Saat Cuaca Mempengaruhi Hasil Akhir: Kasus Persib di Hanoi & Yangoon

PanditSharing

by Sigit Pramudya

Sigit Pramudya

Fisioterapis profesional. Anda bisa berkonsultasi dengan Sigit, terkait aspek kebugaran dan hal-hal terkait fisioterapi lainnya, melalui akun twitter: @sigitpramudya1.

Saat Cuaca Mempengaruhi Hasil Akhir: Kasus Persib di Hanoi & Yangoon

Oleh Sigit Pramudya

“Dan goooolllll, Firman Utina bung, mencetak gol cantik melalui tendangan bebas, membuat Persib unggul 2 – 1 atas DC United bung”.

Kurang lebih seperti itu kalimat dari komentator TV saat Persib berhasil unggul dari DC United di Jalak Harupat. Padahal sebelumnya tidak ada yg menduga Persib akan unggul dari DC United. Beberapa waktu berselang dari kemenangan atas DC United, giliran Ajax Amsterdam yang ditahan imbang Persib Bandung.

Apa yang bisa menyebabkan kedua kesebelasan terkenal itu gagal menang atas Persib Bandung? Apakah Persib bermain sangat baik? Atau DC united dan Ajax yang bermain buruk?

Jika pertanyaan ini diberikan kepada kubu DC United dan Ajax, mungkin mereka akan berdalih bahwa mereka terganggu oleh masalah cuaca. Kondisi cuaca yang sangat berbeda dengan tempat tinggal mereka, membuat para pemain tidak bisa bermain maksimal. Karena itulah mereka kesulitan melawan Persib Bandung.

Apakah alasan ini bisa diterima? Mungkin sulit untuk menerima alasan yang terdengar agak dibuat-buat ini.

Namun, Apa jadinya bila kondisi ini dibalikkan. Persib Bandung melawat ke Washington dan Amsterdam, untuk melawan DC United dan Amsterdam. Apakah Persib Bandung akan mengalami masalah yang sama dengan DC United dan Ajax di bandung? Menurut saya, ya, Persib akan mengalami masalah yang sama. Ada contoh paling jelas, dan aktual, untuk membuktikan hal itu.

Lihatlah bagaimana klub kebanggaan Jawa Barat ini saat bermain pada pertandingan Liga Champions Asia melawan Hanoi T&T di Hanoi. Atau saat pertandingan AFC Cup melawan Ayeyawady United di Yangoon.

Timnas Indonesia pernah merasakan keganasan cuaca ini. Simak cerita klasik dari tahun 1989 saat Indonesia dibantai Jepang di tengah cuaca sangat dingin:

Cuaca Dingin Buat Timnas Indonesia Dibantai Jepang


Hanoi dan Yangoon merupakan dua kota yang memiliki suhu sangat berbeda dengan kota bandung. Saat Persib hadir ke Hanoi, suhu di kota tersebut berkisar antara 10 derajat celcius. Sedangkan di Yangoon, Persib harus bermain pada suhu 36 derajat celcius.

Jika kita bandingkan dengan suhu normal di Bandung, kedua kota ini tentu sangat berbeda. Suhu normal kota Bandung mungkin berkisar antara 21 derajat celcius. Maka sangat wajar jika pemain Persib akan kesulitan untuk beradaptasi.

Beberapa tahun lalu, Persik Kediri pernah memanfaatkan keadaan semacam ini. Saat harus berhadapan dengan Sydney FC dalam lanjutan Liga Champions Asial 2007, Persik mengajak tim tamu untuk bertanding pada pukul 11.30 siang. Pada jam tersebut tentu saja matahari sedang bersinar sangat terik. Hasilnya, Persik pun berhasil mengalahkan Sydney FC dengan skor 2-1. Lagi-lagi, suhu menjadi satu faktor yang membuat sebuah klub kalah dalam satu pertandingan.

Ingat juga bagaimana Arsenal kesulitan beradaptasi dengan suhu panas Surabaya saat dikalahkan Niac Mitra dengan skor meyakinkan 0-2. Pada laga yang berlangsung 16 Juni 1983 itu, Arsenal tak bisa mengatasi suhu di Stadion Tambaksari Surabaya. Kick-off sengaja dilakukan pada jam 2 siang, untuk menghadirkan suhu panas yang akan sangat sulit diatasi Arsenal. Dan berhasil.

Kembali ke Persib Bandung yang berlaga di LCA melawan Hanoi T & T. Persib berangkat ke Hanoi tanpa mengetahui sebelumnya suhu di kota Hanoi. Tim Persib pun berangkat pada H-3. Lama perjalanan rupanya memakan waktu seharian penuh. Berangkat jam 7 pagi dari bandung ke Jakarta melalui jalur darat, kemudian melanjutkan perjalanan dengan pesawat ke Hao Ci Minh City dan lanjut ke Hanoi. Persib tiba di hotel pada jam 11.30 malam.

Mungkin anda yang hanya membacanya saja sudah ikut merasakan betapa lelahnya perjalanan kami. Ketika sampai di Hanoi kita tidak menyangka suhu lingkungan mencapai 10 derajat celcius. Tentunya ketidaktahuan ini membuat antisipasi yang kurang baik. Salah satunya adalah perlengkapan sarung tangan bagi pemain. Pemain Hanoi T & T bertanding dengan menggunakan sarung tangan untuk membuat tubuh lebih hangat. Sedangkan pemain Perib Bandung, tidak ada satupun yang memakainya.

Hasilnya, pada babak pertama Persib Masih mampu mengimbangi permainan hanoi T & T. Persib hanya kemasukan gol di akhir babak pertama akibat hadiah tendangan penalti yang diberikan wasit pada Hanoi T&T setelah Dias Angga melanggar striker Hanoi di kotak 16 meter.

Masuk ke ruang ganti tentu pemain hanya duduk dan memperhatikan instruksi pelatih. Suhu badan yang agak hangat setelah bergerak di babak pertama pun perlahan turun di ruang ganti.

Kembali ke lapangan untuk memulai babak kedua, pemain Persib Bandung membutuhkan waktu kembali untuk membuat tubuh menjadi hangat. Hal ini membuat pemain Persib memulai pertandingan dengan otot yang sedikit kaku.

Keadaan ini berhasil dimanfaatkan oleh Hanoi T&T. Di saat pemain Persib sedang berusaha menaikkan suhu badan mereka, pemain Hanoi langsung mencuri 2 gol sekaligus. Akhirnya, Persib kembali kemasukan 1 gol sehingga kalah 4-0.

Simak bagaimana Persipura, tahun lalu, melakukan aklimatisasi menjelang laga-laga di AFC Cup.

Aklimatisasi Persipura di AFC Cup 2014


Meninjau hasil melawan Hanoi T&T, Persib pun belajar dari pengalaman itu. Bertandang ke Yangoon di Myanmar melawan Ayeyawady United, Persib berangkat pada H-4. Sehingga ada dua hari untuk adaptasi cuaca yang mencapai 36 derajat celcius. Namun apakah cara ini optimal? Ternyata tidak.

Persib tetap kewalahan bermain di stadion Youth Training Centre Yangon.  Pada Pertandingan tersebut Persib Menguasai jalannya pertandingan. Persib mampu memainkan umpan-umpan pendeknya untuk menyerang area pertahanan Ayeyawady. Namun, serangan Persib harus terhenti saat mereka mulai melakukan tusukan-tusukan khas persib. Saat itu, pemain harus berlari kencang untuk melakukan penetrasi. Kondisi tubuh yang tidak maksimal membuat daya ledak otot pun tidak maksimal. Hal inilah yang membuat strategi serangan balik Djadjang tidak optimal. Gol atep pun dibangun dari umpan-umpak pendek pemain, bukan dari hasil serangan balik khas Persib.

Meskipun pada setiap babak dilakukan break water time selama 90 detik agar pemain dapat minum dan terhindar dari dehidrasi tetap saja pola permainan berjalan agak lamban. Selain itu cuaca panas di stadion Youth Training Centre Yangon membuat Hariono dan M . Ridwan mengalami kram otot. Bahkan Makan Konate harus bernapas terengah-engah di ruang ganti ketika jeda di paruh waktu pertandingan. Beruntung, kualitas Ayeyawady tidak sebaik Persib, sehingga Persib tetap bisa menguasai jalnnya pertandingan.

Nah, sekarang pertanyanyya mengapa suhu dapat mempengaruhi kondisi permainan pemain sepakbola?

Ketika kita berada dalam suhu lingkungan yang dingin, seseorang akan mengalami gangguan keseimbangan cairan pada tubuh. Hal ini terjadi karena tubuh akan banyak mengeluarkan air melalui kencing. Dengan banyaknya tubuh mengeluarkan air kencing, suhu hangat akan tercipta pada organ dalam tubuh.

Seperti yang sudah umum diketahui, air secara normal akan membawa suhu dingin. Tubuh akan membutuhkan banyak energi untuk membuat suhu tetap hangat. Karena itulah tubuh harus mengeluarkan banyak air untung mengeluarkan suhu dingin tersebut. Karena itulah, rasa haus yang kita rasakan pun akan berkurang.

Berkurangnya cairan dari dalam tubuh, memang mampu membuat suhu tubuh sedikit naik, namun tetap saja tubuh harus mengalokasikan tenaganya untuk menghasilkan panas tubuh. Produksi panas tubuh tentu akan akan membutuhkan oksigen. Hal ini membuat kadar oksigen pada otot pun berkurang. Padahal otot juga membutuhkan oksigen untuk bergerak. Hal inilah yang membuat tubuh menjadi lebih kaku saat dingin.

Lalu bagaimana reaksi tubuh dalam kaeadaan panas? Dalam keadaan panas, tubuh akan banyak mengeluarkan air melalui keringat. Hal ini akan membuat suhu tubuh menjadi lebih dingin. Kekurangan cairan dalam tubuh membuat oksigen tidak terdistribusi dengan baik ke seluruh otot. Selain itu cairan elektrolit juga ikut terbuang melalui keringat. Sehingga otot pun tidak dalam kondisi yang ideal.

Perlu diketahui, di dalam otot jumlah terbesar diisi oleh air dan cairan elektrolit. Kekurangan cairan tersebut membuat otot tidak elastis sehingga otot tidak dapat memanjang dengan maksimal. Maka munculah yang dinamakan kram otot sperti apa yang dialami oleh Hariono dan M. Ridwan di laga melawan Ayeyawady. Bisa saja kram tersebut dapat terjadi pada pemain yang lain apabila tidak ada break water time.

Baca artikel-artikel mengenai suhu, cuaca dan iklim yang mempengaruhi persiapan dan hasil pertandingan:

Mampukah Inggris Bernafas di Manaus yang Panas

Jerman yang Menjadi Korban Ganasnya Suhu di Brazil

Paparan Mengenai Apa Itu Cedera Suhu

Piala Dunia di Qatar dan Pendingin Ruangan


Kembali ke Yanggon, saya sangat yakin bahkan tim sekelas Barcelona pun bisa kesulitan jika bermain di sana tanpa proses adaptasi yang memadai. Suhu sangat dingin atau sangat panas tersebut bisa saja diantasipasi dengan aklitamasi atau adapatasi cuaca. Tapi apakah cukup adaptasi cuaca tersebut dilukan hanya dalam 3 -4 hari saja? Saya kira itu belum cukup.

Kita tunggu saja strategi apa yang diciptakan oleh ilmuwan-ilmuwan dunia dalam melawan ancaman cuaca di suatu pertandingan.

Salah satu solusi yang bisa diambil barangkali melakukan pemusatan latihan di tanah air sendiri tapi di daerah dengan suhu/cuaca yang mirip dengan kota yang akan menjadi tempat bertanding. Tapi, sekali lagi, pemusatan latihan selama 2/3 hari itu tidak cukup, butuh waktu lebih lama. Dan itu sukar dilakukan dalam format kompetisi di mana jadwalnya lebih padat.

Berbeda dengan format turnamen, misalnya seperti Piala Dunia 2014 lalu di Brazil. Iklim tropis dengan suhu yang panas membuat banyak kesebelasan tiba di Brazil paling lambat sepekan sebelum kick-off, bahkan ada yang melakukan pemusatan latihan selama dua pekan di Brazil. Itu bisa dilakukan karena Piala Dunia berlangsung dalam format turnamen, lagi pula liga-liga domestik juga umumnya sudah selesai sebulan sebelum Piala Dunia dimulai.

Sigit Pramudya, fisioterapis profesional, kini bekerja untuk Persib Bandung. Anda bisa berkonsultasi dengan Sigit, terkait aspek kebugaran dan hal-hal terkait fisioterapi lainnya, melalui akun twitter: https://twitter.com/sigitpramudya1
" target="_blank">@sigitpramudya1.

Sigit akan rutin menulis untuk Pandit Football Indonesia mengenai topik sains bola, khususnya yang terkait dengan dunia fisioterapi yang memang digelutinya sebagai profesi. Tulisan-tulisannya, kendati akan diwarnai tinjauan-tinjauan yang sifatnya teoritik, namun akan diperkaya dengan studi-studi kasus yang dijumpainya langsung di lapangan sebagai seorang fisioterapis. Tulisan-tulisan Sigit akan tayang berkala setiap Minggu pagi.

Anda bisa membaca arsip tulisan-tulisan Sigit DI SINI.

Komentar