Pengikut Setia Wenger

Backpass

by Agung Putranto Wibowo

Agung Putranto Wibowo

hidup di sebuah negeri yang rakyatnya jago main sepakbola, tapi tidak pandai mengurusnya.

Pengikut Setia Wenger

Arsenal era Arsene Wenger memiliki banyak pemain bintang serta legenda. Sebut saja Patrick Vieira, Francesc Fabregas, hingga Thierry Henry. Namun ketika tiga pemain itu pergi, ada satu nama yang tetap setia membela The Gunners dari tahun ke tahun, dari musim ke musim. Dia adalah Danon Issouf Johannes Djourou Gbadjere alias Johan Djourou.

Djourou tercatat sebagai pemain Arsenal selama 10 musim. Meski di antara 10 musim itu dia dipinjamkan ke tiga kesebelasan berbeda, tetapi hati dan pikirannya tidak benar-benar beranjak dari London Utara.

Bahkan ketika publik mengkritik Wenger karena terlampau lama puasa gelar, Djourou pasang badan membela sang manajer. David Hytner, jurnalis Guardian, tidak segan menulis bahwa Djourou adalah pengikut setia Wenger. Ketika dia mewawancarai sang pemain, Hytner mengaku seolah sedang berbincang dengan Wenger itu sendiri.

“Tim Invincibles (Arsenal) adalah proyek yang tidak dibuat hanya dalam satu tahun. Itu adalah tahapan demi tahapan. Kita harus tetap percaya pada (keajaiban) proyek ini dan kami hanya ingin menang untuk menunjukkan kepada dunia bahwa si bos (Arsene Wenger) benar. Dibutuhkan banyak keberanian untuk terus berjalan dengan cara Anda sendiri,” ujar Djourou kepada The Guardian pada April 2011 ketika disinggung ihwal trofi Arsenal yang tak kunjung datang.

“Ketika klub mendatangkan Henry, dia bahkan belum pernah bermain di Juventus, sama halnya dengan Patrick Vieira di Milan. Sementara Freddie Ljungberg datang dari kesebelasan antah berantah di Swedia. Namun lihatlah apa jadinya mereka di bawah asuhan Wenger. Orang-orang harus ingat bahwa itu adalah suatu fondasi pekerjaan dan tidak semuanya bekerja secepat yang mereka inginkan,” lanjut Djourou.

Seperti halnya Wenger yang menjalankan proyek pengembangan bakat usia muda, Djourou pun demikian. Bedanya Djourou mengaplikasikannya pada dunia pendidikan, bukan sepakbola. Dia mendirikan sekolah gratis di Senegal yang bertujuan agar anak-anak Afrika siap bersaing di dunia kerja. Adapun nama yayasan yang dibangun Djourou adalah Kemi Malaika.

Dalam visi Djourou, dia hendak menjadikan Kemi Malaika sebagai kawah candradimuka untuk mencetak lulusan terbaik yang ujungnya menjadi tenaga kerja andal. Tidak hanya itu, dia juga mengajarkan para siswa untuk berwirausaha. Jadi diharapkan para lulusan nantinya dapat mandiri secara ekonomi setelah lulus. Hal ini tidak lain adalah untuk mendongkrak perekonomian Senegal dan juga Afrika.

Meski berpaspor Swiss, tapi di dalam diri Djourou mengalir darah Afrika dari sang ayah. Dia juga lahir di Abidjan, Pantai Gading, sehingga dia merasa perlu berbakti kepada bangsa Afrika. Dia sendiri mengaku beruntung tidak tinggal di Afrika yang menurutnya penuh kesulitan.

“Saya punya dua ibu, yang menurut saya itu luar biasa. Pengalaman itu telah memberi saya begitu banyak pelajaran dan saya harus katakan bahwa tanpa ibu angkat saya, saya mungkin tidak akan berada di sini (Arsenal). Ketika Anda berada di Afrika, ada banyak kesulitan dan saya cukup beruntung menghindarinya. Pemain lain seperti Emmanuel Eboué dan Kolo Touré mungkin berhasil melewati masa-masa sulit di sana, tetapi ketika Anda orang Eropa, Anda memiliki lebih banyak pilihan,” ungkap Djourou sebagaimana dikutip dari The Guardian.

Pada 18 Januari 1987, Djourou lahir dan menangis di tanah Afrika yang gersang. Meski demikian, dia tak sempat bermain dan tumbuh besar di tanah kelahirannya di Abidjan. Pada usia yang masih 17 bulan, sang ayah yang sudah kawin lagi dengan perempuan Swiss, memboyong Djourou kecil ke tanah Eropa. Di sanalah Djourou mulai tertarik dengan sepakbola dan kelak dipantau tim pemandu bakat dari Arsenal.

Saat usianya menginjak 16 tahun, Djourou muda resmi terikat kontrak dengan Arsenal. Dia baru tidak terikat kontrak apapun dengan klub pada usia 27 tahun. Selama tahun-tahun itu sepertinya Djourou sudah jatuh cinta dengan filosofi yang ditanamkan oleh sang profesor, Arsene Wenger.

“Mungkin kami tidak akan berada di sini jika dia memiliki filosofi yang berbeda. Jika dia mau membeli pemain seharga 20 juta paun di setiap posisi, maka kami tidak akan berada di sini. Itu adalah filosofi yang hebat dan kami harus membayarnya untuk itu,” ujar Djourou sebagaimana dilansir dari The Independent.

“Saya tidak bisa melihat Arsenal tanpa Arsene Wenger. Itu adalah sesuatu yang tidak dapat saya bayangkan. Dia telah melakukan hal yang sangat baik untuk kesebelasan dan dia telah menyentuh setiap bagian dari kesebelasan,” ujar Djourou kepada jurnalis The Independent. Sesungguhnya, itu adalah kalimat menarik yang keluar dari mulut Djourou.

Suka atau tidak, Djourou harus menerima kenyataan bahwa Manajer Arsenal sudah bukan Wenger lagi. Saat mengetahui bahwa Wenger akhirnya pergi, Djourou jelas bersedih hati. Sampai akhir 2018, kesedihan itu tampaknya semakin menjadi-jadi ketika dia tahu pengganti Wenger ternyata masih kesulitan membawa kesebelasan ke empat besar.

Komentar