Ada yang Salah dengan Liverpool

Taktik

by Dex Glenniza

Dex Glenniza

Managing editor of Pandit Football, MSc sport science, BSc architecture, licensed football coach. Born with the full name of Defary Glenniza Tiffandiputra, growing up with a nickname Dex Glenniza. Who cares anyway! @dexglenniza

Ada yang Salah dengan Liverpool

Entah kenapa, ada yang salah dengan Liverpool di tahun 2017. Sejak mengalahkan Manchester City 1-0 pada akhir tahun 2016 (31/12/2016 waktu Inggris), The Reds belum pernah meraih kemenangan lagi. Dalam tiga pertandingan di 2017, mereka sudah imbang dua kali dan kalah sekali.

Perjalanan tahun ini diawali dengan bermain imbang 2-2 pada pertandingan Liga Primer Inggris melawan Sunderland di Stadium of Lights, dilanjutkan dengan imbang 0-0 menghadapi Plymouth Argyle di Piala FA, kemudian yang terbaru adalah kalah 1-0 dari tuan rumah Southampton di semi-final leg pertama Piala Liga Inggris (EFL Cup).

Hal ini mengkhawatirkan karena pasukan Jürgen Klopp ini selanjutnya akan bertandang ke Old Trafford untuk menghadapi tuan rumah Manchester United pada Minggu malam WIB (15/01/2017).

Sejauh musim ini, Liverpool adalah salah satu kesebelasan yang paling konsisten. Tapi melewati tiga pertandingan berturut-turut dengan hasil yang tidak memuaskan pastinya menghadirkan kekhawatiran tersendiri bagi Klopp.

Ada beberapa hal yang bisa kita ambil dari tiga hasil tidak memuaskan Liverpool tersebut. Beberapa hal ini mungkin akan krusial jika Klopp belum mampu mengatasinya pada akhir pekan nanti.

Banyak kesalahan di lini belakang

Di antara enam kesebelasan teratas di Liga Primer, Liverpool memuncaki daftar kesalahan dalam bertahan (defensive error) dengan 9 kali, lima di antaranya berujung gol (angka ini bahkan menjadi tertinggi kedua di Liga Primer). Statistik ini tentunya menunjukkan kepada lawan-lawan The Reds bahwa pertahanan mereka bisa dieksploitasi dengan mudah.

Mereka juga sudah kebobolan 23 gol, yang juga merupakan angka terbanyak di antara enam kesebelasan teratas Liga Primer.

Pada pertandingan Piala Liga, salah satu bek tengah Liverpool, Ragnar Klavan, melakukan kesalahan dari sapuannya yang mengawali gol dari Nathan Redmond. Tapi bukan hanya Klavan saja, para pemain bertahan Liverpool juga sesekali masih kedapatan melakukan kesalahan elementer.

Absennya Joel Matip dinilai menjadi salah satu penyebab akan hal ini. Ini ditunjukkan dari Liverpool yang tidak terkalahkan dalam 14 pertandingan ketika Matip bermain. Kemudian beberapa pihak juga menyalahkan penampilan kedua penjaga gawang mereka, Simon Mignolet dan Loris Karius, yang dinilai sering melakukan kesalahan.

Sepanjang musim ini Liverpool memang baru kalah tiga kali, yaitu 2-0 saat bertandang ke Burnley (20/08/2016), 4-3 saat bertandang ke AFC Bournemouth (04/12/2016), dan pertandingan melawan Southampton kemarin (12/01/2017). Bertandang ke markas Manchester United ditambah dengan kondisi tiga pertandingan berturut-turut yang tidak memuaskan, ini seolah menjadi angin segar bagi pasukan José Mourinho.

Secara jumlah, Liverpool memang jarang kecolongan peluang (156, merupakan angka terendah di Liga Primer). Tapi melihat angka kebobolannya, dari peluang yang sedikit itulah The Reds justru bisa kebobolan.

Selain itu, Liverpool juga berada pada peringkat keempat terburuk soal menang duel. Klopp harus ekstra hati-hati karena lawannya akhir pekan nanti bukan lawan sembarangan, yaitu Zlatan Ibrahimovic. Hal yang perlu diperhatikan Klopp adalah cara Liverpool dalam bertahan menghadapi set piece atau situasi bola mati.

Lambat membangun serangan melalui lini tengah

Dari lini belakang, kemudian beralih ke lini tengah. Dengan gegenpressing khas Klopp, Liverpool berhasil menjelma menjadi kesebelasan yang paling ditakuti di Liga Primer. Tapi dalam tiga pertandingan terakhir, Liverpool dinilai terlalu lambat dalam melakukan pembangunan serangan.

Jika ingin mencari kambing hitam, Emre Can adalah salah satu pemain yang paling disalahkan atas hal ini.

“Kami harus bisa lebih jelas dalam operan kami,” kata Klopp setelah pertandingan melawan Southampton seperti yang kami kutip dari Sky Sports. Maksud Klopp dengan ‘lebih jelas’ ini mengacu kepada Can yang sering menunda untuk berlama-lama menguasai bola.

Jamie Redknapp, seorang pandit, kemudian menambahkan: “Setiap kali Can mendapatkan bola, ia melakukan sampai enam sentuhan. Tetaplah sederhana. Kamu harus bisa memindahkan bola dengan cepat melalui operan. Can sangat memperlambat permainan.”

Can sendiri selalu bermain dalam empat pertandingan Liverpool terakhir, termasuk pada kemenangan melawan City. Tapi mungkin ini bukan sepenuhnya salah Can. Ada satu pemain yang menjadi pembeda, ia adalah Jordan Henderson. Terakhir kali Henderson bermain adalah saat melawan City tersebut, di mana ia mendapatkan cedera.

Jika Henderson sudah bisa dimainkan melawan United, bukan tidak mungkin hal negatif ini akan berubah bagi Liverpool.

Dinamisme penyerangan yang berkurang

Kehilangan Philippe Coutinho yang cedera dan Sadio Mané yang pergi ke Piala Afrika CAF bersama Senegal, membuat penyerangan Liverpool sedikit tumpul dan kekurangan dinamisme mereka. Terutama untuk nama terakhir, Mané menjadi pemain pembeda bagi Liverpool saat mereka menahan imbang Sunderland di pekan ke-20.

Setelah Mané pergi, angka tembakan tepat sasaran Liverpool menurun drastis, yaitu dari 15 (melawan Sunderland), menjadi 4 (melawan Plymouth), dan kemudian 2 (melawan Southampton).

Klopp mencoba memainkan Daniel Sturridge saat menghadapi Southampton. Tapi ia berhasil dimatikan oleh Virgil van Dijk sehingga tidak mampu berbuat banyak. Begitu juga dengan Divock Origi.

Satu pemain yang tetap bisa diandalkan hanya Roberto Firmino. Tapi itupun ia harus bermain sebagai false nine, karena jika bermain sebagai winger, ia sangat minim berkontribusi.

Permasalahan ini mungkin juga bisa terselesaikan dengan bermainnya kembali Coutinho yang sudah sembuh dari cedera. Jika Coutinho bermain, ia bisa mengisi posisi winger kiri, sedangkan Firmino di false nine dan Adam Lallana untuk sementara bisa terus diandalkan sebagai winger kanan.

Akan tetapi jika masalah ini belum terselesaikan dan Liverpool kadung tidak sabaran menunggu Mané pulang dari Gabon, mungkin Klopp harus berpikir untuk membeli pemain baru.

Semua terjadi karena faktor kelelahan

Tidak memiliki jadwal bermain di Eropa baik di Liga Champions maupun Liga Europa, mungkin akan sedikit menggelikan jika saya menyatakan bahwa Liverpool mengalami kelelahan. Tapi sejujurnya, Liverpool memang kelelahan.

Liverpool menjadi kesebelasan dengan waktu istirahat terendah kedua selama boxing day, yaitu 5 hari 18 jam 15 menit, di atas Southampton (yang mengalahkan mereka) dengan 4 hari 15 jam 45 menit.

Hal ini sangat berpengaruh bagi skuat Klopp, meskipun ia sempat mengistirahatkan banyak pemain utamanya saat bermain imbang menghadapi Plymouth di Piala FA. Satu hal terbesar yang membuat Liverpool kelelahan bukan berasal dari jadwal mereka (meskipun ini juga ngefek, sih), tapi dari cara bermain mereka.

Gegenpressing yang menekan tanpa henti dan berintensitas tinggi sangat membuat para pemain kelelahan, bukan hanya di pertandingan, tapi juga di atas lapangan latihan mereka di Melwood.

Ini memang sudah musim kedua Klopp menjabat sebagai manajer Liverpool. Tapi mungkin memang masih belum cukup. Satu hal yang menjanjikan, jika ia bisa membuat skuatnya beradaptasi dengan baik dengan gegenpressing, ia berpotensi akan membuat Liverpool sebagai kesebelasan penuh energi di Liga Primer.

Namun itu jangka panjang. Sementara jangka pendeknya, seperti yang sudah dijelaskan panjang-lebar di atas, Liverpool sedang memiliki masalah. Klopp harus bersiap memutar otaknya di Old Trafford akhir pekan ini.

Komentar