Memangnya Kenapa Kalau Real Madrid Buang-Buang Uang?

Editorial

by Frasetya Vady Aditya

Frasetya Vady Aditya

Penyunting. Jangan terkekang; sepakbola cuma cangkang. Kontak: vady.aditya@gmail.com

Memangnya Kenapa Kalau Real Madrid Buang-Buang Uang?

Real Madrid adalah kesebelasan dengan sejarah panjang. Di Eropa, jejak sejarahnya jauh lebih mentereng ketimbang kesebelasan manapun. Real Madrid pula yang menginisiasi pertandingan sepakbola antarnegara di Eropa yang melahirkan Liga Champions seperti sekarang ini.

Menjadi satu hal yang mengejutkan jika ada penggemar El Real yang bosan dengan segala apa yang dimenangi Madrid selama ini. Madrid mencatatkan dua rekor sebagai pemegang gelar terbanyak di kompetisi domestik (La Liga Spanyol) dan di kompetisi Eropa;  Karena yang mestinya bosan adalah suporter klub (bermimpi) besar tapi berulang kali menelan kekecewaan.

Padahal, tujuan klub berkompetisi adalah untuk menjadi juara, bukan sekadar lolos secara konstan ke Liga Champions atau bertengger di atas kesebelasan rival.

Apakah pendukung Real Madrid bosan dengan cara El Real yang mengumpulkan para pemain bintang? Madrid dicela karena membeli Gareth Bale yang kemahalan. Tapi hey, bukankah 90 juta pounds itu merupakan bentuk kasih sayang El Real kepada kesebelasan lain?

Ah, saya pikir, stigma tersebut justru muncul dari pikiran Anda sendiri. Hey! Jadi, Anda pikir Olivier Giroud, Mesut Oezil, Samir Nasri, Robin van Persie, Thierry Henry, itu bukan bintang?

Semua kesebelasan di manapun selalu berusaha mengumpulkan para pemain bintang. Mereka adalah jaminan kualitas. Bedanya, ada yang mampu dan ada yang justru menjual bintang-bintangnya.

Cara pikir sederhananya adalah seperti ini. Manchester United menginginkan Anthony Martial yang sebenarnya diminati “klub lain”. Monaco meminta mahar 36 juta poundsterling. “Klub lain” tak sanggup membayar sementara MU, yang punya keuntungan 500 juta pounds, sanggup. Martial pun pindah ke Old Trafford.

Apakah ini tetap disebut sebagai mengumpulkan pemain bintang atau sekadar kecemburuan yang salah sasaran?

Semua kesebelasan memang mengumpulkan pemain bintang. Namun balik lagi kepada premis di atas: ada yang mampu dan ada yang tidak. Kesebelasan sekelas Leicester City saja sanggup mendatangkan Shinji Okazaki dan Gokhan Inler kok. Apa tujuannya? Tentu untuk meraih prestasi.

Logika ini yang digunakan oleh semua kesebelasan yang masih waras dan ingin memenangi liga. Apakah tujuan Leicester untuk memenangi liga? Tentu bukan, karena target mereka menjuarai Liga Primer Inggris adalah pada tahun 2018 (silakan mulai dianggap serius). Musim ini, mereka hanya ingin bertahan di Premier League dan mengumpulkan pundi-pundi uang untuk mendatangkan para pemain bintang yang lain.

Bagaimana dengan kesebelasan lain? Dalam dua musim terakhir, MU sudah mengeluarkan 200-an juta poundsterling untuk belanja pemain. Louis van Gaal seperti ingin membentuk kesebelasan dengan mental yang tak terjamah pengaruh David Moyes. Perlahan, musim ini MU mulai memperlihatkan kekuatannya.

Bagaimana dengan Chelsea? Menurut penulis, wajar jika Chelsea tak belanja pemain. Musim lalu, mereka tampil begitu digdaya. Lagi pula, siapa yang bisa menggantikan peran dan kualitas Thibaut Courtois, Branislav Ivanovic, Cesar Azpilicueta, Cesc Fabregas, Nemanja Matic, Eden Hazard, Oscar, dan Diego Costa seperti yang ditunjukkan pada musim lalu? Lagi pula mereka tak begitu bermasalah dengan cedera serta memiliki pelapis yang kualitasnya tak jauh-jauh amat.

Menjadi Kesebelasan Medioker

Real Madrid dianggap bisa berjaya karena pengaruh Jenderal Franco. Alasan tersebut bisa benar, bisa juga tidak. Sebelum Franco menggunakan Real Madrid sebagai kendaraan politiknya pada 1950-an, Real Madrid adalah kesebelasan yang disegani di Spanyol dengan prestasi yang mereka raih.

Jika dihitung hingga 1940 atau setelah meletusnya perang sipil di Spanyol, Los Blancos, meraih dua gelar Liga Spanyol dan tujuh gelar Copa del Rey. Sementara itu Barcelona memenangi satu gelar Liga Spanyol dan delapan gelar Copa del Rey. Ini menunjukkan bahwa sebelum ada pengaruh Franco pun, Madrid sudah menjadi kesebelasan yang kuat.

Lagipula toh bukan Madrid yang mendekati Franco, tapi sebaliknya. Franco justru lebih menyenangi Athletic Bilbao.

Hingga 15 tahun terakhir, selalu ada kesebelasan ibukota yang menjadi juara liga. Artinya, ada faktor tertentu yang membuat kesebelasan ibukota memiliki kekuatan seperti kekuatan finansial dan gengsi; dan bukan sekadar “Pengaruh Jenderal Franco”.

Logika kalau pengusaha minyak dari Timur Tengah mengakuisisi Getafe atau Rayo Vallecano membuat Madrid menjadi tim medioker, jelas merupakan sesuatu yang aneh. Tentu tidak perlu dijabarkan di sini keanehan macam apa dengan logika seperti itu. Ingat saja satu hal: Manchester City.

Sehebat apapun City, perlu puluhan, mungkin ratusan tahun, untuk membangun basis massa yang besar di seluruh dunia menyaingi klub besar yang sudah ada. Meski telah memulai berinvestasi di akademi, ada dua hal yang perlu terjadi: City harus terus menerus juara; Manchester United dan Liverpool jangan pernah juara. Titik.

Investasi sebesar apapun tidak akan bisa mengubah budaya masyarakat dalam satu malam. Dalam cerita rakyat manapun, pembangunan dalam satu malam kerap berakhir dengan kegagalan. Artinya, semua hal butuh proses dan pemikiran Madrid akan berakhir sebagai klub medioker jauh lebih janggal dari plot serial The Walking Dead.

Baca juga:

Tidak Ada Diktator Franco, Tidak Ada La Decima

Investor di Sepakbola dan Teluk Benoa


Menyalahkan Pelatih

Florentino Perez dikritik karena terlalu sering memecat pelatih yang gagal membawa Real Madrid juara. Anda barangkali belum pernah mendengar cerita-cerita tentang Leeds United ya?

Siapa yang mesti disalahkan jika sebuah kesebelasan kalah? Pelatih. Ya, segala hal yang terjadi di atas lapangan, adalah tanggung jawab pelatih. Saat anak asuhnya bermain buruk, kesalahan tetap pada pelatih. Mengapa ia menurunkan pemain tersebut? Mengapa anak asuhnya bermain buruk?

Wajar jika kegagalan suatu tim dilimpahkan kepada pelatih. Berengsek benar Claudio Ranieri sehingga ia dipecat oleh Yunani. Ini wajar karena ia membawa Yunani kalah dari Kepulauan Faroe. Keberengsekan tersebut justru tidak diambil pelajaran oleh Leicester City. Mereka malah merekrut Ranieri ke dalam tim, yang membuat The Foxes saat ini bertengger di peringkat pertama Liga Primer Inggris.

Memecat pelatih saat gagal menuhi target dan ambisi adalah satu hal yang wajar. Yang tidak wajar itu pelatih yang gagal bertahun-tahun tapi terus dipertahankan. Apakah Perez salah memecat pelatih? Coba dipikirkan kembali.

Medioker Betulan


Selain Baines, saya juga suka Paul Scharner, James McClean, Antonio Valencia, dan Roberto Martinez. foto: bbc.co.uk

Saya adalah penggemar klub kecil—benar-benar kecil—yang terjebak di antara panasnya persaingan Liverpool dan Manchester. Saya cukup tahu diri bahwa ekspektasi tiap tahunnya bagi kesebelasan saya tidaklah harus tinggi. Tidak terdegradasi pun sudah syukur luar biasa—meskipun sudah terdegradasi sih. Apalah arti menjuarai Liga Inggris kalau untuk bisa stabil di papan bawah saja hanya kesebelasan idola saya yang mampu melakukannya?

Klub saya ini hebat pake banget. Bagaimana tidak? Di daerah asalnya, jauh lebih banyak orang yang menonton rugbi ketimbang datang ke stadion sepakbola. Medioker? Oh jelas. Yang jelas klub ini bukan klub besar yang menyaru jadi klub medioker.

Tentu tidak membosankan menjadi suporter Real Madrid karena saya bukan suporter Madrid.  Bagaimana mengetahui kebosanan suporter Madrid sementara saya tidak berada di dalamnya? Bagaimana bisa mereka bosan saat mereka mampu membanggakan La Decima? Sebuah gelar prestisius yang cuma Madrid yang bisa melakukannya.

Satu hal yang wajar jika penggemar kesebelasan Liga Portugal di luar Sporting Lisbon, Porto, dan Benfica, tak memiliki optimisme tinggi bisa menjadi juara. Mereka memang dibentuk bukan untuk menjadi juara, melainkan sebagai pembibitan pemain muda potensial untuk dijual kembali.

Lain halnya dengan kesebelasan “Top Four”, atau “Top 20” (Biar semua kesebut) Liga Inggris. Mereka punya target juara setiap tahunnya. Harus ada perubahan pola pikir para penggemar, utamanya kesebelasan besar. Memangnya berkompetisi itu cuma mau menyaksikan kesebelasan lain parade juara? Berkompetisi ya untuk juara. Bukan sekadar menjadi penggembira dengan pencapaian minor yang telah ada.

foto: geocaching.com

Komentar