Lingkungan Menentukan Gaya Bermain Kesebelasan

Sains

by Frasetya Vady Aditya

Frasetya Vady Aditya

Penyunting. Jangan terkekang; sepakbola cuma cangkang. Kontak: vady.aditya@gmail.com

Lingkungan Menentukan Gaya Bermain Kesebelasan

Jepang dan Amerika adalah dua kekuatan sepakbola di tingkat konfederasi; Jepang berkuasa di Asia, sementara Amerika di Amerika Utara dan Amerika Tengah. Jepang dan Amerika juga pernah menyelenggarakan Piala Dunia. Kedua negara tersebut juga peduli terhadap pengembangan pemain muda. Namun, keduanya sama-sama sulit bicara lebih banyak di Piala Dunia. Lantas, apa yang membedakannya?

Penulis Soccer Mom Manual, Hiroki Kobayashi, menjabarkan bagaimana pembinaan sepakbola di Jepang semestinya bisa menjadi tolok ukur bukan hanya bagi Amerika, tapi juga negara-negara yang serius mengembangkan pemain muda.

“Lingkungan di mana anak-anak tumbuh dan bermain sepakbola, serta kultur kepelatihan adalah dua kunci untuk menentukan cara bermain setiap negara,” tulis Hiroki, “Sistem pembinaan pemain muda Jepang adalah contoh terbaik bagaimana lingkungan dan kepelatihan memengaruhi cara bermain.”

Hiroki, yang kini menjadi atlet Universitas Harvard, membandingkan bagaimana perbedaan pendekatan serta metode yang dilakukan pelatih dalam mendidik para pemain usia muda. Ia pun menyoroti adanya perbedaan lingkungan yang membuat pembinaan sepakbola di Jepang lebih unik ketimbang di Amerika.

Akademik yang Utama

Popularitas pengembangan pemain muda dimulai saat J-League bergulir. Menurut Hiroki,  masyarakat Jepang amat mendewakan prestasi akademik. Bukan tanpa alasan karena itu merupakan syarat utama untuk mendapatkan pekerjaan, sehingga orang tua amat ketat soal urusan akademik.

Ini yang membuat anak-anak di Jepang hanya bermain bola hingga sekolah dasar. Pasalnya setelah memasuki sekolah menengah, jadwal belajar anak-anak biasanya padat dengan tambahan les privat pada malam harinya. Pentingnya akademik membuat pesepakbola muda Jepang biasanya berlatih pagi sekali sebelum masuk sekolah. Mereka baru melanjutkan latihan setelah jam belajar usai.

Di Jepang juga terdapat kompetisi sepakbola antar SMA. Ini yang membuat bakat pemain muda di Jepang tidak pernah habis dan menjadi alasan mengapa mereka lolos ke Piala Dunia.

Pengaruh Permukaan Lapangan

Di Jepang, anak-anak bermain di atas lapangan tanah. Menurut Hiroki ini karena minimnya investasi dalam fasilitas sepakbola dan sulitnya memelihara rumput karena cuaca ekstrem di Jepang.

Bermain bola di lapangan tanah membuat pemain lebih mampu mengontrol bola yang memantul tak tentu arah dan sulit diprediksi. Ini juga yang membuat para pemain Jepang lebih jarang menggiring bola, karena bola yang bergulir di lapangan tanah lebih sulit dikontrol.

Perbedaan Fokus

Anak-anak di Jepang umumnya hanya menggeluti satu jenis olahraga saja sedari kecil. Mereka melakukannya tanpa adanya batasan musim seperti di Amerika. Hiroki berpendapat bahwa anak-anak di Amerika umumnya berolahraga tergantung musim. Pada musim gugur, mereka bermain sepakbola, musim dingin bermain basket dan hoki, sedangkan musim semi digunakan untuk bermain baseball.

“Hasilnya adalah para pemain di Jepang lebih sering menyentuh bola dan lebih terampil karenanya. Di sisi lain, atlet di Amerika yang berolahraga lain cenderung lebih kompetitif dan menjadi atlet yang jago di segala bidang. Namun, tidak memiliki kemahiran lebih dari atlet yang bermain bola sepanjang tahun,” tulis Hiroki.

Salah satu faktor pemantik majunya sepakbola Jepang adalah komik dan anime Captain Tsubasa. Kami mencoba membahasnya dengan menggunakan teori The Need of Achievment David McClelland.

Meminimalisasi Kesalahan

Pesepakbola Jepang sudah dilatih sejak usia dini. Sejak itu pula, sesuai dengan tradisi di Jepang, anak-anak diajarkan bahwa membuat kesalahan tidaklah baik. Hukuman pun diberikan bagi mereka yang melakukan kesalahan seperti gagal mengontrol bola saat juggling dan menendang dengan tidak akurat. Budaya malu sendiri memang mengakar kuat di Jepang.

Kesalahan merupakan pengingkaran terhadap tipikal dari orang Jepang yang dikenal perfeksionis atau memandang tinggi kesempurnaan. Ini juga yang diterapkan oleh pelatih pemain muda Jepang yang menginginkan permainan dengan kualitas dan akurasi yang tepat.

Akibat dari pendidikan ini, pemain muda di Jepang enggan untuk mengambil resiko seperti menendang langsung ke gawang, hingga memberi umpan jauh. Mereka lebih memilih gaya bermain dengan ball possesion. Ini pula yang menjadi alasan mengapa jarang ada pesepakbola Jepang yang menjadi “superstar” dengan segala kemampuan individu yang mereka miliki.

Jumlah tendangan di J-League pada 2012 dalam satu pertandingan adalah 10,9. Ini terbilang kecil jika dibandingkan dengan MLS yang rata-rata menghasilkan 12,8 tendangan.

“Jika dibandingkan cara main MLS dan J-League, pemain Amerika umumnya bermain lebih direct dan mengandalkan kekuatan fisik dengan umpan panjang, lebih sedikit membelah lapangan, dan tekel yang keras. Gaya bermain di MLS hari ini sesuai dengan cara pemain Amerika dilatih ketika mereka masih muda,” tulis Hiroki.

Tidak Semudah Copy-Paste

Spanyol dan Barcelona terkenal dengan permainan “tiki-taka”. Anehnya, banyak negara maupun kesebelasan yang gagal menerapkan strategi tersebut. Hiroki menyarankan agar kesebelasan tidak menyalin gaya bermain dari kesebelasan lain, melainkan menyalin lingkungan dari kesebelasan tersebut berada.

Metode yang digunakan oleh pelatih juga perlu untuk ditelusuri agar porsi latihan serta strategi sesuai dengan gaya bermain yang diinginkan.

“Para pemain di Barcelona tumbuh dengan bermain sepakbola dengan yang lainnya. Jadi chemistry di atas lapangan mustahil untuk diduplikasi oleh orang lain,” tutup Hiroki.


Baca juga: bisnis pembinaan pemain muda ala Chelsea di Jepang.

Disadur dari tulisan Hiroki Kobayashi yang dimuat di Soccermommanual.com

Sumber gambar: Soccermommanual.com

Komentar