Mengenal Counterpressing, Kunci Permainan Terstruktur Spurs

Taktik

by Dex Glenniza

Dex Glenniza

Managing editor of Pandit Football, MSc sport science, BSc architecture, licensed football coach. Born with the full name of Defary Glenniza Tiffandiputra, growing up with a nickname Dex Glenniza. Who cares anyway! @dexglenniza

Mengenal Counterpressing, Kunci Permainan Terstruktur Spurs

Selain Leicester City, Tottenham Hotspur sudah menjadi kesebelasan yang bermain sangat mengesankan dalam musim Liga Primer Inggris yang tidak biasa dan sulit diprediksi ini. Kesebelasan asal London Utara ini dipenuhi oleh pemain muda, terutama mereka yang asli asal Inggris, begitu juga dengan kekompakan, semangat tim, dan rasa kekeluargaan di skuat mereka.

Performa gemilang kesebelasan berjuluk The Lilywhites di musim ini bukan lain adalah hasil dari manajer Mauricio Pochettino. Kemampuan mengembangkan pemahanan yang komprehensif terhadap ingin seperti apa timnya bermain adalah sesuatu yang berhasil dilakukan oleh manajer asal Argetina ini.

Dari saat ia masih bermain sebagai bek, Pochettino terkenal akan permainannya yang agresif. Saat menjadi pelatih juga ia tidak jauh dengan permainan serupa, terutama ia yang banyak terpengaruh dengan taktik pressing à la Marcelo Bielsa.

Karier kepelatihannya di Inggris berawal saat ia menggantikan Nigel Adkins di Southampton pada Januari 2013. Sejak tiba di Inggris, ia langsung memperkenalkan permainan agresif yang menuntut timnya untuk langsung menutup lawan ketika timnya kehilangan bola.

Taktiknya ini sudah terkenal dengan nama counterpressing. Taktik ini berbeda dengan gegenpresing milik Jürgen Klopp.

Baca juga: Kajian Singkat terhadap Pressing atau Kendali Ruang

Dalam counterpressing, kesebelasan dituntut untuk mengganggu alur permainan lawan sambil juga menciptakan kesempatan melalui serangan balik yang dimenangkan dari area yang tinggi di lapangan.

Counterpressing ini sangat mengandalkan transisi secepat kilat menuju mindset bertahan seketika mungkin setelah kesebelasan kehilangan penguasaan bola.

Struktur dan organisasi yang mendasari counterpressing

Seperti yang kita tahu, ada empat momen utama dalam sebuah pertandingan sepakbola, yaitu ketika sebuah tim menguasai bola, ketika lawan menguasai bola, transisi di antara menyerang (menguasai bola) ke bertahan (kehilangan bola), dan transisi di antara bertahan ke menyerang.

Keempat momen ini pastinya akan saling berhubungan. Ada beberapa prinsip dan tugas yang dibutuhkan bagi sebuah kesebelasan agar siap untuk beralih dari satu momen ke momen lainnya.

Contohnya dari counterpressing adalah, tim harus terstruktur dan terorganisir ketika mereka menguasai bola, sehingga ketika/jika mereka kehilangan penguasaan, mereka bisa melakukan pressing secara efisien. Ini lah kenapa counterpressing tidak sama dengan pressing mambabi-buta.

Baca juga: Pochettino, Seorang Argentina yang Berjasa bagi Inggris

Kita bisa membaca kembali salah satu kutipan Pep Guardiola yang bisa kita hubungkan dengan peran struktur dan organisasi yang mendasari counterpressing ini. Kutipan tersebut sudah terkenal dengan istilah "aturan 15 operan".

"Jika tidak ada rangkaian 15 operan terlebih dahulu, akan sulit melakukan transisi di antara bertahan dan menyerang. Jika Anda kehilangan bola, jika mereka (lawan) berhasil merebutnya dari Anda, kemudian pemain lawan yang mendapatkan bola tersebut kemungkinan akan sendirian dan dikelilingi oleh pemain-pemain Anda. Ini yang membuat Anda bisa merebut bola kembali dengan mudah, atau, setidaknya memastikan bahwa kesebelasan lawan tidak bisa melakukan manuver secara cepat," ujar Guardiola seperti yang pernah dianalisis oleh Spielverlagerug.

Tidak bermain melebar

Jadi pada prinsipnya, setiap pemain dituntut untuk meng-cover area yang secara tidak langsung lebih kecil di lapangan. Sebuah kesebelasan yang jarak antar pemainnya tidak terlalu jauh akan mampu melakukan counterpressing lebih efektif daripada mereka yang bermain melebar.

Struktur Tottenham Hotsur ketika menguasai bola
Struktur Tottenham Hotsur ketika menguasai bola

Jika sebuah kesebelasan bermain terlalu melebar, ini juga akan memperlebar jarak yang pemain-pemain mereka harus cover dalam rangka menekan lawan ketika kehilangan bola. Hal ini lah yang membuat lawan bisa leluasa ketika baru saja merebut penguasaan bola.

Ini lah kenapa Pochettino secara tidak langsung tidak menyukai pemain sayap. Aaron Lennon terbuang, begitupun Andros Townsend. Padahal keduanya bisa dibilang adalah pemain yang berpengaruh di Spurs.

Secara umum, Pochettino gemar memakai 4-2-3-1 atau 4-3-3, yang sudah ia pakai sebanyak 30 kali (dari total 32 pertandingan) pada Liga Primer musim ini. Seharusnya dari formasi di atas, kita bisa membaca akan adanya pemain sayap kanan dan kiri. Namun, Pochettino lebih suka menyebut sayapnya tersebut sebagai penyerang yang melebar (wide attacker).

Pochettino menjaga lebar lapangan dengan bek sayapnya, di mana kedua bek sayapnya tersebutlah (biasanya Kyle Walker dan Danny Rose, dan juga Nathaniel Clyne dan Luke Shaw atau Ryan Bertrand saat ia di Southampton) yang menyediakan permainan yang lebih melebar, sementara kedua wide attacker-nya akan bergeak ke sisi yang lebih dalam.

Peran kunci, selain wide attacker dan bek sayap, pada taktik ini adalah gelandang bertahan. Kita sering melihatnya musim ini pada diri Eric Dier. Ia akan diam di posisi di depan kedua bek tengah, dan seketika mungkin ketika bola dikuasai lawan, ia akan turun menciptakan skema tiga bek.

Struktur Tottenham Hotspur ketika bertahan dan menghadapi serangan balik
Struktur Tottenham Hotspur ketika bertahan dan menghadapi serangan balik

Ini yang membuat Spurs sangat sulit diserang balik menuju area melebar. Jan Vertonghen (atau Kevin Wimmer ketika Vertonghen cedera), Toby Alderweireld, atau Dier sendiri yang akan menyambut bola counter attack di sisi lapangan tersebut.

Selanjutnya hal pertama yang bisa kita perhatikan dari counterpressing ini adalah, saat asyik menyerang, jika bola lepas, kedua full-back Spurs tanpa basa-basi akan langsung berlari turun.

Baca juga: Masa Depan Kesebelasan Negara Inggris Ada di Tangan Mauricio Pochettino

Kemudian yang menjadi penting bagi Spurs adalah otomatis fokus mereka untuk menyerang dari tengah. Mereka melakukannya sebanyak 44% selama musim ini.

Kenapa ini menjadi penting? Karena jika mereka melakukannya dari tengah, mereka jadi lebih puya banyak opsi mengoper: ke samping kanan, kiri, depan, atau ke belakang. Sebanyak 426 operan mereka (82%) adalah operan pendek. Ketika kehilangan bola juga mereka akan lebih mudah "mengerubungi" lawan.

Halaman berikutnya, Dengan ataupun tanpa bola, Spurs tetap berbahaya

Komentar