FPL: Formasi 3-4-3 atau 3-5-2?

Fantasy Premier League

by lvan Hadyan

lvan Hadyan

Menyukai otak-atik susunan formasi sepakbola dan mengkhayalkan pergerakan keseluruhan pemain di dalamnya. Penggiat Fantasy Premier League dan statistik.

FPL: Formasi 3-4-3 atau 3-5-2?

Tidak ada gameweek (pekan pertandingan, selanjutnya akan disingkat sebagai GW) ke-8 di akhir pekan ini. Berlangsungnya jeda internasional kerap menjadi hari-hari yang menjemukan bagi manajer FPL. Tapi, paling tidak, kita bisa mengisi waktu dengan berbagai hal, seperti mengecek kenaikan atau penurunan harga pemain yang terjadi hampir setiap hari, memantau kiprah para pemain Liga Inggris di timnas masing-masing. Semua bisa dilakukan untuk menyusun strategi terbaik bagi tim FPL kita.

Berbicara mengenai strategi dalam permainan FPL, penetapan formasi adalah bagian dari permainan FPL yang dapat menentukan poin akhir setiap pekan. Dengan cara menggeser pemain di posisi tertentu ke pemain yang posisinya berbeda, kita diberi kebebasan untuk mengganti formasi setiap pekan, selama tidak melewati batas (minimal tiga untuk posisi bek – kecuali memainkan chip All Out Attack, dua untuk posisi gelandang, dan satu untuk posisi penyerang).

Formasi sebagai Awal Mula Perencanaan Bujet

Penetapan formasi sebaiknya menjadi hal yang sudah direncanakan. Banyak keuntungan yang bisa didapat jika kita sudah tahu formasi apa yang akan kita gunakan setiap pekan. Salah satunya adalah pengalokasian bujet yang efektif.

Karena setiap pekan kita hanya dapat memainkan 11 pemain (kecuali kita memainkan chip Bench Boost), kita perlu mempertimbangkan untuk memaksimalkan potensi poin dari 11 pemain tersebut. Konsekuensinya, kita perlu menekan harga pemain yang akan sering menjadi cadangan menjadi semurah mungkin, tapi tetap dapat diandalkan sebagai pendulang poin di saat darurat. Di sinilah efektivitas bujet memiliki pengaruh besar.

Misalkan, jika kita memilih untuk bermain dengan formasi 3-4-3, maka kita akan mendapatkan satu kiper, dua bek, dan satu gelandang di bangku cadangan. Kita dapat mempertimbangkan untuk mengisi slot keempat pemain ini dengan pemain yang relatif murah dan sering bermain, contoh yang paling murah dan populer dari posisi-posisi tersebut adalah Jordan Pickford (Sunderland, £4.0), Jordi Amat (Swansea, £4.1), dan Darren Fletcher (West Brom, £4.4).

Mendapatkan pemain-pemain seperti ini akan memudahkan kita untuk mendapatkan pemain yang berharga lebih mahal tanpa harus kehilangan banyak biaya di bangku cadangan. Hal ini juga dapat mencegah pemakaian jatah transfer secara berlebihan. Sebagai contoh, meng-upgrade John Terry (Chelsea, £5.4) yang sedang cedera menjadi Kyle Walker (Tottenham, £5.9) akan menjadi perkara yang lebih mudah jika kita memiliki pemain seperti Amat dibanding Gareth McAuley (West Brom, £4.8) di bangku cadangan.

Meski harga mahal tidak selalu menjamin, kita semua dapat melihat bahwa pemain-pemain yang mendulang poin cenderung berharga mahal. Kalaupun ada pemain berharga murah yang sering mendulang poin besar, pemain tersebut biasanya akan mengalami kenaikan harga, yang membuat harga pemain tersebut menjadi jauh lebih mahal. Contoh termudah dalam kasus ini adalah Etienne Capoue (Watford, £5.2) yang sudah naik harga sebanyak tujuh kali – yang di awal musim memiliki harga £4.5 saja.

Memilih Formasi yang Tepat

Sulit untuk meragukan bahwa nyawa terbesar permainan FPL adalah terciptanya clean sheet, gol, dan asis. Dari tiga hal tersebut, clean sheet dapat menjadi hal yang bisa ditepikan mengingat clean sheet cenderung lebih sulit diprediksi. Selain itu, kita telah menjadi saksi penurunan drastis jumlah clean sheet di Liga Primer Inggris musim ini. Selama kondisi tersebut tidak berubah, adalah pilihan yang lebih masuk akal untuk memprioritaskan para penyerang dan gelandang di susunan 11 pemain utama tim FPL kita.

Dengan pertimbangan tersebut, tak heran 3-4-3 dan 3-5-2 selalu menjadi formasi yang jamak dipilih oleh para manajer FPL setiap tahun. Tapi, sebenarnya, manakah formasi yang lebih menjanjikan pada musim ini?

Popularitas 3-4-3: Dominasi para Penyerang

Di atas kertas, memakai tiga penyerang diharapkan dapat memperbesar peluang terjadinya gol, karena… ya… penyerang memang lebih dekat dengan gawang lawan.

Pada musim ini, formasi 3-4-3 tampak sebagai formasi yang populer. Mengambil sedikit sampel 10.000 manajer teratas di dunia per dimulainya GW7, sesuai keterangan dari fpldiscovery, 62.5% manajer menggunakan 3-4-3.

Sebenarnya, melihat tren formasi FPL dalam lima musim terakhir, 3-4-3 memanglah formasi yang turun temurun mendominasi. Hal ini cukup beralasan karena kalau kita melihat nama-nama pemain yang mejeng di tabel top skor Liga Primer Inggris dalam lima musim terakhir, para penyerang sangat mendominasi daftar tersebut.

Dari perspektif FPL, siapa yang rela ketinggalan mendapatkan poin-poin dari penyerang subur gol seperti Sergio Agüero, Robin van Persie, Luis Suárez, dan penyerang-penyerang lain yang sempat tancap gas dalam menunjukkan ketajamannya di kala itu, Daniel Sturridge dan Christian Benteke?

Faktor lain yang menyebabkan 3-4-3 lebih digemari adalah karena minim opsi penyerang yang sering bermain dengan harga kurang dari £5.5 pada saat itu. Dibanding posisi gelandang yang selalu menghadirkan pemain berharga £4.5 dan sering bermain, menggunakan penyerang dengan kisaran harga seperti ini membuat manajer akan “kehilangan” £1.0 yang idealnya bisa dipakai untuk meng-upgrade pemain lain.

Kunci Kebangkitan 3-5-2: Adama Diomande

Namun, semua berubah setelah negara api menyerang kemunculan Adama Diomande (Hull, £4.6) pada musim ini. Sempat dihargai £0.1 lebih murah di awal musim, Diomande adalah pemain yang selalu bermain sejak menit awal dari ketujuh pertandingan Hull. Perlahan tapi pasti, jumlah manajer yang memiliki Diomande sampai GW7 selalu meningkat. Meski dia bermain sebagai gelandang kiri dan hanya mencetak satu gol salto yang indah di GW1 sejauh ini, memiliki pemain seperti ini sebagai pemain “cadangan abadi” adalah hal yang sah dilakukan.

Nama lain yang bisa mengisi posisi ini adalah Cristhian Stuani (Middlesbrough, £5.1) yang mulai tampak sering dimainkan seiring kepergian Albert Adomah di posisi gelandang kanan. Tapi harganya yang lebih mahal bisa membuat manajer berpikir dua kali untuk membelinya ketimbang Diomande. Meski begitu, Stuani telah mencetak tiga gol sejauh ini. Apakah selisih £0.5 ini merupakan harga yang sepadan? Ini bisa dikembalikan kepada penilaian masing-masing manajer.

Dibandingkan dengan formasi 3-4-3 yang begitu mendominasi per dimulainya GW7, 3-5-2 bertengger di posisi kedua dengan 20.1%. Tapi, melihat kondisi sejauh ini, angka tersebut berpotensi akan meningkat.

Mengintip Tabel Top Skor Poin FPL

Mari kita sejenak melihat daftar top skor poin FPL sampai berakhirnya GW7, dari 20 pemain teratas, tercatat 13 pemain di antaranya berposisi sebagai gelandang, lima dari kategori penyerang, dan dua bek.

NoNamaKlubPosisi di FPLTotal Poin
1Alexis SánchezArsenalGelandang (MID)49
Kevin De BruyneMan CityGelandang (MID)49
3Etienne CapoueWatfordGelandang (MID)48
4Diego CostaChelseaPenyerang (FWD)46
5Raheem SterlingMan CityGelandang (MID)45
6Philippe CoutinhoLiverpoolGelandang (MID)43
James MilnerLiverpoolGelandang (MID)43
Heung-Min SonTottenhamGelandang (MID)43
9Laurent KoscielnyArsenalBek (DEF)42
Theo WalcottArsenalGelandang (MID)42
Romelu LukakuEvertonPenyerang (FWD)42
Michail AntonioWest HamGelandang (MID)42
13Adam LallanaLiverpoolGelandang (MID)41
14Kyle WalkerTottenhamBek (DEF)40
15Sergio AgüeroMan CityPenyerang (FWD)39
16Roberto FirminoLiverpoolGelandang (MID)38
Jermain DefoeSunderlandPenyerang (FWD)38
18Zlatan IbrahimovicMan UnitedPenyerang (FWD)37
Leroy FerSwanseaGelandang (MID)37
20Santi CazorlaArsenalGelandang (MID)36

Dominasi gelandang pada tabel di atas ini dapat menjadi indikator bahwa para gelandang bisa menjadi sumber poin yang lebih kuat. Dengan permainan yang ditunjukkan pada musim ini, tak heran gelandang-gelandang dari Arsenal (tiga), Liverpool (empat), dan Man City (dua) menjadi nama yang paling banyak menghiasi tabel tersebut.

Di luar kesebelasan tersebut ada juga pemain-pemain seperti Son Heung-Min (Tottenham, £7.6), yang berganti posisi pada musim ini di FPL dan juga Michail Antonio (West Ham, £7.3) yang saat ini sedang bersaing di jajaran top skor Liga Primer Inggris.

Gelandang Diuntungkan oleh Sistem Poin

Keuntungan lain memainkan banyak gelandang adalah karena FPL memberikan sistem poin yang lebih menguntungkan bagi para pemain yang berposisi lebih di belakang. Bek akan mendapatkan poin lebih banyak ketika mencetak gol dibanding gelandang. Begitu pula halnya dengan gelandang dibanding penyerang.

Dari kondisi inilah mengapa seringkali kita menemukan gelandang yang “hanya” mencetak dua gol ditambah clean sheet bisa menyaingi perolehan poin penyerang yang membuat hattrick. Mari kita simulasikan kejadiannya di bawah ini:

SkenarioSumber Poin
Theo Walcott mencetak dua
gol, bermain penuh, dan
Arsenal menang 2-0
Mencetak dua gol10
Clean sheet1
Bermain 90 menit2
Bonus poin3
Total poin16
Sergio Agüero mencetak
tiga gol, bermain penuh, dan
Man City menang 3-0
Mencetak tiga gol12
Bermain 90 menit2
Bonus poin3
Total poin17

Dengan melihat skenario di atas, kelebihan gelandang dalam mendapat tambahan poin saat meraih clean sheet menjadi faktor lain dibanding para penyerang. Bisa dibilang bahwa para gelandang “tidak perlu” bekerja sekeras penyerang untuk mendapat poin yang hampir sama.

Mencetak satu gol lebih sedikit saja sudah bisa menyaingi poin penyerang, bagaimana jadinya kalau dia mencetak jumlah gol yang sama?

Formasi Lainnya

Sudah barang tentu, kita juga dapat memilih untuk memainkan formasi selain yang sudah dibahas di atas. Dalam tabel yang sama, di bawah 3-4-3 dan 3-5-2, formasi lain yang lebih banyak digunakan per GW7 dimulai adalah 4-4-2 (6.3%) dan 4-3-3 (4.0%). Tanpa menghitung jumlah manajer FPL yang mengaktifkan chip All Out Attack (formasi 2-5-3), formasi-formasi ini cenderung mengandalkan clean sheet, yang – telah dijelaskan di atas, jumlahnya menurun drastis pada musim ini.

Meski pemain bertahan juga bisa mencetak gol (tengok Koscielny, Scott Dann, dan Patrick van Aanholt yang sudah mencetak dua gol pada musim ini), memilih terlalu banyak pemain bertahan juga memiliki kekurangan, yaitu, keharusannya menerima pengurangan poin jika kebobolan dua gol atau kelipatannya.

Jika kemampuannya mencetak gol tidak diiringi kemampuan timnya menjaga kesolidan lini pertahanan, hal ini tidak akan semenguntungkan prospeknya. Inilah yang membuat pemain bertahan tidak memiliki daya tarik yang terlalu kuat dibanding gelandang, selayaknya gelandang dibanding penyerang.

Kesimpulan

Meski penyerang tetap memiliki peluang mencetak gol yang lebih besar, musim ini bisa jadi adalah musimnya para gelandang dengan menggunakan 3-5-2. Gelandang, dengan kelebihannya dalam sistem poin di FPL, memiliki lima tempat yang dapat dimanfaatkan, lebih banyak dibanding penyerang yang hanya memiliki tiga tempat.

Harga gelandang juga cenderung lebih murah dan merata. Mengandalkan gelandang akan memberikan keuntungan dari sisi bujet agar sisanya dapat dipakai untuk meng-upgrade pemain lain.

Hal ini juga menyebabkan kita mau-tidak-mau harus lebih pintar dalam memilih bek. Sebaiknya mulai pilihlah bek yang kemampuan menyerangnya lebih mentereng daripada kemampuan bertahannya, seperti para bek sayap yang kerap naik (berharap asis umpan silang yang berbuah gol atau bahkan mencetak gol).

Tapi, pada akhirnya, memilih formasi akan ditentukan kembali kepada keyakinan para manajer FPL. Apakah para penyerang akan mendominasi kembali di pekan-pekan berikutnya? Ataukah tren berjayanya para gelandang akan terus berlanjut? Atau para bek dan kiper justru yang tiba-tiba bisa berjaya dengan rentetan gol ditambah clean sheet? Hanya waktu yang bisa menjawab.

Itu.

Komentar