Si Pelempar Jitu dari Irlandia

Backpass

by Septian Nugraha Pilihan

Septian Nugraha

Kontributor

Si Pelempar Jitu dari Irlandia

Sosok Rory Delap bagi loyalis Stoke City lebih dari sekadar idola. Pemain asal Irlandia itu memiliki 134 penampilan untuk Stoke City di Liga Primer sebelum akhirnya pensiun pada 2013. Tapi sampai hari ini, namanya abadi tertambat dalam hati pendukung Stoke sebagai pahlawan.

Delap yang bergabung bersama Stoke pada 2006 merupakan bagian yang tak terpisahkan dalam kisah heroik The Potters menuntaskan penantian selama 23 tahun lamanya untuk kembali ke Liga Primer Inggris di akhir musim 2007/08.

Tinta emas yang ditorehkan Delap terus berlanjut selama enam tahun kiprahnya di Britania Stadium. Pemain kelahiran 6 Juli 1976 ini tidak hanya membuat Stoke mempertahankan posisi di Liga Primer untuk waktu yang cukup lama, tapi juga pernah membawa The Potters tampil di final Piala FA pada 2010/11, yang berlanjut dengan petualangan di kompetisi Eropa pada musim berikutnya.

Delap, yang biasa berperan sebagai gelandang bertahan itu, sebenarnya bukan pemain dengan kemampuan olah bola menawan layaknya Cristiano Ronaldo atau Lionel Messi. Tapi Delap punya keahlian khusus yang jarang dimiliki pesepakbola lainnya, bahkan oleh Messi atau Ronaldo sekalipun. Spesialisasi Delap tidak bertumpu pada kedua kakinya, melainkan pada kedua lengannya yang bisa melempar bola hingga 40 meter dengan kecepatan 60 km/jam.

Delap pun menjadi senjata andalan Stoke dalam situasi lemparan ke dalam. Pasalnya lemparan ke dalam yang dieksekusinya kerap langsung menembus kotak penalti lawan, cepat dan melambung jauh, layaknya tendangan sudut (bahkan lebih baik).

Hal tersebut sering kali membuat bek lawan kebingungan untuk mengantisipasi umpan tersebut, karena ketepatan sudut dan kecepatannya yang tak biasa. Maka ketika Delap bersiap melakukan lemparan ke dalam, sudah dipastikan bahwa pertahanan lawan berada dalam ancaman serius. Bila lawan tidak sigap mengantisipasinya, yang terjadi adalah malapetaka.

Ada banyak momentum di mana Delap mampu memberikan neraka kepada lawan melalui lemparan ke dalamnya itu. Paling dikenang terjadi pada musim 2008/09, saat Stoke mengalahkan Arsenal 2-1. Dua gol Stoke yang diciptakan oleh Ricardo Fuller dan Seyi Olofinjana di laga tersebut semua berasal dari umpan lemparan ke dalam yang dilepaskan Delap. Arsene Wenger berang. Manajer berkebangsaan Perancis itu menyindir Stoke sebagai tim rugbi karena ketergantungan mereka pada kemampuan Delap melakukan lemparan ke dalam.

Bila Wenger dibuat geram oleh aksi Delap, berbeda dengan Luiz Felipe Scolari yang justru menaruh kekaguman kepadanya. Mantan manajer Chelsea itu mengungkapkan bahwa penempatan bola dari lemparan yang dilepaskan Delap jauh lebih baik dari tendangannya.

"Mungkin ini bukan sepakbola yang indah tetapi efektif, saya melihat banyak bola di dalam kotak penalti dan masalah besar pada bola pertama dan kedua. Mereka membuat banyak gol dengan situasi ini dan kami perlu memikirkan tentang mengendalikan ini dan serangan balik,” katanya, saat masih membesut Chelsea pada 2008, dilansir dari The Telegraph.

Asal Usul Lemparan Jauh Delap

Kemampuan Delap dalam melakukan lemparan ke dalam bisa jadi dipengaruhi oleh masa lalunya yang pernah menggeluti olahraga lempar lembing. Saat itu usianya baru 14 tahun. Delap yang sejatinya sudah memiliki bakat alami untuk menjadi atlet lempar pun masuk ke sekolah atletik di Carlisle, Inggris.

Dalam beberapa kejuaraan antar-sekolah, Delap kerap kali memenangkan perlombaan. Tapi kiprahnya sebagai atlet lempar berlangsung singkat. Hatinya lebih memilih fokus berkarier di sepakbola. Sejak usia 15 tahun ia memutuskan untuk lebih serius mendalami bidang sepakbola, yang kemudian berjalan hingga lebih dari 20 tahun.

"Aku sangat handal melempar lembing di sekolah dan bisa melempar beratus-ratus meter," katanya, dilansir dari Daily Mail. "Pertama kali aku sadar [lemparan ke dalam] bisa banyak membantu di sepakbola adalah saat aku di tim muda Carlisle United melawan Liverpool."

"Saat itu 2-2 di menit terakhir ketika bola keluar lapangan. Rekanku yang tahu soal keahlian lempar lembingku memberikan bola kepadaku dan menunjuk salah satu rekan setim yang berdiri di kotak penalti. Ia bilang, `Hei, cepat lempar, dia gak dijaga.` Jadi, aku lempar saja bolanya langsung ke kepalanya, ia menyundulnya melewati kiper Liverpool, dan kami menang 3-2."

"Ada banyak orang yang menonton saat itu cuma bisa menatapku sambil melongo."

Saat ia bermain di Derby, kemudian kemampuan lemparannya dimanfaatkan untuk mengirim bola ke belakang bek lawan. Namun saat di Stoke, manajer Tony Pulis terang-terangan akan memakai lemparan ke dalamnya sebagai kekuatan utama The Potters.

Sebelum melempar bola, ia butuh agar bolanya kering agar tak terpeleset di tangannya. Untuk itu Delap sering mengelap bolanya terlebih dahulu. "Kalau tidak ada handuk, mari berharap hari itu kering. Jika tidak, aku oke-oke saja karena aku sudah menyiapkan rompi khusus di balik seragamku dan aku bisa menggunakannya [untuk mengelap bola]."

"Jujur saja, aku lihat banyak orang di jalan [yang bertemu denganku] bahkan sekarang, dan mereka akan menangguk kemudian [menunjukkan gestur] pura-pura lemparan ke dalam. Itu lucu, aku sih senang-senang saja."

"Aku ingin berpikir jika aku telah melakukan pekerjaan yang `setengah layak` dengan bola di kakiku, bukan di tanganku. Tapi jika orang-orang lebih mengingatku untuk lemparan jauhku, itu juga bagus. Itu lebih baik daripada aku tak diingat sama sekali," kata Delap kepada Daily Mail.

Jika Delap sudah pensiun, sepakbola sebenarnya masih memiliki sosok pelempar jauh sekarang pada diri Ryan Shotton yang juga sempat berseragam Stoke. Beberapa pemain ternama lain yang memiliki spesialisasi ini di antaranya adalah Aron Gunnarsson, Faouzi Ghoulam, Eduardo Salvio, Michail Antonio, Jetro Willems, Rasmus Elm, dan Gokhan Gonul.

Komentar