Sayap-Sayap yang Membuat "Liverbird" Kembali Terbang

Taktik

by Sandy Firdaus

Sandy Firdaus

Penulis merangkap pewarta. Yang kita tahu sebenarnya adalah kita tidak tahu apa-apa (Noel Gallagher)

Sayap-Sayap yang Membuat "Liverbird" Kembali Terbang

Dalam taksonomi Carolus Linneaus, sebuah cabang ilmu biologi yang mempelajari tentang pembagian makhluk hidup berdasarkan spesifikasi fisiologis dan morfologisnya, burung termasuk dalam Kingdom Animalia, sama seperti manusia. Namun, ada satu hal yang membedakan burung dengan makhluk hidup lainnya dalam Kingdom Animalia. Mereka memiliki kelasnya sendiri, yaitu Aves, dan kelas Aves ini terdiri dari berbagai ordo, yang jumlahnya sampai 12 ordo (bangsa) yang berbeda. Burung pun memiliki ilmu yang khusus untuk mempelajari burung itu sendiri, yang dinamakan ornitologi.

Selain itu, alasan lain yang membuat burung berbeda dari makhluk hidup lain adalah karena mereka memiliki sayap dan paruh, spesifikasi morfologis khusus milik mereka sendiri. Lewat sayap dan paruh inilah, burung bergerak, hidup, dan mencari makan. Ketika sayap burung salah satunya patah atau rusak, maka jangan harap burung dapat hidup secara normal.

Sayap-sayap dan paruh inilah yang belakangan ini kembali membangkitkan salah satu klub asal kota Liverpool yang memiliki simbol burung Liver, Liverbird, yang diklasifikasikan sebagai kerabat dari burung Cormorant, burung yang sering terlihat terbang di perairan teluk kota Liverpool. Klub ini juga sering disebut sebagai The Reds karena seragamnya yang berwarna merah. Nama klub itu adalah Liverpool Football Club, atau yang biasa disingkat sebagai Liverpool F.C.

Belakangan, utamanya sejak mereka berhasil menahan imbang Tottenham Hotspurs di Anfield pada 2 April lalu, penampilan dan grafik Liverpool terus mengalami peningkatan. Hasil dari meningkatnya grafik permainan Liverpool ini adalah berhasil lolosnya mereka ke babak semifinal Europa League dan juga mulai stabilnya mereka di Liga Primer Inggris yang tinggal menyisakan lima pertandingan bagi Liverpool.

Salah satu dari sebab peningkatan dari permainan Liverpool ini adalah sayap-sayap mereka yang mulai aktif dan kontributif dalam mendukung penyerangan. Total, mereka mencatatkan 16 gol selama pertandingan di bulan April ini, dengan rincian tujuh gol tercipta dari sisi kiri, tiga gol dari sisi kanan, tiga gol dari tengah, dan tiga gol dari free-kick.

Dari skema-skema gol tersebut, dapat dilihat bahwa kebanyakan gol tercipta dari sisi sayap (kiri tujuh, kanan tiga). Hal ini juga didukung dengan jumlah crossing Liverpool dalam pertandingan di bulan April ini yang mencapai 120 crossing (ada kemungkinan bertambah) dan juga kecenderungan serangan Liverpool di musim ini yang mencapai 38% dari sisi kanan, 34% dari sisi kiri, dan hanya 28% yang melalui tengah. Ini semakin menunjukkan bahwa pemain sayap Liverpool sangat kontributif sekali di laga-laga bulan April ini.

Serangan dari sayap Liverpool ini juga didukung oleh performa menawan dari para gelandang yang kerap menyisir sayap yang membuat sayap Liverpool semakin kuat. Berikut adalah para gelandang sayap yang bermain gemilang di bulan April ini.

Adam Lallana

Mantan pemain Southampton ini menjadi gelandang yang cukup berpengaruh dalam permainan Liverpool yang bermula dari sayap. Tipikalnya yang sering melakukan cut inside ke lini pertahanan lawan dari sayap, baik itu kanan maupun kiri, membuat ia memiliki rataan akurasi tendangan yang cukup tinggi, yaitu sebesar 75%. Total chances created yang cukup banyak, yaitu sembilan kali, yang berarti ia juga berkontribusi dalam beberapa gol Liverpool.

Namun, selain cut inside, ia pun kerap melakukan umpan menyisir tanah dari sayap, meski ia juga sering melakukan umpan ke belakang, dengan presentase umpan ke depan sebesar 49,2% dan umpan ke belakang sebesar 50.8%. Satu decoy run nya ketika melawan Tottenham juga patut untuk diperhatikan sehingga Coutinho memiliki ruang untuk menembak yang akhirnya berbuah gol.

Sheyi Ojo

Pemain muda ini terlihat begitu bersinar saat pertandingan melawan Stoke City dan juga Bournemouth. Hanya saja, ia adalah tipikal pemain yang berbeda dengan Lallana. Ia rajin berlari menyisir sayap ataupun pindah dari satu sayap ke sayap lainnya untuk mengacaukan pertahanan lawan, seperti yang ia lakukan ketika melawan Bournemouth, tapi tanpa melakukan shoot ke gawang sama sekali karena total shoot accuracy nya selama pertandingan bulan April ini sebesar 0%.

Tapi, meski hanya rajin berlari, ia juga memiliki rataan passing yang cukup baik, yaitu sebesar 88%. Teta[o dengan rincian umpan ke depan sebanyak 41,5% dan umpan ke belakang sebesar 58,5%, terlihat bahwa Ojo hanya mampu mengalirkan bola saja di sayap. Meski begitu, ia mampu membuat satu assist penting bagi gol Origi dalam kemenangan Liverpool 4-1 atas Stoke City.

Jordan Ibe

Pemain ini sempat absen dalam laga melawan Stoke. Tapi, di laga-laga setelahnya ia tampil dengan cukup gemilang. Seperti halnya Lallana, pemain ini juga gemar melakukan cut inside ke tengah, terlihat dari rataan shoot accuracy nya yang mencapai 50%. Cances created nya yang mencapai angka lima juga menunjukkan bahwa ia banyak berkontribusi juga dalam gol-gol Liverpool.

Meski begitu, ia juga tidak lupa untuk melepaskan umpan-umpan penting ke lini pertahanan lawan dari sayap kiri. Rataan umpannya cukup besar, mencapai angka 91%, dengan rincian umpan ke belakang sebesar 52,8% dan umpan ke depan sebanyak 47,2%. Dengan rincian umpan yang banyak ke belakang, ini menunjukkan bahwa ia lebih banyak mengalirkan bola di sayap, seperti halnya Lallana dan Ojo.

Phillipe Coutinho dan James Milner

Memasukkan nama dua pemain ini secara bersamaan adalah karena dua pemain ini bisa dianggap sebagai pemain kunci suksesnya Liverpool dalam melakukan permainan sayap yang gemilang. Absen dalam dua pertandingan di bulan April tidak sama sekali menurunkan kredibilitas seorang Phillipe Coutinho. Di antara gelandang yang kerap melakukan cut inside, gelandang asal Brasil inilah yang paling berbahaya. Meski akurasi tendangannya hanya mencapai angka 50%, tapi dua dari tiga gol yang ia ciptakan di bulan April adalah gol yang krusial, yaitu saat ia menciptakan gol melawan Spurs dan Dortmund yang berawal dari proses yang sama; cut inside.

Chances created yang ia ciptakan pun lumayan banyak, yaitu sebesar 11, yang berarti ia berkontribusi juga dalam penyerangan Liverpool. Akurasi passing yang lumayan tinggi, mencapai 84% dengan rincian umpan ke depan yang lebih banyak (64.7%) memperlihatkan bahwa ia adalah salah satu motor serangan Liverpool di bulan April ini.

Selain Coutinho, nama James Milner juga patut untuk diperhatikan. Meski bukan tipikal gelandang yang suka melakukan cut inside ke tengah, ia adalah gelandang penyuplai crossing yang baik. Dalam pertandingan melawan Everton, dua crossing nya dari sisi kanan dan kiri berbuah menjadi gol. 11 chances created, yang sama besarnya dengan yang dimiliki oleh Coutinho, menunjukkan bahwa ia juga banyak berkontribusi dalam penyerangan Liverpool.

Rataan passing Milner pun lebih banyak dilakukan ke depan, yaitu sebesar 67.7%, lebih besar dari Coutinho. Jangan lupakan juga kalau Milner sekarang adalah penyumbang assist terbanyak bagi Liverpool dengan koleksi 11 assist di Liga Primer. Dari catatan itu, bisa dilihat bahwa Milner juga adalah kunci dari penyerangan Liverpool, selain Coutinho tentunya.

***

Para gelandang di atas adalah gelandang-gelandang yang membuat sayap Liverbird kembali mengepak dan membawa Liverpool terbang tinggi menuju semifinal Europa League dan zona Europa League di klasemen Liga Primer. Ditambah lagi mereka bekerja sama dengan striker-striker yang siap menyambut umpan-umpan silang yang kemudian dikonversikan menjadi gol macam Dejan Lovren, Mamadou Sakho, Roberto Firmino, Daniel Sturridge, ataupun Divock Origi, jadilah Liverbird memiliki paruh yang tajam untuk mengoyak jala lawannya.

Jika mereka tetap mampu tampil konsisten, bukan tidak mungkin mereka mampu membuat sayap Liverbird tetap mengepak, dan terbang jauh menuju habitat mereka dahulu kala; Liga Champions Eropa. Tentunya mereka harus menjuarai Liga Europa.

foto: bleacherreport.com

Komentar