buku `Herr Pep` yang ditulis oleh Marti Perarnau, rekan Guardiola yang juga berprofesi sebagai penulis, ini lebih menceritakan tentang musim pertamanya Pep bersama Bayern Munich. Namun dalam beberapa bagian, Marti juga menceritakan pengalaman-pengalaman menariknya semasa ia masih melatih raksasa Spanyol, Barcelona.

Lewat beberapa sumber, berikut cerita-cerita menarik tentang Guardiola pada buku terbarunya ini.

Guardiola Membenci Tiki-Taka!

Kisah pertama yang diceritakan Guardiola pada Marti adalah tentang bagaimana Guardiola sebenarnya membenci tiki-tika. Sebagaimana yang kita ketahui, tiki-taka adalah skema permainan umpan-umpan pendek cepat ala Barcelona, yang disempurnakan oleh Guardiola.

"Saya membenci tentang semua yang berhubungan dengan tiki-taka," ujar Guardiola seperti dikutip harian Telegraph. "Aku benci itu. Tiki-taka memiliki arti anda melakukan banyak umpan tanpa tujuan yang jelas."

"Jangan percaya apa yang dikatakan orang! Barca tak melakukan tiki-taka! Dalam sebuah tim olahraga, anda harus memiliki taktik menyerang habis-habisan pada satu sisi, sehingga lini pertahanan lawan meninggalkan sisi pertahanan lain untuk mengatasi sisi yang diserang itu." lanjut Guardiola.

"Kami menyerang dan mencetak gol lewat sisi yang mereka tinggalkan. Sebab itulah anda harus melakukan umpan, tapi dengan sebuah tujuan yang jelas. Yang kami lakukan adalah membuat lawan kerepotan, lalu menarik mereka, kemudian menyerang mereka lewat sebuah serangan mematikan. Tak ada hubungannya dengan tiki-taka," ujar Guardiola menegaskan.

Pada pembicaraan ini, Guardiola memang sedang berapi-api. Menurut Marti, sejak pertama kedatangannya pada sebuah makan malam itu, Guardiola seperti orang yang tak memakan apapun seharian. Ketika pelatih asal Spanyol itu tiba, ia langsung melahap sebuah hidangan kentang.

Pertemuan pertamanya itu memang terjadi setelah pertandingan Bayern Munich melawan Nuenberg. Dan Guardiola mengatakan, pada hari pertandingan, Guardiola memang selalu tak memiliki nafsu makan sebelum pertandingan tersebut digelar.

Bagaimana Guardiola Memaksimalkan Potensi Messi

Lionel Messi kini menjelma menjadi pemain terbaik dunia, semua orang mengakuinya. Dan banyak pihak yang mengatakan bahwa Messi bisa menjadi seperti sekarang ini berkat kejelian Guardiola dalam memaksimalkan potensinya.

Guardiola mengatakan, awal mula ia memanfaatkan kelebihan Messi adalah ketika pertandingan el clasico melawan Real Madrid pada 2009. Saat pertandingan memasuki menit ke-10, Guardiola menginstruksikan Messi bertukar posisi dengan Samuel Eto`Â’o. Eto`Â’o yang bermain sebagai penyerang tengah, menempati posisi penyerang kanan, posisi Messi.

Semua orang melihat itu sebagai pertukaran posisi biasa, termasuk duo centre-back Real Madrid, Cristophe Metzelder dan Fabio Cannavaro. Sampai akhirnya keduanya menyadari bahwa Messi bermain lebih seperti seorang gelandang serang ketimbang penyerang tengah.

Marti yang menulis buku ini, sempat melakukan pertemuan dengan Metzelder lewat sebuah makan malam di Dusseldorf, Jerman. Dan ketika ditanyai hal ini, Metzelder menceritakan dengan jelas karena hal itu masih segar dalam ingatannya.

"Fabio [Cannavaro] dan aku saling memandang. Kami seolah bertanya `‘Apa yang akan kita lakukan? Apakah kita mengikutinya ke tengah, atau tetap menjaga kedalaman?`. Saat itu kami benar-benar tak memiliki petunjuk," ujar Metzelder.

Itulah yang dinamakan dengan false 9. False 9 bukanlah sebuah peran bagi penyerang yang diciptakan Guardiola, karena peran seperti ini sudah ada sejak lama. Hanya saja Guardiola berhasil mengaplikasikannya dengan baik lewat kemampuan luar biasa yang dimiliki Lionel Messi.

Penggunaan Messi sebagai false 9 sendiri ia temukan ketika ia menganalisis beberapa pertandingan Real Madrid. Selama dua hari ia mencari kelemahan-kelemahan Real Madrid dan memikirkan apa yang bisa dilakukannya untuk memanfaatkan kelemahan Madrid tersebut.

Sehari sebelum pertandingan itu, akhirnya ia menemukan kecenderungan pertahanan Madrid. Yakni gelandang bertahan Madrid, sering melakukan penjagaan pada pemain tengah lawan. Sementara Metzelder dan Cannavaro, mereka lebih bermain di area penalti dekat Iker Casillas.

Dengan alunan musik yang menemaninya, ia membayangkan Yaya Toure dan Xavi Hernandez akan memancing Gago dan Guti, sementara Messi bergerak bebas diantara ruang kosong depan kotak penalti. Meskipun ia tak yakin strategi ini akan berjalan mulus, ia lantas menelpon Messi untuk memberitahukannya, meski saat itu sudah pukul 10 malam.

"Leo, ini aku, Pep. Aku baru saja melihat sesuat yang penting, benar-benar penting. Lebih baik kau datang ke sini sekarang. Sekarang, aku mohon," ujar Pep dalam telponnya tersebut.

Setengah jam kemudian Messi datang ke kantor Pep. Tak berlama-lama, Guardiola lantas menunjukkan rekaman sebuah pertandingan Madrid dan memberitahu area kosong, di mana Messi akan mengisi pos tersebut. Pep sendiri menyebutnya sebagai `Zona Messi`.

Hasilnya? Sempurna. Meski bermain di Santiago Bernabeu, Barcelona berhasil melumat Real Madrid dengan skor telak, 6-2, dengan Messi yang mencetak dua gol. Sejak saat itulah Messi mulai difungsikan sebagai false 9.

Selanjutnya: Menyukai Old Trafford dan Cerita tentang Polo Air

Komentar