Justru Perempuan yang Mengangkat Derajat Sepakbola Kanada

PanditSharing

by Pandit Sharing

Pandit Sharing

Ingin menulis di PanditFootball.com? Kirimkan ke sharingpandit@gmail.com

1. Lengkapi dengan biodata singkat dan akun Twitter di bawah tulisan
2. Minimal 900 kata, ditulis pada file Ms. Word
3. Tulisan belum pernah dipublikasikan di media apapun (blog, website, forum, dll)
4. Tambahkan alamat lengkap dan nomor HP (tidak dipublikasikan)

Justru Perempuan yang Mengangkat Derajat Sepakbola Kanada

Dikirim oleh: F.X. Steven Danis*

Kanada menjadi perhatian sejumlah besar khalayak dalam beberapa pekan ke belakang. Pasalnya, Piala Dunia Perempuan baru saja usai terlaksana di negara bekas jajahan Inggris dan Prancis tersebut. Penyelenggaraan tersebut turut memberikan dampak yang baik bagi perkembangan sepakbola Kanada itu sendiri.

Sepakbola sejatinya bukanlah olahraga utama di Kanada. Berada di lingkar utara bumi dan beriklim cenderung lebih dingin di bagian daerah lainnya membuat rerumputan, yang menjadi salah satu aspek penting dalam bermain sepakbola, tak dapat tumbuh dengan baik. Lapangan-lapangan dengan rumput sintetis atau artifisial pun lebih banyak dibangun di Kanada. Piala Dunia Perempuan 2015 pun menjadi gelaran Piala Dunia pertama yang digelar di atas rumput artifisial.

Selain faktor infrastruktur yang kurang menguntungkan tersebut, masyarakat juga lebih memilih memainkan olahraga musim dingin seperti hoki es atau ski es. Olahraga dalam ruangan pun menjadi alternatif lain, basket misalnya. Namun yang lebih parah adalah, Kanada tak bisa lepas dari bayang-bayang Amerika Serikat untuk menghidupi sepakbola mereka. Ya, sepakbola Kanada memang benar-benar tergantung pada Negeri Paman Sam.

Kompetisi sepakbola Amerika Serikat sendiri menjadi inang bagi kesebelasan-kesebelasan serta pesepakbola Kanada yang seolah menjadi “parasit” di sana. Alih-alih merugikan, justru kehadiran kesebelasan dan pesepakbola asal Kanada memberikan keuntungan lebih bagi kompetisi berbasis waralaba. Major League Soccer sebagai kompetisi tingkat tertinggi dalam piramida sepakbola Amerika Serikat (dan Kanada) memiliki tiga klub yang berbasis di Kanada: Toronto FC, Vancouver Whitecaps, dan Montreal Impact. Sejumlah pemain Kanada pun tersebar merata di seluruh kesebelasan MLS.

Meski tak memiliki kesebelasan di liga sepakbola perempuan Amerika Serikat, National Women Soccer League (NWSL), lebih dari separuh skuat kesebelasan negara Kanada di Piala Dunia Perempuan 2015 bermain untuk kesebelasan NWSL. Mayoritas pemain nasional Kanada di Piala Dunia Perempuan kemarin menimba pengalaman dan penghasilan di kompetisi Paman Sam.

Kesebelasan-kesebelasan asal Kanada lainnya juga masih “menempel” pada kompetisi tingkat kedua di Amerika, baik yang pria (North American Soccer League/NASL) maupun perempuan (W-League). Lalu, apakah Kanada tidak memiliki kompetisi sepakbola?

Canada Soccer League (CSL) sendiri masih berstatus sebagai kompetisi semi-profesional yang belum diakui FIFA. Federasi Sepakbola Kanada hanya mengakui kompetisi sepakbola tertinggi mereka adalah Canadian Championship yang diikuti tiga kesebelasan MLS dan dua kesebelasan NASL. Karena itulah kesebelasan yang bermain di CSL tidak bisa bermain di Liga Champions Concacaf.

Dengan keadaan tersebut, sepakbola tidak bisa tumbuh lebih subur dari rerumputan di Kanada saat musim panas. Tim pria hanya pernah sekali melaju ke Piala Dunia 1986. Kompetisi Piala Emas juga tak mampu mendongkrak prestasi walau sempat juara pada 1985 (yang menjadikan mereka peserta Piala Dunia setahun kemudian) dan 2000. Namun hingga kini mereka masih belum mampu menyaingi prestasi Amerika Serikat dan Meksiko.

Lalu siapa yang membantu mendongrak kecintaan masyarakat Kanada terhadap olahraga nomor satu di dunia ini? Jawabannya hanya satu: sepakbola perempuan.

Prestasi Membanggakan

Setidaknya tim nasional perempuan gaungnya lebih nyaring daripada tim nasional pria. Mereka berhasil bermain di enam dari tujuh gelaran Piala Dunia Perempuan. Prestasi terbaik mereka saat dibesut Even Pellerud dengan menempati peringkat keempat pada Piala Dunia Perempuan 2003.

Pada 2009, Kanada dilatih oleh Carolina Morace, perempuan pertama yang melatih kesebelasan pria. Morace kemudian menyerahkan tampuk kepemimpinan pada John Herdman. Di tangan Morace, Kanada tidak meraih satupun poin pada Piala Dunia 2011. Dari tiga pertandingan, tiga-tiganya kalah.

Herdman bukanlah pelatih yang bergelimang pengalaman. Pria kelahiran Consett, Inggris, ini sempat melatih Selandia Baru pada 2006 hingga 2011. Di tangan Herdman, Kanada berhasil menyabet medali emas di Pan American Games 2011 di Meksiko. Salah satu yang prestisius dari prestasi tersebut adalah mereka berhasil tim kuat Brasil yang dihuni peraih lima penghargaan pesepakbola perempuan terbaik versi FIFA, Marta Vieira da Silva.

Kanada juga berhasil mengamankan satu dari dua jatah Amerika Utara di Olimpiade London setahun kemudian. Di Olimpiade London 2012, The Canucks berhasil meraih medali perunggu setelah kalah dari “teman baik” mereka, Amerika Serikat, di semifinal.

Usai kekalahan di semifinal Olimpiade London 2012, Herdman berusaha membentuk tim nasional perempuan Kanada menjadi lebih baik. Setidaknya ujicoba melawan Amerika Serikat selalu jadi patokannya. Kanada di bawah Herdman berhasil menyulitkan nama besar para penggawa USWNT dan memaksakan permainan sengit pada dua laga ujicoba di 2014. Pertemuan pertama mereka hanya kalah 0-1 pada akhir Januari dan seri 1-1 pada 8 Mei 2014.

Merangkul Semua Golongan

Sebanyak 23 nama yang disiapkan Herdman untuk Piala Dunia 2015 merupakan hasil pemantauan dan utak-atik selama tiga tahun. Pondasinya sudah dirancang melalui tim yang dipersiapkan untuk Olimpiade London.

Nama-nama pemain veteran seperti Christine Sinclair dan Melissa Tancredi, menjadi andalan Kanada di Piala Dunia Perempuan 2015, digabungkan dengan sejumlah pemain muda, terutama saat melakoni partai ujicoba dan turnamen invitasi seperti Cyprus Cup. Herdman membawa tiga bintang Kanada di Piala Dunia Perempuan U-20 Kanada 2014, Jessie Fleming, Ashley Lawrence dan Kadeisha Buchanan. Dua nama terakhir bahkan menjadi langganan starting-line up Kanada.

Selain para pemain muda, Herdman juga tak ragu untuk memanggil beberapa pemain spesial. Ia mendaftarkan tujuh pemain yang tidak punya kesebelasan alias "pemain pengganguran". Beberapa di antaranya tak bermain sejak setahun lalu.

Itu semua terjadi bukan karena mereka tidak laku. Pasalnya, kompetisi sepakbola Amerika Serikat digelar tahunan, bukan per semester, seperti pada kompetisi Eropa. Ini yang membuat sejumlah pemain lebih memilih untuk tak membela klub pada NWSL awal musim 2015 dengan tujuan untuk fokus di timnas.

Selain "pengangguran" yang bernasionalisme tinggi, ada juga sosok Lauren Sesselman. Bek kelahiran 14 Agustus 1983 tersebut setahun lalu menghabiskan waktu di bangku cadangan karena cedera ACL. Tapi Hardman berani memanggilnya.

Sesselman ini sosok unik. Sepakbola bukanlah olahraga pertamanya. Eks penyerang Atlanta Beat ini, awalnya bermain basket. Di balik sosok temperamental dan tak kenal kompromi di lapangan, Sessy juga sukses menjalani karir sebagai instruktur kebugaran dan aktris. “Membintangi film mungkin adalah hal paling keren selain memenangkan medali di Olimpiade,” kata Sesselman.

Ada juga sang penjaga gawang utama, Erin McLeod, yang memiliki saham Peau De Loup, merek fashion asal Vancouver. McLeod yang pernah bersekolah di Jakarta Intercultural School (dulu Jakarta International School) dari kelas 10 hingga kelas 11 ini juga mewakili kaum LGBT (Lesbian, Gay, Bisexual, and Transgender) dalam sepakbola. Dibanding pesepakbola gay, para lesbian memang lebih vokal untuk menyuarakan aspriasinya.

McLeod yang memiliki hubungan spesial bersama rekan setimnya di Houston Dash, Ella Masar, juga tak sendiri. Di tim ini ada Marie Eve-Nault dan Stephanie Labbe yang juga dikabarkan vokal menyuarakan hubungan mereka.

Berbagai macam latar belakang pemain disatukan oleh Herdman. Tentu saja tidak mudah. Karena perempuan selalu ingin didengarkan, pastilah Herdman selalu mendengarkan keluh kesah para pemainnya. Baik sekelompok "pengganguran" ataupun yang sangat sibuk, termasuk mereka yang memiliki kecenderungan orientasi seksual homoseksual.

Dan dengan latar belakang yang berpelangi macam itu, toh Kanada menunjukkan bahwa mereka dapat menjadi tim yang kuat. Walau langkah mereka terhenti di perempat final oleh Inggris di Piala Dunia Perempuan, mereka melangkah dengan kepala tegak.

Sekali lagi, para perempuan yang mengangkat derajat sepakbola Kanada.

*Penulis merupakan mahasiswa filsafat yang bercita- cita menjadikan sepakbola bukan hanya sebagai olahraga melainkan cara (untuk) hidup, menjadi pengamat sepakbola perempuan amatir sejak berjumpa Alex Morgan di mimpi. Berakun twitter @stevenkurus dan jadi salah satu crew @womensfootie_id.

Komentar