Mengkhidmati 21 Tahun Hadirnya Sony PlayStation

Editorial

by Frasetya Vady Aditya

Frasetya Vady Aditya

Penyunting. Jangan terkekang; sepakbola cuma cangkang. Kontak: vady.aditya@gmail.com

Mengkhidmati 21 Tahun Hadirnya Sony PlayStation

Salah satu alasan Sony meluncurkan PlayStation 21 tahun lalu, bisa jadi karena kekecewaan atas gagalnya kerja sama mereka dengan Nintendo. Namun, di balik itu semua, kehadiran PlayStation, disadari atau tidak, memberikan dampak besar bukan cuma buat teknologi video game tetapi juga budaya di masyarakat.

Awalnya, kehadiran PlayStation menjadi berkah buat anak-anak untuk menyalurkan waktu luang dengan bermain video game. Lambat laun, PlayStation pun perlahan menjadi peluang usaha yang menjanjikan.

Peningkatan Kualitas


Terdapat perbedaan pengalaman bermain antara PlayStation (PS) dengan Nintendo ataupun Sega. Sebagian besar judul game menawarkan sensasi bermain dengan grafis tiga dimensi.

Penggunaan CD-ROM pada PS memungkinkan pengembang video game untuk memaksimalkan grafis dan memaksimalkan jalur cerita. Umumnya game di Nintendo dan Sega lebih bersifat ketangkasan tanpa alur cerita yang kuat, sebut saja Sonic di Sega dan Battle City di Nintendo.

Perubahan gaya bermain ini kian mengembangkan berbagai jenis game seperti first person shooter (FPS) sebagai pengembangan dari genre action. Ada pula pengembangan dari FPS, driving, dan role playing seperti judul Grand Thieft Auto.

Sony mampu melihat jauh ke depan dengan memberikan ruang bagi pengembang game untuk berkreasi. Penggunaan CD-ROM menjadi salah satu hal paling vital yang membuat PS bisa melesat jauh di depan Nintendo maupun Sega.

“Membuka Lapangan Pekerjaan”

Kehadiran PS memang terbilang unik. Di saat kata “rental” lebih lekat dengan “VHS” dan “Mobil”, khazanah kebahasaan kita kian bertambah karena kehadiran “Rental PS”. Saat PS mencapai kejayaannya, terutama setelah peluncuran PS 2, rental PS hadir di mana-mana, bak banjir di musim hujan.

Sebelum kehadiran PS, penulis jarang (atau mungkin tidak ingat) ada yang merentalkan console Nintendo maupun Sega. Mesin game yang biasa disewakan biasanya adalah “ding-dong” atau mesin arcade (meskipun mereka menggunakan judul game yang dikembangkan Sega).

PS pula yang membuat “Abang-Abang” dekat rumah penulis tidak lagi sekadar melamun mendengarkan lagu-lagu syahdu Sehila On 7. Hiasan bermacam-macam bungkus rokok di jendela rumahnya ia singkirkan dan digantinya dengan tulisan “Rental PS 2000/jam”.

Mayoritas pelanggannya adalah anak-anak SD. Mesti menjajakan dua buah PS, tetapi rumahnya selalu dipenuhi belasan hingga 20-an anak-anak. Meski terbilang mahal—karena di tempat rental lain harganya 1500—tapi anak-anak tetap memilih main di rental si abang tersebut karena meskipun lebih mahal 500 rupiah, tetapi si abang tersebut selalu memperbarui kaset dan menyediakan stik baru seandainya stik rusak.

Selain si abang-abang tersebut, PS juga memberi hiburan buat seorang ibu yang biasanya disibukkan dengan mengurus rumah. Kehadiran PS bukan cuma membuat suasana rumahnya menjadi semarak dengan teriakkan anak-anak, tetapi juga memberinya penghasilan.

Tentang Lapangan dan Keringat yang Hilang

Penulis sempat merasakan bagaimana serunya bermain sepakbola setiap sore di lapangan voli. Kalau sedang bosan, “gawang” dari sandal di ujung lapangan disingkirkan, dan permainan diubah menjadi “Bebentengan” atau bahasa “resminya” Gobak Sodor.

Setelah rental PS menjamur, usai pulang sekolah, rekan-rekan penulis mulai menghilang. Bahkan hingga Adzan Maghrib tiba, mereka tak kunjung datang. Acara berkeringat di lapangan pun bukan lagi menjadi acara rutin.

Lapangan sepakbola di belakang komplek diubah penggunaannya menjadi sawah, karena memang sudah jarang yang bermain bola setiap sore. Lapangan sepakbola di depan komplek sudah terlebih dahulu diubah menjadi rumah.

Memang tidak ada hubungannya antara PS dengan kian hilangnya lapangan bermain dan berolahraga. Namun, PS hadir di saat pembangunan memang tengah merajalela. PS menjadi sebuah hubungan sebab-akibat: Karena PS, anak-anak jarang bermain di taman; karena tidak ada taman, anak-anak bermain PS.

PS menjadi salah satu awal berubahnya cara bermain anak-anak. Kini, tongkat estafet tersebut diteruskan kepada internet yang menghadirkan game online. Saat rental PS mulai menghilang perlahan, anak-anak beralih ke warnet untuk “war” dengan “clan” lawan.

Maka, jangan aneh kalau anak-anak jaman sekarang bertubuh lebih gempal; mungkin karena mereka tak pernah keringetan.

Meningkatnya Kepuasan Bermain


foto: gamersyde.com

Game sepakbola pertama yang penulis mainkan amatlah aneh—saking anehnya penulis lupa apa nama game yang dimainkan di Nintendo tersebut. Dalam satu tim hanya ada empat pemain, termasuk satu kiper. Aliran bola terasa aneh karena mudah lepas dari kaki pemain. Saat melakukan tendangan pun bola tidak bisa diarahkan, karena ada penunjuk di garis gawang yang akan memandu ke mana bola akan bergulir.

Setelah game aneh tersebut, penulis menemukan kepuasan di “Tecmo World Cup Soccer” (Butuh 30 menit untuk mengingat dan mencari judul game ini). Gambar ditampilkan dengan eagle eye dan vertikal. Bagian paling keren adalah saat pertandingan dilanjutkan ke babak adu penalti. Ada sensasi tersendiri karena di judul game sebelumnya tidak ada fitur adu tendangan penalti.

Di genre sepakbola, sebenarnya ada banyak judul yang hadir di PS. Namun, mereka hampir kesulitan bersaing dengan pengembang Konami yang meluncurkan game International Superstar Soccer. Kesuksesan game yang dibuat Konami cabang Osaka tersebut, membuat Konami cabang Tokyo mengembangkan game serupa bernama Pro Evolution Soccer/Winning Eleven.

Bisa dibilang kalau Winning Eleven menjadi primadona para penggemar game sepakbola. Di tempat rental, judul game sepakbola lain umumnya tidak menghadirkan kepuasan yang sama. Kalau pun ada, bentuknya tidak serius seperti Super Shot Soccer yang memadukan sepakbola dengan kekuatan magis.

Perkembangan Winning Eleven sendiri tidak bisa dibilang masif meskipun hadir di console PS2. EA Sports pun hadir dengan judul “FIFA” yang merupakan saingan terberat Winning Eleven.

Dikembangkan oleh perusahaan besar, EA, FIFA melaju dengan cepat. Mereka mulai mengembangkan engine khusus untuk menyamai grafis dan gameplay senyaman Winning Eleven. EA pun menggelontorkan dananya untuk membeli hak komersial liga yang selama ini luput dari perhatian Konami. Untuk beberapa waktu, penggemar Winning Eleven pun mulai beralih ke seri FIFA yang tidak memerlukan patch tertentu untuk mengubah nama pemain, nama kesebelasan, dan kostum.

Ada banyak hal baru yang dilakukan EA seperti penyederhanaan pemilihan formasi, pengembangan fitur “Player Career Mode”, hingga pengenalan “overall” untuk angka total kemampuan pemain. Sebelumnya, pemain mesti melihat pada atribut tertentu, seperti kekuatan tembakan, kemampuan menggiring bola, di Winning Eleven, karena tidak ada jumlah total kemampuan pemain. Fitur-fitur ini juga yang kemudian diaplikasikan Konami pada Pro Evolution Soccer seri selanjutnya.

Baca juga: tentang game, film, dan hal-hal lainnya di sini.

Tergusur Oleh PC?

GTA V foto: usgamer.net

Penulis merupakan satu di antara ribuan anak yang sebenarnya mampu membeli console PS, tetapi orang tua lebih memilih membelikan komputer (Personal Computer/PC). Karena “keterbatasan” itulah, penulis mencari tahu bagaimana cara bermain game bukan di console.

Saat itu, penulis memiliki PC yang cukup powerful dengan tenaga Intel Pentium 4 yang mampu memainkan Winning Eleven 9 atau PES 5. Di saat rekan-rekan penulis lain menunggu berjam-jam di rental PS, penulis bisa main WE kapanpun yang penulis mau.

Dengan perkembangan teknologi, hampir semua game yang ada di console bisa dimainkan di PC. Bahkan game berat sekalipun seperti “Mad Max”, “Dying Light”, “The Withcer 3” ataupun “GTA V” bisa dimainkan di laptop bertenaga Intel i7 dengan prosesor hanya 1,8 GHz (dengan sejumlah penyesuaian).

Di sini penulis sempat berpikir, untuk apa membeli console kalau semua game bisa dimainkan di PC?

Faktanya, console dibuat sesuai dengan spesifikasi game. Dengan membeli PS4, Anda pasti bisa memainkan segala jenis game yang dikeluarkan untuk PS4. Berbeda halnya dengan PC yang terkadang “untung-untungan” apalagi jika mendapatkan game secara bajakan.

Misalnya, rekan penulis memiliki dua installer “Left 4 Dead 2”. Installer satu milik Skidrow dan lainnya milik 3DM. Menurut sang rekan, installer 3DM lebih mudah diinstal, kemungkinan disusupi Trojan lebih kecil. Nah, hal yang paling penting adalah meningkatnya frame per second (FPS) saat bermain, yang meningkatkan kepuasan bermain.

Belum lagi ada sejumlah judul game yang memang disiapkan untuk console, karena membajak game untuk console dianggap lebih sulit ketimbang membajak game untuk PC. Ini pula yang membuat tidak sedikit penggemar yang menganggap PES 2016 memiliki grafis yang buruk. Pasalnya, Konami memberikan sejumlah keistimewaan buat pengguna PES 2016 di PS4, seperti tampilan visual yang jauh lebih baik.

Baca juga: Apakah bermain game sama dengan olahraga?

***

Pekan lalu Sony mengumumkan jumlah penjualan PS 4 yang laku terjual 30 juta unit selama dua tahun peluncurannya. Berdasarkan Daily Mail angka tersebut menjadikan PS 4 sebagai konsol Sony paling laris karena merupakan console dengan perkembangan yang paling cepat dan paling kuat. Meskipun demikian, penjualan terbanyak Sony ada di PS2 dengan 150 juta unit. Namun, pada dua tahun awal, PS2 hanya terjual 28 juta unit.

Pada 21 tahun setelah peluncurannya, pada 3 Desember 1994 lalu, PS menjadi awal console dengan generasi terbaru yang menggunakan CD-ROM. Ia bahkan mampu mengubah cara bermain anak-anak kala itu. Meskipun mendapatkan ancaman dari kemajuan teknologi, masih ada banyak hal yang membuat console game bisa terus hidup.

Salah satu yang membuat PlayStation percaya diri saat pertama kali diluncurkan adalah beralihnya pengembang judul game “Final Fantasy 7”. Mereka lebih memilih PS sebagai console yang digunakan untuk game tersebut karena memberikan ruang untuk berkreasi.

Kini, para pengembang juga masih mengarahkan produknya pada console. Selain Konami dengan PES 2016-nya,  Rockstar pun tidak merilis “Grand Thieft Auto V” untuk PC terlebih dahulu, melainkan untuk PS3, PS4 dan XBOX.

Rental-rental PS mungkin tidak sebanyak dulu. Meskipun demikian, ia masih tetap eksis utamanya di daerah kos-kosan mahasiswa. Seperti halnya internet, buat sebagian orang bermain game adalah sebuah kebutuhan; bisa untuk melepas penat ataupun melipir dari beratnya beban kehidupan. Kehadiran PS memberi kenangan buat sebagian orang. Terima kasih Sony, jangan cepat-cepat mati.

foto: PS4daily.com




Komentar