Kelinci Kecil Tak Pernah Tumbuh Besar

Backpass

by Fahmin

Fahmin

Playing football with his hands. Writing and playing PlayStation.

Kelinci Kecil Tak Pernah Tumbuh Besar

El Clasico 2007, seorang pemain yang sebelumnya membela panji Barcelona duduk di bangku pemain pengganti Real Madrid. Tak ada cacian dan sorakan yang ditujukan kepadanya, tak ada kepala babi yang dilemparkan sebagaimana Cules melakukannya pada Luis Figo. Perlakuan itu mungkin pertanda bahwa sebetulnya karier pemain yang dijuluki The Little Rabbit bersama Barcelona dianggap tidak bagus-bagus amat atau bisa jadi bench yang sedang ia duduki —yang juga menjadi tempat yang lebih banyak ia habiskan sepanjang dua musim di Real Madrid— menjadi penyebabnya.

Situasi di atas adalah paradoks pendek tentang karier seseorang yang begitu cepatnya mencuat dan mencuri perhatian namun segera dilupakan dan diabaikan karena ketidakberuntungan atau mungkin pengambilan keputusan yang keliru.

Nama Luis Figo jelas sempat menjadi primadona di Barca, sekalipun akhirnya dibenci saat ia memutuskan membelot ke Real Madrid. Tapi siapa yang benar-benar menjaga ingatan tentang Javier Pedro Saviola Fernandez kecuali narasi tentang bakat besarnya yang meredup lalu hilang seketika.

Di usia yang begitu muda ia sudah menorehkan sejumlah prestasi: membawa Argentina menjadi juara Piala Dunia U21, di turnamen yang diselenggarakan di Argentina ia menjadi pemain terbaik sekaligus peraih golden ball dengan 11 gol. Selain itu ia juga pernah tercatat sebagai top skor Liga Apertura dan Argentina Player of the Year 1999. Tidak mengherankan jika beberapa pengamat menyematkan Saviola sebagai "the new Maradona".

“Itu benar, bahwa segalanya berlangsung sangat cepat dalam waktu yang singkat. Saya pribadi terkejut dengan segala apa yang sudah saya raih dalam waktu sesingkat ini,” jawabnya dalam wawancara dengan FIFA, ketika ditanya mengenai prestasi yang dicapainya di usia muda.

Lahir di Buenos Aires pada 11 Desember 1981, Saviola memulai kariernya bersama tim lokal Parquet Chass sebelum direkrut River Plate. Melakukan debut di usia 16 tahun, ia langsung mencetak gol di laga debutnya dalam pertandingan melawan Gimnasia y Esgrima de Jujuy. Pada musim perdananya ia mengakumulasi 6 gol dari 19 penampilannya bersama River Plate.

3 tahun kariernya di River Plate adalah pertunjukan kehebatan seorang Saviola. Mencetak 45 gol dalam 86 penampilannya dan meraih gelar yang memungkinkan untuk diraih. Bersama Ariel Ortega, Pablo Aimar, dan Juan Pablo Angel mereka dikenal sebagai Los Cuarto Fantastico alias fantastic four dari River Plate.

Tidak butuh waktu lama, bakatnya langsung terendus oleh kesebelasan-kesebelasan Eropa. AS Roma, Manchester United, Real Madrid, dan Barcelona bersaing mendapatkan tanda tangan pemain yang dijuluki kelinci kecil karena finishing yang mematikan dan naluri predator dalam dirinya.

Akhirnya ia memutuskan memilih berlabuh di Camp Nou dengan total biaya 32,3 juta paun, transfer termahal yang dikeluarkan oleh sebuah kesebelasan kepada pemain muda. Kehadiran El Conejo diharapkan mampu mengimbangi Real Madrid yang sedang membangun mega-proyek Los Galacticos yang saat itu mendatangkan Zinedine Zidane dari Juventus. Saviola didatangkan dengan harapan besar, pasca kehilangan Figo setahun sebelumnya, Barcelona butuh pahlawan baru, dan mereka berharap banyak pada potensi pemain ini.

Di musim perdananya di Camp Nou, Saviola mencetak 21 gol, torehan impresif untuk pemain yang baru pertama kali menginjakkan kakinya di Eropa. Sayangnya, catatan itu belum cukup membendung kedigdayaan Valencia yang saat itu berkibar bersama mantan rekannya di River Plate, Pablo Aimar. Dua musim berikutnya ia mencetak 20 dan 19 gol tapi lagi-lagi ia tak cukup hebat membawa Barcelona menjadi kampiun La Liga.

Kehadiran Frank Rijkard pada 2003 di Barcelona menjadi titik balik bagi karier Si Kelinci Kecil. Ia tidak lagi menjadi pilihan utama Barcelona. Di musim 2004/05 Barcelona memutuskan untuk meminjamkan Saviola ke Monaco dan Sevilla, tepat di waktu itu, Barcelona malah meraih titel La Liga pertamanya dalam enam tahun terakhir.

Tak menyerah, ia datang dan mencoba sekali lagi peruntungannya bersama Barcelona di tahun 2006. Tapi kesempatan dan kepercayaan itu tak pernah lagi diberikan. Sebanyak 67 gol dan delapan asis selama tiga tahunnya di Barcelona cuma menghasilkan satu trofi Supercopa Spanyol.

“Situasi mengenai Saviola sudah jelas, dia tidak menarik lagi bagi kami dan saya pikir situasinya sudah cukup terang,” ujar direktur olahraga Barcelona saat itu, Txiki Begiristain, pada lama resmi kesebelasan.

Dibuang Barcelona, ia memutuskan bergabung dengan Real Madrid secara gratis ketika mendapatkan tawaran dari 14 kesebelasan. Sayangnya hal itu menjadi keputusan keliru mengingat Real Madrid dihuni oleh penyerang-penyerang keren: Ruud van Nistelrooy, Raul Gonzales, Robinho, Gonzalo Higuain, dan Arjen Robben.

Akhirnya tak banyak kesempatan yang diberikan oleh Real Madrid. Ia hanya bermain dalam 19 laga dengan mencetak 5 gol. Bergabung dengan El Real justru menutup kesempatannya untuk membuktikan bahwa keputusan Barcelona mencampakkannya keliru.

Sejak saat itu namanya pelan-pelan dilupakan. Sisa kariernya ia lewati dengan berpindah-pindah kesebelasan. Sempat menjadi andalan di Benfica, ia terbang ke negeri para dewa untuk bergabung dengan Olympiacos, kemudian kembali lagi ke Spanyol memperkuat Malaga, serta mencoba peruntungannya di Italia memperkuat Hellas Verona sebelum kembali ke tempat di mana ia memulai semuanya: River Plate.

Pada 2016 lalu ia memutuskan untuk gantung sepatu. "Pembuktian yang tak kunjung ia tunjukkan", mungkin itu judul yang tepat untuk mendeskripsikan 18 tahun karier sepakbolanya. Semua cerita Saviola adalah tentang kegagalan memanfaatkan kesempatan dan kegagalan memunculkan potensi. Tidak seperti pada awal kariernya yang mampu mencuri perhatian, Saviola menutup kariernya dengan sepi, jauh dari hiruk pikuk sorotan publik.

Komentar