Sejarah Julukan 6 Kesebelasan Legendaris Liga Indonesia

Klasik

by Septian Nugraha

Septian Nugraha

Kontributor

Sejarah Julukan 6 Kesebelasan Legendaris Liga Indonesia

Kembalinya Persebaya Surabaya, PSMS Medan, dan PSIS Semarang ke divisi teratas Liga Indonesia membuat Liga 1 2018 samkin semarak. Bersama Persib Bandung, PSM Makassar, dan Persija Jakarta, ketiga kesebelasan tersebut melengkapi daftar enam kesebelasan legendaris yang akan menambah panasnya persaingan Liga 1.

Kembalinya Persebaya, PSMS, dan PSIS juga berpotensi membuat Liga 1 2018 diramaikan dengan suguhan partai klasik yang terkenal sejak era Perserikatan dulu. Ada kerinduan dari publik sepakbola Indonesia kembali menyaksikan duel klasik tersebut, karena dalam beberapa musim terakhir partai-partai tersebut seolah menghilang.

Sebagai kesebelasan yang sudah ada sejak era Perserikatan, julukan kesebelasan-kesebelasan tersebut sangat lekat hingga saat ini. Kita bisa melihat dari ilmu taksonimi melalui nama-nama julukan mereka. Ini menjadi penting karena julukan-julukan tersebut sudah melekat menjadi identitas mereka.

PSM Makassar (Juku Eja)

Dari 18 kontestan yang berlaga di Liga 1 2018, PSM Makassar tercatat sebagai kesebelasan yang paling tua bila merunut pada tahun pembentukannya – 2 November 1915. Sebagai salah satu kesebelasan legendaris di sepakbola Indonesia, PSM dikenal sebagai kesebelasan dengan julukan Juku Eja.

Agak sulit menelusuri asal mula julukan Juku Eja yang melekat sebagai julukan PSM hingga sekarang. Namun secara filosofi, Juku Eja yang berarti "Ikan Merah" itu, terinspirasi dari seragam PSM yang kental dengan warna merah dan ikan sebagai lambang kehidupan masyarakat Sulawesi Selatan yang terkenal sebagai masyarakat Maritim.

Selain Juku Eja, PSM pun dikenal dengan julukan Ayam Jantan dari Timur. Julukan tersebut terinspirasi dari julukan yang dimiliki oleh Sultan Hasanudin, pahlawan nasional asal Sulawesi Selatan. Julukan Ayam Jantan dari Timur diberikan Belanda karena keberaniannya menentang tindak-tanduk kolinialisme Belanda di zaman penjajahan dulu.

Keberanian dan semangat juang Sultan Hasanudin inilah yang dipercaya menjadi dasar penyematan julukan Ayam Jantan dari Timur kepada PSM. Harapannya, agar para penggawa PSM bermain spartan di lapangan layaknya Sultan Hasanudin yang gagah berani menentang kolinialisme Belanda di Indonesia.

Persebaya Surabaya (Bajul Ijo)

Dalam kurun waktu yang cukup lama, Persebaya Surabaya dikenal dengan julukan Bajul Ijo. Nama Bajul Ijo berarti Buaya Hijau itu konon diambil sebagai julukan Persebaya karena memiliki persinggungan sejarah dengan asal-usul nama Surabaya, daerah asal Persebaya. Dilansir dari beberapa sumber, nama Surabaya diambil dari dua unsur kata "Sura (hiu)" dan "Baya" (daratan atau rawa)". Suro (hiu) dan Boyo (buaya) juga menjadi salah satu inspirasi nama Surabaya.

Sura disimbolkan sebagai kedatangan pasukan tar-tar (pasukan kerajaan Mongolia) yang melakukan penyerangan ke wilayah Ujung Galuh, merupakan daerah kekuasaan Majapahit era Raden Wijaya. Penyerangan tersebut mengakibatkan pertempuran besar antara pasukan tar-tar yang datang dari lautan dengan bala prajurit Majapahit yang datang melalui daratan.

Terinspirasi dari kisah tersebut, maka nama Bajul Ijo pun tersemat sebagai julukan bagi Persebaya. Bajul yang berarti buaya dipercaya sebagai simbol dari keberanian masyarakat Surabaya menentang kehadiran pasukan tar-tar. Sementara Ijo yang berarti hijau, bisa diartikan pula sebagai simbol dari warna kebesaran Persebaya.

Persija Jakarta (Macan Kemayoran)

Julukan Macan Kemayoran bagi Persija Jakarta terinspirasi dari cerita rakyat masyarakat Betawi. Pada zaman kolonial Belanda, dikisahkan seorang pemuda bernama Murtado yang memiliki kesaktian luar biasa. Dari beberapa sumber disebutkan bahwa Murtado yang berasal dari wilayah Kemayoran itu kerap kali membantu masyarakat dari penindasan Belanda.

Saat itu masyarakat Kemayoran menjadi sasaran gangguan orang-orang jahat dan pajak yang tinggi dari para penjajah. Sebenarnya daerah itu dipimpin oleh orang pribumi, namun telah menjadi kaki tangan penjajah

Di situlah Murtado memberontak dan dengan terus berusaha membebaskan masyarakat Kemayoran dari penindasan dan pemerasan, sampai suatu momen terjadi ketika Murtado berhasil membuat Belanda merasa berhutang budi pada Murtado. Terinspirasi dari kisah pemuda bernama Murtado itulah nama Macan Kemayoran pun melekat hingga saat ini sebagai julukan bagi Persija.

Persib Bandung (Maung Bandung)

Masyarakat Jawa Barat mengenal sosok tenar bernama Prabu Siliwangi, raja dari kerajaan Pajajaran. Prabu Siliwangi dikenal sebagai tokoh besar yang memiliki kesaktian luar biasa. Konon, dengan kesaktian yang dimilikinya, Sang Prabu bisa mengubah dirinya menjadi seekor harimau.

Dikisahkan pada satu peristiwa, Kerajaan Pajajaran mendapat serangan pasukan Kerajaan Islam Banten dan Cirebon yang dipimpin oleh Prabu Kian Santang, yang tak lain merupakan anak dari Prabu Siliwangi.

Konon, Prabu Siliwangi enggan terjadinya pertempuran dengan anak cucunya itu. Hingga pada akhirnya, Sang Prabu dan beberapa pengikutnya yang setia pun melarikan diri ke daerah Sancang, Garut. Di sana, Prabu Siliwangi moksa, atau dalam istilah Bahasa Sundanya, Ngahiyang. Namun ada versi lain juga yang menyebut bahwa Prabu Siliwangi mokhsa dengan mengubah wujudnya menjadi Harimau.

Berdasarkan kisah Prabu Siliwangi ini, mendiang Kang Ibing, musisi kenamaan asal Bandung, menciptakan lagu berjudul Jung Maju Maung Bandung pada 1991 silam. Lagu tersebut khusus diciptakan untuk Persib Bandung, klub kebanggaan masyarakat Jawa Barat. Sejak saat itu, julukan Maung Bandung pun lekat dengan Persib.

Selain Maung Bandung, Persib pun dikenal dengan julukan Pangeran Biru. Julukan tersebut diberikan media tatkala Persib menjadi kampiun di Liga Indonesia pertama, 1994. Saat itu para penggawa Persib digambarkan tak ubahnya seorang pangeran yang tengah bertempur di medan perang. Keberanian dan semangat tempur Robby Darwis dkk kala itu selaras dengan sikap santun atau someah yang ditunjukkan kepada lawan.

PSMS Medan (Ayam Kinantan)

Sejak era Perserikatan, PSMS Medan dikenal sebagai kesebelasan dengan gaya permainan keras yang khas. Gaya tersebut dikenal dengan sebutan rap-rap, keras namun tetap mengandalkan skill dan teknik dalam permainan.

Gaya permainan PSMS dianggap banyak orang mirip seperti Ayam Jago yang tengah bertarung dengan lawannya. Ayam Kinantan, atau biasa dikenal juga Ayam Bangkok ini dikenal sebagai ayam petarung yang memiliki gaya permainan agresif hingga ditakuti lawan. Konon, Ayam Kinantan ini merupakan jenis ayam berkharisma yang disegani oleh ayam-ayam lainnya di arena tarung ayam.

PSIS Semarang (Mahesa Jenar)

Mahesa Jenar merupakan tokoh yang dikenal dalam cerita Nagasasra dan Sabukinten karya S.H. Mintardja. Kisah tentang Mahesa Jenar ini populer pada medio 1960-an. Mahesa Jenar merupakan mantan prajurit Kasultanan Demak yang dalam cerita tersebut dikisahkan mencari pusaka kerajaan, keris Nagasasra dan Sabukinten.

Mahesa Jenar merupakan prajurit pilihan Kerjaan Demak, nama aslinya adalah Senopati Rangga Toh Jaya. Sosok Mahesa Jenar dikenal sebagai seorang dengan sikap ksatria. Melalui kisah ini, PSIS Semarang pun terinspirasi menggunakan nama Mahesa Jenar sebagai julukan. Selain itu, Mahesa Jenar juga merupakan tokoh yang berasal dari Kadipaten Arang, yang kini kita kenal dengan Semarang.

Selain Mahesa Jenar, PSIS pun dikenal dengan julukan Si Jago Becek. Julukan tersebut didapat PSIS sejak era 1980-an, karena keahlian mereka mengatasi permainan dengan kondisi lapangan yang becek.

Bukan tanpa alasan kenapa PSIS dijuluki sebagai tim jago becek, ceritanya bermula di pertandingan putaran pertama kompetisi divisi utama PSSI 1986, wilayah Timur yang berlangsung di stadion 10 November Surabaya.

Pada saat itu PSIS berhasil memenangkan tiga pertandingan melawan Persiba (1-0), PSM Makassar (2-1), dan Persipura Jayapura (4-1). Tiga kemenangan tersebut diraih saat laga diguyur hujan lebat dan kondisi lapangan yang becek dan licin. Namun saat hujan tak turun, PSIS malah kalah dari Persebaya (2-0) dan Perseman Manokwari (2-1).

Dilansir dari berbagai sumber

Komentar