Menimbang Kelayakan Stadion Gelora Bandung Lautan Api

Sains

by Dex Glenniza 41096

Dex Glenniza

Managing editor of Pandit Football, MSc sport science, BSc architecture, licensed football coach. Born with the full name of Defary Glenniza Tiffandiputra, growing up with a nickname Dex Glenniza. Who cares anyway! @dexglenniza

Menimbang Kelayakan Stadion Gelora Bandung Lautan Api

Saat ini stadion bukan saja soal fasilitas untuk menggelar pertandingan olahraga yang nyaman dan aman, tetapi juga sudah menjadi tengara (landmark) atau icon pada sebuah kota atau daerah.

Kita bisa melihat kemegahan Gelora Bandung Lautan Api (GBLA) dari pinggir jalan Tol Cileunyi-Padalarang (kira-kira KM 149-151), begitu juga ketika kita menggunakan transportasi pesawat terbang ketika kita take-off atau landing di Bandar Udara Husein Sastranegara, Bandung.

Sudah tiga tahun lebih satu bulan sejak GBLA berdiri di atas Kecamatan Gedebage, Kota Bandung, Provinsi Jawa Barat. Pada saat itu, 9 Mei 2013, adalah hari GBLA dibuka (soft launching). Kami tidak menyebut stadion ini “berdiri kokoh”, karena pada kenyataannya, banyak fisik dari stadion ini yang amblas sehingga perbaikan demi perbaikan harus dilakukan.

Tidak ada yang tahu pasti memang, uang sejumlah (menurut laporan resmi pemerintah Kota Bandung) 545 miliar rupiah sudah dihabiskan untuk membangun stadion ini sejak peletakan batu pertamanya pada Oktober 2009.

Sebagai perbandingan, stadion kandang Persib sebelumnya yang terletak di Kecamatan Soreang, Kabupaten Bandung, yaitu Si Jalak Harupat (SJH), didirikan pada 2003 (dibuka pada 2005) dengan dana hampir seperdelapan dari GBLA, atau sekitar 67,5 miliar rupiah, menurut laporan resmi pemerintah Kabupaten Bandung.

Entah benar atau tidak uang sebanyak itu sudah dikeluarkan untuk seluruhnya dimanfaatkan sebagai pembangunan stadion GBLA yang megah (artinya tidak ada dana yang disalahgunakan), tetapi setelah selesai, ternyata masih butuh perbaikan di sana dan di sini.

Berdasarkan hasil pengecekan sebelumnya, ada lebih dari 50 jenis kerusakan yang ada di stadion tersebut.

Namun apapun yang terjadi, keputusan sudah bulat, kesebelasan Persib Bandung diperbolehkan memakai stadion yang akrab disebut GBLA, Balati, atau BALAP, ini untuk pertandingan pekan ketujuh Indonesia Soccer Championship (ISC) A 2016 pada Sabtu (18/6) malam ini melawan Mitra Kutai Kartanegara.

Kepastian itu didapatkan usai manajemen dan panitia pelaksana (panpel) pertandingan Persib bertemu dengan Wali Kota Bandung, Ridwan Kamil, di Pendopo Kota Bandung pada Senin (13/6) malam WIB. Manajer Persib, Umuh Muchtar, mengatakan bahwa pemberian izin tersebut disertai beberapa syarat yang harus dipenuhi, seperti pembatasan jumlah penonton (karena beberapa pekerjaan renovasi tribun masih dilakukan), dan penjualan tiket. Menurut Umuh, tiket tidak akan dijual di stadion dan hanya akan dicetak 20 ribu saja dari kapasitas total GBLA yang mencapai 38.000.

Beberapa pertanyaan berikutnya yang muncul sebenarnya sederhana: Kenapa Persib dan bobotoh sudah kebelet sekali ingin bermarkas di GBLA? Apakah GBLA merupakan stadion terbaik untuk Persib dan bobotoh?

Meninjau kelayakan GBLA dari persyaratan stadion sepakbola

Sebelum kita menjawab dua pertanyaan di atas, kita terlebih dahulu harus memahami persyaratan mengenai stadion sepakbola. FIFA, sebagai badan sepakbola tertinggi di dunia, dan AFC, sebagai badan sepakbola di Benua Asia, sudah mengatur banyak hal atau standar yang berkaitan dengan stadion.

Misalnya saja FIFA, mereka memiliki setidaknya tiga dokumen umum yang mengatur mengenai stadion sepakbola, yaitu FIFA Club Licensing Regulations (topik infrastruktur), FIFA Football Stadiums: technical recommendations and requirements, dan FIFA Stadium Safety and Security Regulations. Sementara itu, AFC memiliki dua dokumen yang mengatur tentang stadion, yaitu AFC Club Licensing Regulations (topik infrastruktur) dan AFC Stadia Regulations.

Kemudian selain FIFA dan AFC, misalnya saja PSSI, ternyata tidak memiliki peraturan jelas yang mengatur teknis persyaratan stadion sepakbola di Indonesia. Hanya ada Regulasi Liga Indonesia dari PSSI yang digunakan untuk pelaksanaan Indonesia Super League (ISL) 2015. Pada regulasi tersebut, kriteria ini tidak dijelaskan sampai detail, berbeda seperti di FIFA atau AFC.

Peraturan tentang stadion terdapat pada pasal 15 (“Stadion”) yang terdiri dari tujuh ayat, dengan di dalamnya ada banyak hal yang merujuk kepada “memenuhi kriteria sebagaimana ditetapkan oleh Liga”, namun kriteria tersebut sebenarnya tidak dijelaskan dalam dokumen di atas maupun di dalam pasal lainnya.

Keluar dari sepakbola, ilmu arsitektur juga memiliki persyaratan yang lengkap bagi para arsitek dalam merancang, membangun, dan mengelola stadion sepakbola. Jadi, apakah Stadion GBLA sudah memenuhi syarat atau standar stadion sepakbola yang sudah ditentukan oleh FIFA, AFC, serta ilmu arsitektur?

Melalui tinjauan peraturan FIFA dan AFC, persyaratan untuk stadion itu ada banyak sekali. Tapi kami akan melihat dari salah satu aspek saja yang menjadi sorotan GBLA, yaitu tinjauan lokasi.

Masalah utama GBLA: tinjauan lokasi

Berbeda dengan Si Jalak Harupat, GBLA menyediakan desain dan manajemen stadion yang secara umum lebih baik. Tetapi masalah utama di GBLA adalah pada tinjauan lokasi di mana lokasi stadion tidak memenuhi standar FIFA maupun AFC.


Perbandingan tinjauan lokasi Si Jalak Harupat dan Gelora Bandung Lautan Api

Pada tinjauan lokasi, menurut standar FIFA, stadion harus terletak pada sirkulasi publik yang luas. Lahannya juga harus luas, untuk keperluan pengembangan. Kemudian juga terdapat akses transportasi publik yang baik, jalan besar, dan lahar parkir yang mencukupi, serta terjangkau rumah sakit, hotel, fasilitas komersial, dan bandara terdekat.

Untuk tinjauan lokasi dari AFC, mereka mendetailkannya pada bandara, yaitu stadion harus berlokasi di kota yang memiliki bandar udara internasional pada radius 200 km dan waktu perjalanan tidak lebih dari 150 menit. Jika tidak ada bandara internasional, setidaknya stadion harus berlokasi di kota yang memiliki bandara yang terdapat setidaknya 4 penerbangan ke bandara internasional setiap harinya.

GBLA berada di antara ruas Jalan Tol Cileunyi-Padalarang KM 151 dan Jalan Bypass Soekarno-Hatta Bandung. Akses jalan menuju stadion akan dibuat pintu tol khusus di KM 149 ruas Tol Cileunyi-Padalarang, ruas jalan dari arah Stasiun Kereta Api Cimekar dan dari Jalan Rancanumpang, dan ruas jalan baru menyusuri tol sekitar dua kilometer, di samping ruas jalan yang sudah ada. Penyelesaian seperti ini sebenarnya tergolong buruk, karena akan menimbulkan kemacetan di jalan tol khususnya pada hari pertandingan.

Hal ini bisa saja tidak menjadi masalah jika sistem transportasi publik, yang saat ini belum tersedia, dikelola dengan baik oleh pemerintah. Untuk penonton yang tidak menggunakan sistem transportasi publik, tersedia lahan parkir yang sangat mencukupi dan sudah jelas batasan-batasannya.

Selain itu, lahan di sekitar stadion juga masih bisa berkembang, misalnya untuk kebutuhan penambahan area parkir maupun pembuatan shelter dan penghubung ke transportasi publik.


Tinjauan pada lingkungan luar Stadion Gelora Bandung Lautan Api

Saat ini stadion masih dikelilingi oleh area terbuka (persawahan) kecuali di sebelah barat. Sebelah barat langsung berbatasan dengan perumahan (Griya Cempaka Arum), hanya ada sungai yang membatasi. Jika jalan sudah selesai dibangun (sebelah utara stadion), ini akan sangat membantu akses.

Beberapa solusi yang bisa diambil untuk GBLA adalah membuat transportasi umum yang baik karena tinjauan lokasi yang tidak terlalu baik dan penjagaan ketat pada sungai pembatas dengan perumahan agar penonton tidak bercampur, terutama bagi pengguna roda dua yang “ingin parkir gratis” dengan menumpang di perumahan.

Secara umum, tinjauan lokasi Gelora Bandung Lautan Api lebih baik daripada Si Jalak Harupat, tetapi tetap saja tidak memenuhi standar FIFA maupun AFC. Padahal, kalau dilihat secara fisik, stadion ini adalah stadion yang megah. Para arsitek pemerhati stadion ini kebanyakan menyimpulkan stadion ini dibangun dengan urutan pengerjaan yang salah. Seharusnya akses lah yang terlebih dahulu dibangun sebelum stadion ini bisa beroperasi, bukan sebaliknya.

GBLA masih jauh dari layak

Optimalisasi pendekatan desain dan manajemen adalah dua pendekatan terbaik dalam meningkatkan kenyamanan, keamanan, dan keselamatan, di lingkungan stadion sepakbola. Namun, di Indonesia, tidak diperhatikannya desain membuat pembengkakan biaya pada manajemen pertandingan. Sebuah kesebelasan bisa menghabiskan dana sampai ratusan juta rupiah untuk biaya pelaksanaan satu pertandingan.

Untuk pemerintah lokal atau daerah, tinjauan lokasi saat pra-konstruksi stadion sangatlah penting. Sistem transportasi publik harus dimaksimalkan agar tidak terjadi kemacetan, kegaduhan, dan sesuatu yang bisa mengganggu masyarakat karena setiap stadion digunakan (terutama untuk pertandingan) pasti akan menyedot banyak elemen masyarakat.

Khusus untuk GBLA, selain masalah pada tinjauan lokasi, masalah besar lainnya ada pada desain atap stadion karena tampias dari air hujan. Jika terjadi hujan, seluruh penonton pasti akan kebasahan (lihat gambar paling atas), padahal stadion sudah memiliki atap, hanya memang tidak didesain dengan baik (atau sebenarnya sudah baik tapi biayanya “dipotong dan disalahgunakan” sehingga hasilnya tidak sesuai desain?).

Di Indonesia, masalah mengenai desain, manajemen, dan standar kualitas stadion sudah banyak menjadi sorotan. Sejujurnya banyak stadion di Indonesia yang tidak memenuhi syarat FIFA maupun AFC, dan sejujurnya, GBLA adalah salah satu di antaranya.

Terakhir, kita bisa mendapatkan jawaban dari dua pertanyaan yang diajukan pada awal tulisan ini: Kenapa Persib dan bobotoh sudah kebelet sekali ingin bermarkas di GBLA? Apakah GBLA merupakan stadion terbaik untuk Persib dan bobotoh?

Bagaimanapun juga, (selain faktor pelatih) pemakaian GBLA menandakan sesuatu yang baru bagi Persib: lapangan baru, atmosfer baru, dan harapan baru. Secara umum GBLA adalah stadion yang lebih baik untuk Persib jika dibandingkan dengan Si Jalak Harupat atau Stadion Siliwangi.

Mengesampingkan kabar permasalahan pada penyalahgunaan dana pembangunannya, “stadion yang lebih baik” ini memang masih belum memenuhi berbagai macam persyaratan stadion sepakbola untuk dikategorikan sebagai stadion yang layak. Bukan hanya pihak Persib, tapi juga butuh kerjasama dari pihak pemerintah, arsitek, kontraktor, dan bobotoh, agar ke depannya GBLA bisa menjadi stadion yang benar-benar layak dan bisa dibanggakan.

Penulis adalah mahasiswa S2 sains olahraga Institut Teknologi Bandung (ITB) yang melakukan tesis dengan topik penelitian desain dan manajemen lingkungan stadion sepakbola yang bisa meningkatkan keamanan dan keselamatan penonton. Penelitian tersebut menggunakan tinjauan literatur, peraturan, studi kasus, dan data dari beberapa stadion di Indonesia sebagai sampel fokus, yaitu Si Jalak Harupat (Kabupaten Bandung), Gelora Bandung Lautan Api (Kota Bandung), Gelora Sriwijaya (Palembang), dan Mandala (Jayapura).

Sumber peraturan:

  • AFC. (2010). Club Licensing Regulations. Kuala Lumpur: AFC.
  • AFC. (2012). Stadia Regulations for AFC Champions League and AFC Cup. Kuala Lumpur: AFC.
  • FIFA. (2014). Laws of the Game. Zurich: FIFA.
  • FIFA. (2007). Club Licensing Regulations. Zurich: FIFA.
  • FIFA. (2007). Stadium Safety and Security Regulations. Zurich: FIFA.
  • FIFA. (2011). Football Stadiums: technical recommendations and requirements. Zurich: FIFA.
  • PSSI. (2015). Regulasi Liga Indonesia. Jakarta: PSSI.
  • UEFA. (2011). Guide to Quality Stadium. Nyon: UEFA.
  • UEFA. (2010). Stadium Infrastructure Regulations. Nyon: UEFA.

Sumber jurnal:

  • Coutinho-Rodriguez, J., Tralhão, L., Alçada-Almeida, L. (2012). Solving a location-routing problem with a multiobjective approach: the design of urban evacuation plans. Coimbra: Elsevier.
  • Fang, Z., Li, Q., Li, Q., Han, D., Wang, D. (2011). A proposed pedestrian waiting-time model for improving spaceetime use efficiency in stadium evacuation scenarios. Wuhan: Elsevier.
  • Fang, Z., Zong, X., Li, Q., Li, Q., Xiong, S. (2011). Hierarchical multi-objective evacuation routing in stadium using ant colony optimization approach. Wuhan: Elsevier.
  • Tiffandiputra, D., Apriantono, T., Sidi, B. (2016). Optimization of football stadiums management and design to improve the spectators’ safety and security. Bandung: The International Seminar on Physical Education on Sport 2016.
  • Melrose, A., Hampton, P., Manu, P. (2011). Safety at Sports Stadia. Wolverhampton: Elsevier.
  • Xiaoping, Z., Tingkuan, Z., Mengting, L. (2007). Modeling crowd evacuation of a building based on seven methodological approaches. Beijing: Elsevier.

Komentar