[On This Day 1929] Lev Yashin dan Ekspedisi Luar Angkasa Uni Soviet

Backpass

by Frasetya Vady Aditya

Frasetya Vady Aditya

Penyunting. Jangan terkekang; sepakbola cuma cangkang. Kontak: vady.aditya@gmail.com

[On This Day 1929] Lev Yashin dan Ekspedisi Luar Angkasa Uni Soviet

Tepat pada hari ini, terdapat dua momen penting dalam sejarah penjelajahan ruang angkasa Uni Soviet. Pada 1966, Uni Soviet meluncurkan wahana angkasa Luna 12 menuju orbit bulan. Tujuannya adalah untuk mendapatkan gambar beresolusi besar dari permukaan bulan. Sembilan tahun berselang, wahana Venera 9 mendarat di Venus.

Tepat pada hari ini pula, 87 tahun yang lalu, seorang kiper legendaris Uni Soviet hadir. Banyak referensi yang menyebutkan kalau ia adalah pelopor kehadiran penjaga gawang modern yang bukan cuma berdiri di bawah mistar, tetapi juga menjadi awal mula serangan tim.

Ia adalah Lev Yashin, satu-satunya kiper yang menerima penghargaan Ballon d’ Or. Ia pun terpilih sebagai kiper terbaik abad ke-20 versi IFFHS. Sejumlah penghargaan lain pernah diterima atas pencapaiannya yang fantastis. Dikutip Russia Team, Yashin mencatatkan 270 clean sheets dan menahan 150 tendangan penalti sepanjang karirnya—sebuah pencapaian yang agaknya akan sulit untuk diraih kiper masa kini.

Yashin adalah kiper yang teguh pendiriannya. Ia membaktikan karir profesionalnya hanya di Dinamo Moscow. Julukannya adalah "Si Laba-Laba Hitam" karena selalu mengenakan pakaian serba hitam dari atas sampai bawah, bahkan hingga kaos kakinya. Julukan tersebut kian melekat karena ia seolah memiliki delapan tangan saat berdiri di bawah mistar.

Bagi pendukung Dinamo, julukan Yashin adalah "The Lion". Julukan tersebut merupakan warisan dari kiper Dinamo sebelumnya, Aleksei Khomich yang punya julukan "The Tiger". Yashin dianggap sebagai penerus Khomich yang juga sama-sama hebat saat berada di bawah mistar.

Julukan "The Lion" pun tak lepas dari perilaku Yashin yang kerap tak henti mengomandoi rekan-rekannya dari belakang. Yashin tak cuma berdiri di bawah mistar, tapi seringkali bergerak hingga area luar kotak penalti. Menurutnya, hal tersebut dilakukan untuk menjaga konsentrasi pemain belakang.

"Ini memudahkan saya berkomunikasi dengan pemain belakang, dan berdasarkan pengalaman saya posisi tersebut yang paling baik. Makin jauh permainan dari daerah penalti, makin terjamin keselamatan gawang," ucap Yashin saat ditanya soal alasannya seringkali bergerak ke luar dari gawang.

Pada zamannya, Yashin merupakan pionir kiper yang sering kali keluar dari gawangnya atau dalam istilah saat ini: sweeper keeper. Pada masa itu, kiper yang hebat adalah kiper yang mampu menghentikan tendangan ke arah gawang sehingga pergerakannya pun relatif statis karena hanya menunggu di bawah mistar.

Pionir

Pergerakan Yashin kerap dikaitkan dengan apa yang dilakukan Manuel Neuer saat ini. Bedanya, kiper Jerman tersebut belum pernah meraih penghargaan Ballon dÂ’Or. Pertanyaan pun mengemukan: Apakah Yashin memang benar-benar hebat dan jauh lebih hebat dari Neuer?

Jawaban dari pertanyaan tersebut sebenarnya bukan mana yang paling hebat. Jawabannya adalah dengan membandingkan rata-rata kiper pada masa Yashin dengan kemampuan kiper pada masa Neuer.

Dikutip dari Paste Magazine, pada masa Yashin kiper umumnya memiliki kemampuan dan pergerakan yang hampir sama. Mereka berusaha menangkap atau menepis bola umpan silang, bertahan di garis gawang, serta lebih pendiam ketimbang para pemain lainnya. Yashin hadir sebagai pembeda. Ia banyak bicara dan turut berperan dalam proses serangan tim. Saat dikirimi umpan silang, Yashin kerap menyundul bola ataupun meninjunya; saat lawan menyerang, ia berusaha menghadangnya dalam kondisi satu lawan satu; sebuah hal yang belum jamak dilakukan kala itu. Yashin pun dianggap sebagai standar kiper modern pada masa ini.

Cerita tentang Lev Yashin yang menganggap kalau Vladimir Beara lebih baik dari dirinya.


Masa-masa Pensiun

Sepanjang karirnya Yashin memenangi lima gelar Liga Uni Soviet. Ia pun membantu Uni Soviet meraih emas dalam perhelatan Olimpiade 1956. Di Eropa, Yashin pun pernah mengangkat Piala Eropa pada 1960.

Sayangnya, agresifitas Yashin tidak sejalan dengan aturan pertandingan untuk memproteksi kiper. "Caranya bermain terlalu cepat ketimbang perkembangan laws of the game, dan dia mesti membayar mahal," tulis Bill Reno dari Paste Magazine.

Yashin kerap bertabrakan dengan pemain lawan yang membuatnya dua kali tak sadarkan diri karena benturan keras. Karirnya pun mesti berakhir dengan tidak mengenakkan. Cedera lutut membuatnya pensiun pada 1971. Pertandingan perpisahan pun digelar di Moskow pada tahun yang sama. Pertandingan tersebut dihadiri lebih dari 100 ribu penonton termasuk Pele, Eusebio, Franz Beckenbauer, Uwe Seeler dan Sir Bobby Charlton. Tentu saja tak ketinggalan Presiden FIFA keenam, Sir Stanley Rouse, yang turut mengucapkan kata-kata perpisahan.

Yashin menderita sejumlah komplikasi termasuksaat ia terjangkit thrombophlebitis yang membuat satu kakinya harus diamputasi pada 1986. Empat tahun kemudian, atau pada 20 Maret 1990, Yashin mengembuskan nafas terakhirnya karena kanker perut.

***


Sebelum Luna 12 diluncurkan, Uni Soviet tengah berpesta karena berhasil menggapai peringkat keempat di Piala Dunia 1966. Salah satu alasannya adalah karena penampilan Yashin yang mengesankan. Meninggalnya Yashin sekaligus mengiringi berakhirnya ekspedisi luar angkasa Uni Soviet karena setahun kemudian Uni Soviet pun bubar.

foto: whoateallthepies.tv

Komentar